Kematian Wabup Sangihe Tinggalkan Misteri, Batuk Darah di Pesawat Usai Tolak Izin Tambang Emas

Jumat, 11 Juni 2021 – 13:31 WIB

Kematian Wakil Bupati Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, Helmud Hontong meninggalkan misteri. (Foto: Istimewa)

Kematian Wakil Bupati Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, Helmud Hontong meninggalkan misteri. (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Kematian Wakil Bupati Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, Helmud Hontong mendadak jadi sorotan.

Diketahui, almarhum meninggal dunia di pesawat pada Rabu, 9 Juni 2021, dalam penerbangan dari Denpasar menuju Ujung Pandang.

Kala itu, Helmud Hontong menaiki pesawat dengan nomor penerbangan Lion Air JT740 dan menempati Seat: 25E. Dia ditemani oleh Harmen Kontu selaku ajudan yang duduk di seat: 25F.

Setelah dokter melakukan pemeriksaan dinyatakan Helmud Hontong telah meninggal dunia.

"Jenazah saat ini sementara berada di tempat pemulasaran jenazah CV Daya Mitra Husada dipersiapkan untuk diterbangkan ke Manado terus ke Tahuna pada hari Kamis 10 Juni," kata Pejabat Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Kabupaten Sangihe, Maya Budiman, dikutip Jumat, 11 Juni 2021.

Kematian mendadak Wabup Sangihe ini pun meninggalkan sejumlah tanda tanya. Beberapa saat usai pesawat lepas landas, Helmud yang sebelumnya dalam kondisi sehat tiba-tiba batuk hingga mengeluarkan darah dari hidung dan mulut.

Jaringan Advokasi Tambang Nasional (Jatamnas) lantas menyoroti kematian Helmud Hontong dan menduga adanya keterkaitkan dengan penolakannya terhadap rencana tambang emas di Pulau Sangihe.

"Saya dengan tegas menolak keberadaan PT Tambang Mas Sangihe beroperasi di Sangihe. Apa pun alasannya. Saya berdiri bersama rakyat, karena rakyat yang memilih saya sampai menjadi Wakil Bupati," kata Helmud Hontong.

Beredar pula surat yang ditandatangani Helmud dan ditujukan kepada Menteri ESDM Indonesia untuk mempertimbangkan pembatalan izin operasi Kontrak Karya PT Tambang Mas Sangihe (PT TMS) yang diberikan Kementerian ESDM.

Penolakan Helmud didorong atas rasa kasihannya terhadap anak cucu generasi muda yang bakal terdampak pertambangan emas tersebut. Terlebih, Pulau Sangihe tergolong kecil sehingga pertambangan berpotensi merusak lingkungan dan mengancam kepunahan makhluk hidup langka.

Menurut Helmud, penguasaan wilayah tambang juga berpotensi "menggusur" warga lokal secara perlahan dari tanahnya sendiri.