Positif COVID-19? Masih Boleh Kok Puasa Ramadan, Asal..

Rabu, 14 April 2021 – 09:31 WIB

Ilustrasi pasien Covid-19 (Foto: Istimewa)

Ilustrasi pasien Covid-19 (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Seiring dengan jumlah terkonfirmasi positif Covid-19 yang tinggi, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengingatkan bahwa ibadah puasa wajib sejalan dengan upaya penanganan kasus tersebut. 

Ketua Bidang Fatwa MUI Asrorun Ni'am Sholeh mengatakan bahwa orang yang terkena Covid-19 namun dengan gejala ringan, serta masih mampu beraktivitas, ibadah puasa tetap boleh dijalankan.

Namun, kata dia, wajib sambil mengisolasi diri agar tidak menularkan virus pada orang lain. Contohnya dengan tidak beribadah di masjid bersama orang banyak.

"Kita memiliki kewajiban untuk menyelamatkan jiwa karena itu bagian dari hal dasar yang dilindungi oleh agama," ujar Asrorun Ni'am dalam konferensi pers virtual Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Senin 12 April 2021. 

Kalau kita teledor, kata dia, bahkan mengabaikan keselamatan orang dengan aktivitas tidak disiplin, maka tentu itu dosa. "Bisa jadi kita puasa tapi sia-sia," kata dia. 

Sementara pada pasien Covid-19 dengan gejala berat, umat Islam diperbolehkan untuk tidak berpuasa. "Kalau berdampak parah, jika puasa berdampak parah pada kondisi kesehatan, maka dia boleh untuk tidak berpuasa," katanya. 

Namun, harus ada pertimbangan dari dokter sebagai rujukan. "Tentu pertimbangan dokter yang akan menjadi rujukan. Nggak bisa ngarang-ngarang sendiri," ujarnya. 

Itu Asrorun Ni'am katakan mengingat dalam dua tahun belakangan ini, dunia sedang dilanda pandemi Covid-19 yang belum terkendali. "Tetapi kalau tahun lalu, kemampuan untuk tracing, tracking, dan treatment itu belum cukup memadai. Kapasitas kemampuan deteksi dini, vaksinasi belum ada," katanya. 

Ni'am mengingatkan, angka kasus positif Covid-19 kini masih meningkat. Meski laju peningkatannya lebih lambat dibanding pada Ramadan tahun lalu, ibadah puasa wajib dijalankan beriringan dengan penanganan Covid-19.