IFBC Banner

Hati-Hati, Hak Cipta Ini Belum Diatur di Indonesia

Minggu, 16 Mei 2021 – 12:03 WIB

Ilustrasi Artificial Intelligence / AI (Foto: Istimewa)

Ilustrasi Artificial Intelligence / AI (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews – Dalam era perdagangan global, sejalan dengan Indonesia yang telah menjadi anggota berbagai perjanjian internasional di bidang hak cipta dan hak terkait, sehingga diperlukan implementasi lebih lanjut dalam sistem hukum nasional.

Hal itu dilakukan agar para pencipta dan kreator nasional mampu berkompetisi secara internasional,  serta menjaga persaingan usaha yang sehat, berkeadilan, perlindungan konsumen dan perlindungan bagi usaha mikro kecil, kecil, menengah dan industri dalam negeri.

 

Namun sejauh ini, belum terdapat suatu pengaturan di Indonesia yang mengatur mengenai hak cipta yang diciptakan oleh kecerdasan buatan atau biasa dikenal dengan sebutan Artificial Intelligence (AI).

Ialah merupakan serangkaian perangkat dan prosedur elektronik yang memiliki fungsi, seperti namun tidak terbatas pada mempersiapkan, mengumpulkan, mengolah, menganalisis, menyimpan, menampilkan, mengumumkan, mengirimkan, dan/atau menyebarkan informasi elektronik, padahal perkembangan teknologi kini semakin pesat dan teknologi kini sudah dibekali dengan sistem yang dapat berpikir layaknya manusia, bahkan dapat menciptakan suatu ciptaan baru.

Perkembangan teknologi yang diciptakan manusia, sudah dapat memberikan hasil karya cipta di bidang ilmu pengetahuan, seni, dan sastra yang dihasilkan atas inspirasi, kemampuan, pikiran, imajinasi, kecekatan, keterampilan, atau keahlian yang diekspresikan dalam bentuk nyata yang dapat dilihat atau terdapat wujud nyata, namun sangat disayangkan bahwa ciptaan demikian yang diciptakan oleh AI, belum terdapat peraturan hukumnya, sehingga segala bentuk ciptaan tersebut, tidaklah dilindungi dan tidak dikenal oleh peraturan perundang-undangan di Indonesia.

 

Apabila dilihat dalam Undang-undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, Pasal 1 angka 2 menyatakan bahwa pencipta adalah seorang atau beberapa orang yang secara sendiri-sendiri atau bersama-sama menghasilkan suatu ciptaan yang bersifat khas dan pribadi, terlebih lagi dalam Pasal 1 angka 27 menjelaskan orang adalah orang perseorangan atau badan hukum. Sehingga perlindungan hak cipta hanya terbatas kepada manusia saja, dan tidak berlaku terhadap ciptaan yang diciptakan oleh AI.

 

Dikarenakan, berdasarkan definisinya, AI bukanlah manusia maupun badan hukum, namun merupakan program komputer. Mengutip dari definisi Kamus Besar Bahasa Indonesia, AI merupakan program industri dalam meniru kecerdasan manusia, seperti mengambil keputusan, menyediakan dasar penalaran, dan karakteristik manusia lainnya. Hal ini tentu akan memberikan ketidakpastian hukum dan dapat berujung pada kerugian secara ekonomis terhadap pihak pemilik AI yang memiliki kemampuan untuk membuat suatu ciptaan.

 

Hal ini tentunya akan memberikan dampak pada perkembangan kecerdasan buatan yang akan berkurang dalam membuat suatu ciptaan baru. Alhasil, calon pencipta (manusia) cenderung untuk membuat ciptaannya sendiri, meskipun dengan mempertimbangkan waktu dan cara yang lebih lama dibandingkan dengan suatu ciptaan yang dapat dilakukan oleh AI atau kecerdasan buatan dan sekaligus meninggalkan teknologi kecerdasan buatan karena tidak adanya perlindungan hukum dan tidak adanya jaminan perolehan kentungan secara ekonomis. Hak cipta atas kecerdasan buatan atau AI dengan sendirinya akan berkurang dan berdampak pada perkembangan teknologi menjadi terhambat.