Duet Maut Kopassus-Brimob di Operasi Madago Raya Bikin Ali Kalora Cs Lari Terbirit-birit

Rabu, 03 Maret 2021 – 18:00 WIB

Ilustrasi Brimob (Foto: Istimewa)

Ilustrasi Brimob (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Markas Besar Polri mengganti nama operasi Satuan Tugas Operasi atau Satgas Tinombala menjadi Satuan Tugas Operasi Madago Raya. Itu diumumkan oleh Asisten Kepala Kepolisian RI Bidang Operasi Inspektur Jenderal Imam Sugianto saat memberikan presentasi dalam Rapat Pimpinan Rabu 17 Februari lalu.

Adapun untuk masa tugas, sama seperti yang selama ini berlaku. Yakni tiga bulan, dan akan terus diperpanjang hingga seluruh jaringan teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) tertangkap.

Asal tahu saja, Madago Raya merupakan bahasa daerah Poso, yang secara umum artinya adalah baik hati dan dekat dengan masyarakat. Dari nama sebelumnya, Operasi Tinombala dibentuk untuk melumpuhkan dan menangkap jaringan teroris MIT yang dipimpin Santoso. Santoso telah tewas setelah baku tembak dengan satuan tugas Tinombala pada 18 Juli 2016.

Kini, operasi yang melibatkan gabungan pasukan Polri-TNI, bahkan melibatkan Kopassus TNI AD dan Brimob, bertugas untuk meringkus sisa-sisa teroris kelompok Santoso-Ali Kalora itu.

Dua bulan berlalu semenjak nama barunya diresmikan, Operasi Madago Raya sudah menunjukkan tajinya. Mereka berhasil membuat MIT terjepit dan menewaskan putra Santoso bernama Irul.

Irul tewas bersama seorang terduga teroris lainnya yakni Samir alias Alfin yang berasal dari Banten. Putra kesayangan Santoso itu Irul meninggal akibat bom yang melekat pada tubuhnya meledak.

Informasi itu pun diamini Kapolda Sulteng Irjen Abdul Rakhman Baso. "Kami baru saja usai melakukan identifikasi kepada kedua jenazah MIT. Keduanya adalah Samir alias Alfin dan Irul. Samir tewas tertembak dan Irul tewas akibat bom yang melekat pada badannya meledak," kata jenderal bintang dua tersebut.

Diketahui, baku tembak antara Satgas Madago Raya dan MIT terjadi di Pegunungan Andole, Desa Tambarana, Poso Pesisir Utara, pada Senin (1/3), sekitar pukul 16.30 Wita. Saat ini aparat Satgas Madago Raya masih melakukan pencarian di sekitar lokasi tersebut.

Dari lokasi tersebut, Satgas Madago Raya menyita sejumlah barang bukti, seperti senjata api laras panjang, GPS, bahan makanan, dan satu buah tas ransel milik kedua jenazah DPO MIT. Selain dua orang tewas, diduga satu anggota MIT lainnya mengalami luka tembak.

Pemimpin MIT Ali Kalora dikabarkan turut terkena tembakan aparat, tapi Polri belum dapat memastikan kabar tersebut. "Yang jelas dapat dipastikan dua dari DPO dari kelompok MIT yang meninggal dunia. Itu yang bisa dipastikan," ujar Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Rusdi Hartono kepada wartawan di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu 3 Maret 2021.

"(Kepastian Ali Kalora tertembak) sementara belum. Yang pasti dua itu," tambahnya.

Rusdi mengatakan dua anggota MIT yang tewas juga tak memiliki hubungan darah dengan Ali Kalora. "Yang tertembak 2. Memang itu kelompok Ali Kalora, tidak ada hubungan darah dengan Ali Kalora, bukan (juga) anaknya," tukas Rusdi.

Kini jumlah anggota kelompok MIT pimpinan Ali Kalora saat ini diduga tersisa 9 orang. "Yang jelas kelompok ini berjumlah 11. Kemarin tertembak 2 memang ada di dalam kelompok itu. Aktivitas-aktivitas MIT di Poso dan sekitarnya ada 11, dan 2 tertembak itu menjadi kelompok MIT pimpinan Ali Kalora. Kegiatan mereka pasti membuat resah masyarakat sekitar. Itu masuk kelompok mereka," katanya.

Dua jenazah anggota MIT pimpinan Ali Kalora yang ini akan diserahkan ke pihak keluarga masing-masing. Perihal pemakaman, Polri menyerahkan proses tersebut kepada keluarga kedua DPO, di mana berdasarkan hasil identifikasi Samir alias Alfin asal Banten dan Irul asal Poso.

"Kami serahkan kepada keluarga. Bagaimana keluarga memakamkan ya diatur keluarga. Kewajiban Polri setelah melakukan identifikasi menyerahkan kepada keluarga untuk dimakamkan. Sampai sekarang masih proses identifikasi," ujar Rusdi.