Menderita PTSD Usai Diperkosa Sang Kakak, Wanita Ini Bunuh Putranya dengan Suntikan Insulin

Kamis, 06 Mei 2021 – 20:33 WIB

Ilustrasi

Ilustrasi

SINGAPURA, REQnews - Kisah tragis dialami seorang wanita Singapura berusia 29 tahun. Ia divonis 5 tahun penjara pada 5 Mei 2021 lalu setelah dinyatakan bersalah telah sengaja menyuntikkan insulin ke tubuh putranya.

Dilansir dari The Straits Times, Kamis, 6 Mei 2021, wanita tersebut diketahui memiliki masa kecil yang kelam. Ia pernah diperkosa oleh kakak laki-lakinya sendiri hingga mengakibatkan trauma mendalam ketika dewasa.

Trauma tersebut menyebabkan dirinya depresi hingga tega menyakiti putranya yang berusia 7 tahun. Wanita itu menyuntikkan insulin ke tubuh putranya sebanyak 13 kali antara Januari sampai Juli 2019.

Akibatnya, bocah itu menderita sakit kepala hebat karena gula darahnya turun drastis. Namun beruntung, ia masih berhasil diselamatkan.

Diungkapkan Wakil Jaksa Penuntut Umum Bhajanvir Singh, wanita itu tinggal bersama orangtua dan tiga saudara laki-lakinya ketika dia mengalami pelecehan seksual. Kala itu, dia masih berusia antara 9 hingga 12 tahun.

Pasca kejadian itu, hubungannya dengan orangtua menjadi tidak baik. Wanita itu merasa orangtuanya memihak pada sang kakak yang telah melecehkannya. Sejak itu ia hidup terpisah dari keluarganya.

Tahun 2018, ia mendengar kabar bahwa kakak laki-laki yang telah memperkosanya telah menikah dan akan menjadi seorang ayah.

Mendengar kabar itu, ia marah. Ia merasa sang kakak tak pantas bahagia. Ia pun berencana membunuh ketiga anaknya, ibunya serta kakak yang memperkosanya, sebelum bunuh diri pada tahun 2019.

Ia berencana membakar smeua orang hidup-hidup, kecuali putra kesayangannya. Dia ingin putranya mati dengan rasa sakit yang lebih sedikit.

Karena itu, ia memutuskan menyuntikkan insulin ke tubuh putranya. Hingga akhirnya, suatu hari kondisi bocah itu kain memburuk. Ia mengalami sakit kepala parah, mati rasa, mual hingga fotosensitivitas.

Saat si bocah dirawat di rumah sakit, barulah terungkap jika bocah itu mengalami kelebihan insulin di tubuhnya. Dan di hadapan pihak rumah sakit, si ibu akhirnya mengakui bahwa ia telah berkali-kali menyuntikkan insulin ke putranya.

Usai kasus ini terungkap, si ibu didiagnosis mengalami gangguan depresi mayor dan gangguan stres pascatrauma (PTSD).

Kini, ia pun mendapat perawatan dari psikiater dan konseling khusus di penjara.