Perangi Pasukan Khusus TNI, Kabarnya Prajurit KKB Dibekali Ilmu Hitam Suanggi, Apa Itu?

Sabtu, 23 Januari 2021 – 14:00 WIB

Ilustrasi Suanggi (Foto: Istimewa)

Ilustrasi Suanggi (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Adakah di antara kalian pernah mendengar nama Suanggi. Terdengar asing, namun bagi masyarakat Indonesia Timur, nama tersebut cukup mengerikan. Kabarnya, Kelompok Kriminal Bersenjata di Papua, menggunakan Suanggi untuk menyerang hingga lari dari kejaran pasukan khusus TNI-Polri.

Meski belum dipastikan kebenaran informasi tersebut, REQnews mencoba merangkum seperti apa mitos Suanggi yang dikenal sebagai ilmu hitam tersebut. Yaps, ilmu hitam Suanggi banyak terdapat di Yapen Utara dan Yapen Barat.

Masyarakat di Yapen Barat, menyebut Suanggi dengan nama Nyata. Sementara di Yapen Utara, tepatnya di Poom, Suanggi biasa disebut Hinata.

Ilmu hitam yang diajarkan, membuat Suanggi sangat ditakuti masyarakat, karena banyak digunakan untuk membunuh orang, terutama yang tak disukai. Yang mengerikan, keberadaan Suanggi hidup berbaur bersama warga setempat, walau ada yang memang menetap di hutan.

Konon kabarnya, berubahnya manusia menjadi wujud Suanggi dilalui dengan proses yang panjang. Misalnya sang Suanggi harus memakan daun khusus hingga harus menyediakan tumbal dari keturunan atau keluarganya sendiri.

Cerita dari masyarakat setempat, Suanggi biasa melakukan aksi pada malam hari. Jika Suanggi ingin membunuh seseorang, hanya dengan menggunakan mantra atau berubah menjadi bayangan ke rumah korban. Biasanya, dalam beberapa hari kemudian korban sakit dikarenakan hal yang tak wajar.

Selain itu mayat korban ulah Suanggi, biasa dimakan oleh Suanggi untuk menambah ilmu mereka. Misalnya Suanggi akan makan isi perut korban dan sebagainya. Ciri-ciri Suanggi memang sulit dilihat secara kasat mata. Kebanyakan Suanggi hanya keluar di malam hari.

Berikut pengertian dan informasi lengkap terkait Suanggi yang dikutip REQnews dari Wikipedia, Sabtu 23 Januari 2021.

Suanggi atau Swangi (Suwangi) dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti burung hantu, juga mengacu kepada kepercayaan lama masyarakat suku Aru, ataupun roh jahat yang oleh suku Belu dipercaya selalu mengembara untuk memangsa manusia.

Namun, bagi masyarakat Indonesia Timur, Suanggi atau Swangi (Suwangi) menjadi nama yang terkenal sekaligus menakutkan. Ini karena Suanggi adalah sejenis ilmu hitam dan juga menjadi sebutan bagi dukun atau orang yang menekuni ilmu hitam tersebut. Suanggi ditakuti karena ilmu hitam ini biasa digunakan untuk membunuh musuh atau orang yang tak disukai. Penganut atau dukun Suanggi biasanya hidup di hutan dan terkadang hidup berbaur dengan masyarakat sekitar.

Beberapa daerah di Indonesia Timur khususnya Papua menyebut Suanggi dengan sebutan berbeda-beda, seperti di Yapen Barat, Papua, dengan sebutan Nyata dan di Yaben Utara, Papua, dengan sebutan Hinata. Beberapa daerah di Kabupaten Yapen, yakni Poom, Ansus, Woy, dan Marau, bahkan masih ditakuti warga untuk didatangi, karena ilmu Suanggi masih kental dimiliki oleh warga setempat.

Suanggi juga dikenal hingga di Kecamatan Tobelo, Halmahera Utara, Maluku Utara. Di daerah ini, Suanggi dikenal memiliki wujud seorang perempuan cantik dan mengincar laki-laki hidung belang untuk berhubungan intim. Setelah itu barulah Suanggi menyerang dan memakan alat kelamin pria tersebut. Di Nusa Tenggara Timur, Suanggi berwujud nenek cantik yang menyimpan sangat banyak kedengkian kepada warganya.

Nenek cantik yang hidup pada tahun 1895 di sebuah kampung di Nangaroro, Kabupaten Nagekeo, ini akhirnya ingin melampiaskan kedengkiannya terhadap seorang bapak yang pulang dari memancing dan berhasil mendapatkan banyak ikan. Kemudian sang nenek ingin agar sang bapak tersebut tidak lagi mendapatkan banyak ikan. Hingga suatu saat, sang nenek datang dan menyembah sebuah pohon besar selama 40 hari.

Setelah itu, sang nenek mendengar sebuah bisikan untuk segera pulang ke rumah dan mempraktikkan ilmu hitam yang diperolehnya. Namun, ketika mempraktikkan ilmu hitamnya tersebut, sang nenek akhirnya tewas dan arwahnya gentayangan mencari mangsa.

Pulau Suanggi
Masyarakat di Maluku Barat Daya menyebut Pulau Maupora sebagai Pulau Suanggi atau pulau para pemuja iblis. Nama lain dari pulau kecil ini juga sering dijuluki sebagai Pulau Batu Timbul (bahasa setempat Watupalpiali) karena bentuknya yang seperti gugusan batu karang yang muncul di tengah laut.

Pulau Suanggi dalam pandangan ilmu mistis, adalah sebuah istana megah yang terdiri atas tiga bagian, yakni bagian depan yang menjadi tempat persidangan kemudian bagian tengah tempat raja memimpin persidangan dan bagian belakang tempat pembantaian dan dapur tempat memasak.

Pulau ini juga disebut-sebut memiliki sebuah batu berbentuk meja persembahan (altar) darah para korban Suanggi untuk para penghuni alam gaib. Bahkan, menurut penuturan warga setempat bernama Jopie Dahoklory, jika salah seorang warga setempat sedang sakit krisis, arwah orang tersebut sudah dijemput 'kapal khusus' yang dikawal perahu-perahu kecil dengan nakhoda dan Anak Buah Kapal berupa arwah-arwah leluhur ataupun Suanggi-Suanggi dari Pulau Maupora.

Ciri-ciri
Suanggi biasanya melakukan aksinya pada malam hari. Salah satu ciri kedatangannya bisa terlihat seperti bola api yang melayang-layang di atas rumah sang korban. Suanggi dapat berubah bentuk dari bola api menjadi sosok hantu perempuan dengan wajah menyeramkan.

Di Maluku atau Halmahera, Suanggi diceritakan sering muncul pada malam hari, berwajah seram dengan kepala bersayap, yang terbang mencari mangsanya. Suanggi juga dikenal di daerah ini dengan ritual mistiknya, yakni menari di tengah bulan Purnama.

Dalam melakukan aksi pembunuhan, Suanggi menggunakan mantra yang mengubah dirinya menjadi bayangan ke rumah korban. Setelah itu, dalam beberapa hari, kondisi korban akan sakit secara tidak wajar dan tidak mampu dideteksi oleh ilmu medis. Secara kasatmata, ciri-ciri Suanggi tidak bisa dilihat. Suanggi hanya bisa dilihat oleh orang yang berilmu tinggi. Dalam penglihatannya tersebut, Suanggi seperti memiliki mata terang yang menyala, bergigi tajam, terkadang berbentuk hewan, dan memiliki aroma binatang kuskus.

Mitos lain menyebutkan bahwa Suanggi hanya bisa memakan daging orang-orang Papua karena rasanya lebih nikmat dari daging orang-orang suku lainnya.

Ilmu Suanggi
Ilmu hitam Suanggi menuntut orang yang mempelajarinya untuk menyediakan tumbal dari keluarganya atau keturunannya sendiri. Jika tidak kuat mental dan memenuhi salah satu persyaratan, orang tersebut bisa mengalami gangguan jiwa alias gila. Suanggi juga dituntut untuk memakan bagian tubuh mayat biasanya isi perut yang menjadi korbannya untuk menambah ilmu mereka. Perubahan manusia menjadi makhluk berwujud Suanggi melalui proses yang panjang, bahkan Suanggi disebut harus memakan daun khusus yang hingga kini masih misterius namanya.

Agar seseorang dapat menjadi Suanggi, orang tersebut harus belajar dengan Suanggi lainnya. Ujian terakhirnya berupa orang yang belajar ilmu Suanggi harus dimutilasi dan harus dapat hidup kembali dengan ilmu yang telah dia pelajari. Cara lainnya adalah dengan cara terkena efek dari daun Suanggi, yakni sejenis tanaman tertentu di mata manusia biasa, bisa berupa daun singkong atau daun pisang, namun dalam penglihatan para Suanggi daun singkong atau daun pisang itu sesungguhnya adalah daun Suanggi. Jika masuk ke dalam tubuh, orang yang makan daun Suanggi dapat terkena penyakit yang tidak bisa disembuhkan dan orang yang terkena efek dari daun Suanggi secara tidak langsung disebut sebagai Suanggi.

Penangkal
Beberapa informasi menyebutkan bahwa Suanggi memiliki beberapa pantangan, yakni jerut purut, ikan poro babi, dan coral laut. Jika Suanggi dihadapkan dengan benda-benda tersebut, Suanggi akan menjadi beringas dan jahat.

Korban isu
Sama seperti isu dukun Santet di Pulau Jawa, keberadaan Suanggi juga sering menimbulkan amuk massa, terutama di Rote, Alor, Kota Kupang, Ende dan Adonara-Kabupaten Flores Timur. Di Adonara sebagai contoh, dua rumah diberitakan hancur diamuk massa, karena penghuninya dituduh sebagai Suanggi. Dua rumah warga di RT 6/RW 12, Dusun Watodei, Kecamatan Adonara Barat, hancur. Bahkan, semua perkakas dapur dan rangka jendela untuk bangunan Sekolah Dasar Danibao turut dibakar oleh 100 massa.

Sebab-musabab kejadian diawali dari Florentina Perada, menantu dari Dominggus Libu Kleden, seorang kader Posyandu, yang diminta menyembuhkan seorang balita, dengan menggunakan jampi-jampi. Dominggus Libu kemudian melarang menantunya tersebut karena bukan seorang dukun. Namun, pihak keluarga terus memaksa untuk menyembuhkan sang anak. Hingga sehari kemudian, balita tersebut yang diduga menderita gizi buruk meninggal dunia dan beberapa anggota keluarganya mendatangi rumah Keleden dengan marah-marah dan menudingnya mennggunakan ilmu hitam.

Korban isu dukun Suanggi juga terjadi di Desa Sidabui, Kecamatan Alor Selatan, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur. Sebanyak sembilan orang telah tewas menjadi korban dari isu ini selama Januari-Februari tahun 1993. Bahkan, jika tidak berhasil diungkap oleh pihak kepolisian, terdapat daftar 38 nama yang dituding sebagai dukun Suanggi. Latar belakang kasus ini disebabkan banyaknya korban meninggal karena ketika itu sedang terjadi wabah malaria dan warga justru berobat ke Kepala Desa Sidabui yang juga berprofesi sebagai dukun. Ketika gagal mengobati, Kepala Desa Sidabui dengan enteng menuding pasiennya kena santet Suanggi.