Misteri Kekuatan Alam yang Tenggelamkan KRI Nanggala, Dua Laksamana TNI AL Kasih Jawaban Tegas

Kamis, 29 April 2021 – 08:45 WIB

KRI Nanggala (Foto: Istimewa)

KRI Nanggala (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Hingga saat ini belum diketahui pasti penyebab hilang dan tenggelamnya kapal selam militer KRI Nanggala 402 pada Rabu 21 April lalu. Kini muncul dugaan apa sebenarnya yang menjadi penyebab tragedi tersebut. 

Seperti yang diungkap Laksamana Muda TNI Muhammad Ali, TNI Angkatan Laut. Ia mengaku mendapatkan informasi dari pakar dan ahli bahwa tidak menutup kemungkinan KRI Nanggala 402 tenggelam disebabkan oleh kekuatan alam.

Kekuatan alam yang dimaksudkan para pakar dan ahli itu, lanjut Ali, adalah tentang adanya arus bawah laut sangat kuat. Karena bisa saja menarik kapal berbobot lebih dari 1.300 ton itu meluncur terjun ke dasar lautan.

Jika benar itu terjadi, menurut mantan komandan KRI Nanggala 402 pertama itu, kapal akan jatuh lebih cepat dari pada kondisi umum. "Faktor alam ini juga ada yang dinamakan internal solitary wave, yang berdasarkan informasi dari beberapa pakar dan ahli oseanografi, itu ada arus bawah laut yang cukup kuat yang bisa menarik secara vertikal. Jadi jatuhnya kapal ke bawah lebih cepat dari umumnya dan ini yang harus diwaspadai," kata Laksda TNI Muhammad Ali pada Rabu 28 April 2021.

Selain itu, TNI juga mendapatkan informasi penting lainnya terkait kondisi perairan utara Bali pada tanggal 21 April 2021, atau di hari KRI Nanggala 402 hilang.

Komandan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Danseskoal), Laksamana Muda TNI, Iwan Isnurwanto mengatakan, TNI mendapatkan data dari Satelit Himawari-8 milik Jepang dan Satelit Sentinel milik Eropa. Bahwa pada hari itu memang ada terjadi internal wave yang bergerak dari bawah ke utara.

"Kalau kita terkena internal wave, maka itu adalah kehendak alam tentunya para prajurit tidak bisa melakukan peran kedaruratan walaupun mereka sudah siap berada di pos tempurnya masing-masing," kata Laksda TNI Iwan.

Setelah dinyatakan hilang, KRI Nanggala akhirnya ditemukan di kedalaman 838 meter di bawah permukaan laut. Kondisinya sudah tak utuh, badan kapal selam buatan Jerman berusia 40 tahun tersebut sudah terbelah menjadi tiga bagian. Atas temuan itu TNI menyatakan 53 awak KRI gugur dalam status on eternal patrol.