Algojo Napi Cebongan Serda Ucok Direkrut Satuan Telik Sandi, Ini Kehebatannya

Jumat, 21 Mei 2021 – 19:48 WIB

Serda Ucok (Foto: Tangkapan Layar channel Masyarakat Nasionalis Batak)

Serda Ucok (Foto: Tangkapan Layar channel Masyarakat Nasionalis Batak)

YOGYAKARTA, REQnews - Serda Ucok Tigor Simbolon, anggota Kopassus Group II Kandang Menjangan Kartasura yang divonis 11 tahun kurungan dikabarkan telah bebas. Ia ditahan karena terbukti mengeksekusi empat tahanan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Cebongan, Yogyakarta. 

Ia dikabarkan bergabung kedalam satuan telik sandi atau intelijen. Satuan tersebut bergabung kedalam Grup 3/Sandhi Yudha yang bermarkas di Cijantung, Jakarta Timur.

Satuan tersebut memiliki tugas perang rahasia Clandestine Operation. Yaitu termasuk kemampuan dalam intelijen tempur atau combat intell, dan counter insurgency atau kontra pemberontakan.

“Belakang foto-foto bebasnya Serda Ucok viral di media sosial. Namun secara mengejutkan Serda Ucok berfoto bersama seorang pria disampingnya. Pada salah satu akun yang tidak ingin disebutkan namanya, dalam kolom chat menjelaskan bahwa Serda Ucok aktif di kesatuan TNI pasukan Bunglon. Lebih ke arah intel TNI, beliau sekarang nyaman di pasukan bunglon,” dikutip dari channel Masyarakat Nasionalis Batak, Jumat 21 Mei 2021.

Bahkan beberapa waktu lalu, foto yang menampakkan Serda Ucok bersama pimpinan Pondok Pesantren Ora Aji, Miftah Maulana Habiburrahman alias Gus Miftah viral di media sosial.

Beberapa tahun yang lalu, Pengadilan Militer (Dilmil) II-11 Yogyakarta memvonis bersalah Ucok dan dua orang lainnya yaitu Serda Sugeng Sumaryanto dan Koptu Kodik karena melakukan pembunuhan berencana terhadap empat tahanan.

Keempatnya adalah Yohanes Juan Manbait, Gamaliel Yermiyanto Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, dan Hendrik Benyamin Sahetapy Engel. Mereka dijatuhi hukuman terkait kematian senior Serda Ucok di Korps Baret Merah, yaitu Serka Heru Santoso.

Serda Sugeng Sumaryanto divonis delapan tahun kurungan, dipecat dan dikenakan biaya persidangan. Koptu Kodik dikenai enam tahun penjara, serta dipecat dan dikenai biaya persidangan.

Sementara, Serda Ucok Tigor Simbolon, tersangka utama yang merupakan eksekutor empat korban dijatuhi hukuman selama 11 tahun penjara. Lebih ringan satu tahun dari tuntutan 12 tahun kurungan.