Merayap Menahan Lapar di Hutan demi Pentolan Komunis, Cara Jenderal Kopassus Ini Bikin Takjub

Minggu, 06 Juni 2021 – 12:02 WIB

 Jenderal TNI (Purn) A.M Hendropriyono pernah merayap menahan lapar demi pentolan komunis (Foto: Istimewa)

Jenderal TNI (Purn) A.M Hendropriyono pernah merayap menahan lapar demi pentolan komunis (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Perjalanan hidup dan karier Jenderal TNI (Purn) A.M Hendropriyono selalu menarik untuk diulas. Pernah satu kejadian dirinya harus merayap menahan lapar di hutan demi pentolan Komunis.

Kejadian itu saat sang Jenderal di kesatuan pasukan elite Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD. Saat itu Hendropriyono banyak mengemban misi khusus dan berbahaya di medan operasi.

Dirangkum dari buku “Operasi Sandi Yudha” abituren Akademi Militer (Akmil) 1967 ini menceritakan bagaimana dirinya menjalani berbagai misi di sejumlah medan operasi dengan nyawa sebagai taruhannya.

Salah satu misi berbahaya yang dijalaninya adalah saat ditugaskan menangkap pimpinan pasukan Barisan Rakyat (Bara) Sukirjan alias Siauw Ah San dalam operasi pembersihan Pasukan Gerilya Rakyat Serawak (PGRS)/Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (Paraku) di belantara Kalimantan pada 1973 silam. 

Sambil berlari sekencang-kencangnya ke gubuk untuk menangkap Sukirjan alias Siauw Ah San. Upaya penangkapan terhadap orang paling dicari ini tidak berjalan mulus karena Sukirjan alias Siauw Ah San melakukan perlawanan. Meski pada akhirnya berhasil dilumpuhkan Hendropriyono setelah duel satu lawan satu.

Saat itu, Hendropriyono selaku Komandan Prayudha Halilintar Kopasandha (re: Kopassus) dan masih berpangkat Kapten menetapkan 4 Desember 1973 sebagai hari H dan pukul 04.00 adalah jam J waktu penyergapan terhadap Sukirjan alias Siauw Ah San Cs yang diketahui berada di kampung pinggir hutan Lo Nam Kok daerah Mempawah.

Bersama sejumlah anggotanya, Hendropriyono melakukan infiltrasi pada 3 Desember. Para prajurit pilihan ini menyisir hutan Kalimantan yang sangat lebat. Bahkan sinar matahari pun tak mampu menembus lebatnya pepohonan. Masing-masing prajurit membawa pisau lempar, radio handy talky (HT), senter batang sebesar pulpen, kompas, peta tembakau, garam, korek api, celdples berisi air dan P3K. Agar musuh tak bisa lolos, jarak antar pasukan pun sekitar 4 meter.

“Jarak ke sasaran sejauh 4,5 kilometer. Kami harus merayap pada pukul 16.00 melewati semak belukar yang lebat di sepanjang perjalanan,” katanya.


Agar tiba di sasaran tepat waktu, Hendropriyono mengatur kecepatan merayap.

Kode hijau kecepatan merayap 10 meter/menit. Kode kuning, kecepatan merayap 5 meter/menit dan kode merah yang berarti berhenti.

 

Setelah empat jam merayap di tengah gelap dan dinginnya malam, lagi-lagi Hendropriyono mendengar suara keras yang menerobos semak belukar. Dengan hati-hati, Hendropriyono pun mengecek asal suara tersebut, yang ternyata berasal dari babi hutan alias celeng.

“Tak terasa sudah lebih lima jam lamanya kami merayap. Saya lihat arloji menunjukkan waktu pukul 22.25 berarti masih jauh untuk membuka serangan pada jam 04.00. Berarti kami harus membeku lumayan lama di malam hari yang gelap dan dingin,” ucapnya.

Memperhatikan situasi, pria yang di kemudian hari menjabat kepala Badan Intelijen Negara (BIN) ini kemudian memutuskan untuk kembali merayap sekitar 100 meter. Saat itu, dari arah barat daya terdengar suara mendengkur. Tak lama suara itu kemudian memekik keras dan kemudian diam.

“Cak suoro opo iku, cak?” Tanya Hendropriyono kepada anggotanya Sersan Satu Yulius Data.
“Mungkin Pos pendengar sasaran Pak. Orangnya bersenapan api LE, tapi dia ketiduran,” kata Yulius.
“Heh?” kata Hendropriyono
“Sudah saya selesaikan, Pak,” kata Yulius.
“Mati?” Tanya Hendropriyono
“Siap,” jawabnya enteng.
“Kau bunuh?” Tanya Hendropriyono
“Betul,” jawabnya
“Astagfirullah..” saya menghela nafas panjang.

Setelah menunggu lama, jam J penyergapan yang ditentukan pun tiba waktunya. Namun, sasaran yakni Sukirjan alias Siauw Ah San belum juga terlihat di pondoknya.

Meski sempat kecewa karena Sukirjan alias Siauw Ah San tak berada di tempat persembunyian, namun Hendropriyono tidak putus asa dan menginstruksikan anak buahnya untuk tetap membeku. Penantian panjang itupun tak sia-sia, Pa Si Intel Kodim Mempawah Kapten Mahmud dengan nama samara Gatotkaca melaporkan jika Sukirjan alias Siauw Ah San baru saja kembali ke pondok tempat persembunyiannya.

 


Infiltrasi dengan merayap pun dilanjutkan dengan kecepatan kuning mendekat sasaran. Akhirnya pukul 15.00 sampailah di kaki bukit yang hanya berjarak 200 meter dari tempat persembunyian Sukirjan alias Siauw Ah San.

Dari lokasi itu, tampak sebuah gubuk yang mengarah arah timur. “Kami kemudian merayap 50 meter lagi,” ucapnya.

Namun, baru beberapa saat memerintahkan pasukannya untuk membeku, tiba-tiba terdengar gonggongan anjing penjaga gubuk persembunyian Sukirjan alias Siauw Ah San yang berloncatan mengarah ke pasukan. “Saya kemudian meneriakan komando: serbuuu…!.”