DN Aidit, Penyebab Sukarno Peringati Hari Pancasila 1 Juni

Sabtu, 01 Juni 2019 – 09:00 WIB

Ilustrasi Pancasila (Foto: istimewa)

Ilustrasi Pancasila (Foto: istimewa)

JAKARTA, REQnews - Tahun 1945 lalu terjadi perdebatan hebat dalam penentuan Hari Pancasila. Ada yang bilang 1 Juni 1945 layak dijadikan hari falsafah negara lantaran pada tanggal tersebut, Sukarno berpidato tentang dasar negara yang dinamainya Pancasila, namun ada juga yang memilih tanggal 18 Agustus. Bahkan ada yang menyebut tanggal 1 Juni 1964.

Pemilihan tanggal 18 Agustus itu dilakukan karena saat itu kompilasi UUD 1945 ditetapkan pada 18 Agustus 1945. Pertanyaannya, bagaimana awal mula Hari Lahir Pancasila diperingati?

Menurut Mangil Martowidjojo, komandan Detasemen Kawal Pribadi Resimen Tjakrabirawa yang mengawal Sukarno, presiden pertama Indonesia itu kerap membicarakan Pancasila di mana-mana, di seluruh Indonesia. Cara itu dilakukan Sukarno agar falsafah negara tersebut diketahui luas oleh masyarakat.

“Saya yakin, rakyat Indonesia lebih mengerti tentang lahirnya Pancasila ini karena rakyat jelata mendengarkan sendiri pernyataan itu langsung dari mulut Bung Karno sebagai penggali melihat mutiara tersebut,” kata Mangil dalam Kesaksian tentang Bung Karno 1945-1967 .

Menurut sejarawan Peter Kasenda dalam Bung Karno Panglima Revolusi, pada tanggal 1 Juni 1945, melalui pidatonya Sukarno mengumumkan Lahirnya Pancasila kemudian diterbitkan Departemen Penerangan pada tahun 1947.

Sebelas tahun kemudian, ditahun 1958 dan 1959, Presiden Sukarno memberikan kursus-kursus di Istana Negara Jakarta, dan kuliah umum di Seminar Pancasila di Yogyakarta. Selamat Datang Pancasila 1 Juni 1945 dibukukan berjudul Pancasila sebagai Dasar Negara .

Sayangnya dia tersentak oleh pernyataan DN Aidit, ketua CC PKI. Semua itu bermula pada Mei 1964, saat Aidit mengajukan pertanyaan yang mempertanyakan Pancasila sebagai dasar negara.

Dalam pidato berjudul "Berani, Berani, Sekali Lagi Berani," Aidit mengatakan, "Pancasila mungkin untuk sementara dapat mencapai faktor penunjang dalam perakitan dan kekuatan Nasakom." Akan tetapi Nasakom menjadi kenyataan, maka Pancasila dengan sendirinya takkan ada lagi."

Menurut juru bicara departemen luar negeri pada era Sukarno, Ganis Harsono, mungkin karena sangat setuju dengan sikap Aidit yang menyelewengkan Pancasila itu, maka tiba-tiba presiden meminta dipindahkannya untuk membuka Hari Pancasila pada tanggal 1 Juni 1964.

"Hari itu adalah hari ulang tahun kesembilan belas Pancasila, dan banyak yang menganggap aneh, bahwa hari itu diperingati falsafah negara Indonesia secara resmi untuk pertama kalinya," kata Ganis dalam memoarnya, Cakrawala Politik Era Sukarno.

Syahdan, Hari Lahir Pancasila diperingati untuk pertama kali diadakan dengan upacara kenegaraan di Istana Merdeka. Slogan yang dipilih saat itu adalah Pancasila Sepanjang Masa.

Pada kesempatan tersebut, Sukarno menguraikan kembali bagaimana dulu dia merumuskan Pancasila, diikuti urut-urutan dikumpulkan silanya. Setelah membuat persetujuan dihebohkan itu, hubungan Aidit dengan Sukarno renggang.

Bahkan, kata Ganis, "Rasa kebencian yang timbul di antara Sukarno dan Aidit terlihat semakin nyata."

PKI kemudian berusaha membuat pelurusan atas bantuan Aidit dengan mengeluarkan Aidit Membela Pantjasila (1964). Aidit juga menyampaikan pandangannya tentang agama dan Pancasila dalam wawancara dengan Solichin Salam yang diterbitkan majalah Pembina, 12 Agustus 1964.

Sementara itu, Pergerakan Hari Lahir Pancasila kemudian dilaksanakan setiap tahun, setiap tanggal 1 Juni. Terakhir Sukarno memperingati Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni 1966. Setelah itu, Orde Baru menjadikannya tahanan rumah hingga diterima pada 21 Juni 1970.

Nasib Hari Pancasila Setelah Sukarno Meninggal

Tepat pada 17 September 1966 Menteri / Panglima Angkatan Darat Jenderal TNI Soeharto mendeklarasikan bahwa tanggal 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Sebuah peringatan kesuksesan Soeharto menggagalkan upaya kudeta 1965. Soeharto juga berhasil memperingati Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni 1967 dan 1968.

Rezim Orde Baru pun berupaya upaya melestarikan warisan Sukarno alias desukarnoisasi. Melalui Kopkamtib (Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban) membatalkan Hari Lahir Pancasila 1 Juni mulai tahun 1970. Justru yang diperingati Orde Baru adalah Hari Kesaktian Pancasila setiap 1 Oktober.

Namun pada 1 Juni 2016, Presiden Joko Widodo menyetujui Keputusan Presiden (Keppres) No. 24 Tahun 2016 yang menetapkan 1 Juni 1945 sebagai Hari Lahir Pancasila. Artinya, 1 Juni ditentukan sebagai hari libur nasional mulai tahun 2017. (RYN)