Viral Prajurit Kopassus Tersesat 18 Hari di Hutan Papua, Ditemani Makhluk Astral

Jumat, 16 April 2021 – 13:50 WIB

Kopassus (Foto: Istimewa)

Kopassus (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI Angkatan Darat merayakan hari jadinya yang ke-69 hari ini, Jumat 16 April 2021.  Dalam HUT ke-69 ini REQnews mengulas kisah-kisah menarik pasukan baret merah ini. Salah satunya pengalaman Selvanus (bukan nama sebenarnya), seorang prajurit Kopassus yang sempat bertugas di Papua.

Kisah ini tertulis dalam buku 'Kopassus Untuk Indonesia' karya Iwan Santosa dan E.A Natanegara. Banyak cerita lucu, mistis, aneh dan unik dari prajurit Kopassus yang ditugaskan di Papua. Mulai dari prajurit heroik tergantung di ketinggian hampir 5.000 meter di dinding karang pergunungan Jayawijaya selama empat hari, carita prajurit yang tersasar di hutan yang hanya memakai kaos dan sepatunya untuk bertahan hidup, danberusaha mengevakuasi jenazah korban pesawat tanpa bantuan alat ekskavasi hanya menggunakan baju loreng.

Dikutip REQnews dalam buku Kopassus untuk Indonesia saat itu Selvanus ditempatkan sebagai komandan pos di Timika yang waktu itu sangat rawan karena keberadaan pentolan Organisasi Papua Merdeka (OPM), Kelly Kwalik dan Thadeus Yogi.

Selvanus bersama timnya yakni prajurit-prajurit terpilih dari Batalyon 752 Sorong diperintahkan untuk menggerebek markas OPM yang berjarak enam hari jalan kaki dari markas Selvanus. 

Petualangan itu dimulai pada bulan Oktober saat musim penghujan. Masuk hari kelima, mereka bertemu sungai dengan arus yang sangat deras. Mereka pun mencari ide untuk menyeberang dan memutuskan menggunakan tali.

"Kebetulan saya jago renang. Jadi ketika saya lihat ada prajurit yang masuk ke pusaran air, saya juga ikut masuk dan menyelam," ujar Selvanus.

Untuk diketahui ada salah satu anggota yang kesulitan berenang dan terseret derasnya arus dan masuk ke dalam pusaran air.

Namun, tiba-tiba sungai itu hilang dan menjadi air terjun. Selvanus pun menepi di tengah hutan Papua yang berada di ketinggian 4.000 meter di atas permukaan laut.

Sebagai seorang komandan, dirinya tak meninggalkan anak buahnya saat dalam bahaya. "Lima orang sudah menyeberang, tiga belum menyeberang dan saya hanyut bersama si Kopral. Ini adalah satu-satunya motivasi saya untuk bertahan dan mencari Kopral itu," katanya.

Pencarian terus dilakukan Selvanus hingga tak menyadari jika dirinya tersesat di dalam hutan belantara dan tidak menemukan jalan pulang. "Di kepala saya, saya harus mencari arah ke Timika untuk melapor ke komandan dan melanjutkan mencari anak buah yang hilang," ucapnya.

Hari keenam, Selvanus baru menyadari jika semua perlengkapan termasuk sepatunya hanyut dibawa arus sungai yang deras. "Hari keenam itu saya sudah melihat alam lain. Saya mulai mengobrol dan berkomunikasi. Mungkin itu hanya halusinasi saja. Namun anehnya, saya masih terus bisa berjalan, bahkan sampai hari kesebelas dan berhasil menyeberangi sungai dengan lebar 200 meter sebelum tiba di Timika." kata Selvanus.

Takdir baik berpihak pada Selvanus yang telah hilang di hutan Papua selama delapan belas hari. Akhirnya ia berhasil ditemukan oleh warga di Timika dalam keadaan selamat.

"Saat itu saya hanya tinggal tulang berbalut kulit, mata yang terus berputar liar dan telapak kaki yang bengkak akibat tertancap potongan kayu. Dokter yang memeriksa saya saat itu menyatakan bebas dari penyakit malaria dan cacing tambang," katanya.

Dalam buku juga diceritakan, selama berada di hutan dirinya selalu ditemani tiga orang. "Kalau matahari sudah terbenam, satu memijat kaki, satu memijat pundak dan satu lagi berbagi rokok sama saya. Alamnya sudah lain. Motivasi saya waktu sadar kalau jam dua belas siang tinggal bagaimana nasib pasukan saya?" kata Selvanus.

Hingga kini cerita Selvanus hilang belasan hari di tengah hutan belantara di Papua dan ditemukan selamat masih menjadi hal misterius.