Heboh Batuk Sembarangan Bisa Dipidana! Ini Fakta Hukumnya

Selasa, 23 Februari 2021 – 11:02 WIB

Ilustasi Batuk Sembarangan (Foto: Istimewa)

Ilustasi Batuk Sembarangan (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Jangan sembarangan batuk, apalagi batuk di depan muka orang lain. Pasalnya, seorang pria divonis empat bulan penjara oleh Mahkamah Agung Denmark karena batuk di depan petugas polisi sambil berteriak "corona" selama perhentian lalu lintas rutin pada Maret tahun lalu.

Kasus batuk di hadapan muka orang lain dan mengaku positif corona bukan kali pertama terjadi. Sebelumnya, seorang suspect Covid-19 di negara Inggris Raya juga dipenjara selama setahun setelah batuk di hadapan dua perawat rumah sakit pada April 2020 lalu.

Selain itu di Irlandia seorang pasien juga melakukan hal yang sama, sengaja batuk di depan perawat. Polisi di Inggris dan Wales juga melaporkan bahwa terdapat 200 kasus serupayang terjadi tiap minggu, sambil mengaku terinfeksi Covid-19. 

Bagaimana dengan aturan di Indonesia? Dapatkah seseorang dipidana karena batuk?

Seperti kita ketahui bersama, Indonesia saat ini sedang berjuang keras menanggulangi wabah pandemi covid 19. Tidak sedikit yang sudah menjadi korban akibat virus satu ini. Berbagai upaya telah dilakukan, namun angka covid 19 di Indonesia belum menunjukkan penurunan. 

Lantas, jika ada seseorang dengan sengaja batuk di muka orang lain bukankah hal tersebut termasuk menghalang-halangi upaya pemerintah dalam menangani covid 19 ?

Secara khusus memang tidak ada aturan yang menyebutkan bahwa batuk di muka orang lain membuat seseorang dapat dipidana.

Namun, jika seseorang meludah ke wajah orang lain maka dikenakan pasal 315 KUHP yang mengatur tentang penghinaan ringan:
“Tiap-tiap penghinaan dengan sengaja yang tidak bersifat pencemaran atau pencemaran tertulis yang dilakukan terhadap seseorang, baik di muka umum dengan lisan atau tulisan, maupun di muka orang itu sendiri dengan lisan atau perbuatan, atau dengan surat yang dikirimkan atau diterimakan kepadanya, diancam karena penghinaan ringan dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.”

Penghinaan yang dilakukan dengan perbuatan, misalnya dengan meludahi muka, atau sodokan, pukulan atau dorongan yang tidak seberapa keras, bisa juga dikategorikan sebagai penghinaan.

Sedangkan berkaitan dengan batuk, sebagaimana isi pasal 93 Undang-undang nomor 6 tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan yang berbunyi:

"Setiap orang yang tidak mematuhi penyelenggaraan Kekarantinaan Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) dan/atau menghalang-halangi penyelenggaraan Kekarantinaan Kesehatan sehingga menyebabkan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/ atau pidana denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

Adapun isi Pasal 9 yang dimaksud adalah:

Setiap Orang wajib mematuhi penyelenggaraan kekarantinaan kesehatan.

Kekarantinaan Kesehatan adalah upaya mencegah dan menangkal keluar atau masuknya penyakit dan/atau faktor risiko kesehatan masyarakat yang
berpotensi menimbulkan kedaruratan kesehatan masyarakat.

Sedangkan kedaruratan kesehatan masyarakat adalah kejadian kesehatan masyarakat yang bersifat luar biasa dengan ditandai penyebaran penyakit menular dan/atau kejadian yang disebabkan oleh radiasi nuklir, pencemaran biologi, kontaminasi kimia, bioterorisme, dan pangan yang menimbulkan bahaya kesehatan dan berpotensi menyebar lintas wilayah atau lintas negara.

Melansir dari surat telegram bernomor ST/3220/XI/KES.7./2020 tertanggal 16 November 2020 apabila dalam penegakan perda/peraturan kepala daerah tentang penerapan protokol kesehatan Covid-19, ditemukan adanya upaya penolakan, ketidakpatuhan atau upaya lain yang menimbulkan keresahan masyarakat dan mengganggu stabilitas kamtibmas, maka jajaran kepolisian berhak menegakkan hukum tanpa pandang bulu terhadap pelanggar protokol kesehatan yang mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat.  

Dalam surat tersebut tercantum pula pasal-pasal yang menjadi acuan, yakni Pasal 65 KUHP, Pasal 212 KUHP, Pasal 214 ayat (1) dan (2) KUHP, Pasal 216 KUHP, dan Pasal 218 KUHP. Kemudian, Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002, Pasal 84 dan Pasal 93 UU Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan. 

Adapun Pasal 212 KUHP mengatur perihal perlawanan terhadap pejabat yang sedang menjalankan tugasnya. Pasal tersebut mengatur, barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan melawan seorang pejabat yang sedang menjalankan tugas yang sah, atau orang yang menurut kewajiban undang-undang atau atas permintaan pejabat memberi pertolongan kepadanya, diancam karena melawan pejabat, dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan atau pidana denda paling banyak Rp 4.500. 

Kemudian, Pasal 216 ayat (1) KUHP menyebutkan, barangsiapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu, diancam dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau pidana denda paling banyak Rp 9.000. 

Perbuatan batuk di depan orang lain merupakan perilaku yang membahayakan kese;amatan dan kesehatan orang lain. Apalagi jika yang bersangkutan sengaja batuk dengan niatan ingin menularkan penyakit tertentu. 

Namun, kembali lagi nantinya akan dilihat apakah perbuatan tersebut terdapat unsur kesalahan, adanya niat dan kesengajaan,  termasuk perbuatan melawan hukum, dan tindakan tersebut dilarang menurut undang-undang yang berlaku.