Glodok, Berawal dari Kawasan Pengisian Air Hingga jadi Salah Satu Pusat Bisnis

Rabu, 16 Juni 2021 – 21:01 WIB

Dokumen istimewa

Dokumen istimewa

JAKARTA, REQnews - Banyak spekulasi tentang asal usul nama Glodok. Dua di antaranya, glodok berasal dari galodog, kata dalam Bahasa Sunda yang berarti tangga – terdiri dari tiga anak tangga – menuju rumah.

Kedua, glodok berasal dari kata grojok, suara air jatuh dari pancuran, atau dari ketinggian. Dulu, masyarakat sering menyebut air terjun dengan nama grojogan. Kata ini juga sering digunakan masyarakat Jakarta pinggiran untuk pintu air.

Spekulasi pertama mungkin tidak masuk akal. Sebab, tidak ada catatan orang Sunda bermukim di kawasan yang saat ini bernama Glodok sebelum VOC menggebah kaluar semua pemukim Tionghoa dari dalam kota Batavia pasca Pembantaian Cina 1740. Pendekatan kedua mungkin lebih masuk akal, namun tidak ada penjelasan bagaimana grojok menjadi glodok.

Menggunakan pendekatan kesalahan ucap, baca kasus terbentuknya nama Pinangsia, grojok menjadi glodok disebabkan kesulitan etnis Tionghoa mengucapkan ‘r’. Akibatnya, grojok menjadi glojok. Seiring waktu, mungkin tidak terlalu lama, kata glojok bermetamorfosa menjadi glodok.

Jauh sebelum 1741, belum ada nama glodok, karena waterbak – bak kayu penampungan air– belum dibangun di kawasan bernama Jl Pancoran saat ini. Waterplaats, atau dua pipa kayu yang mengalirkan air dari waterbak dan membentuk pancuran atau grojogan, sebelumnya terdapat di Groote Rivier, atau lebih tepatnya di Benteng Jacatra.

Waterplaats menciptakan pancuran air di pinggir kali. Di bawahnya, perahu-perahu – penjual air atau pelaut yang mendapat tugas mengisi air minum sebelum berlayar – antri mengisi galon-galon mereka dengan air.

Situs indischeliterairewandelingen.nl menulis ketika Kali Molenvliet memberi peluang mengambil air lebih dekat dibanding dari Banteng Jacatra, kini Jl Pangeran Jayakarta, VOC membangun barel pengisian dan waterbak di sisi kali di Jl Pancoran saat ini pada tahun 1672.

Waterbak, dengan dua pipa kayu menyuplai air ke perahu-perahu yang merapat silih berganti. Sejak saat itu, pedagang air – yang menggunakan perahu kecil – dan para pelaut meninggalkan waterplaats di Benteng Jacatra.

Pelaut harus menunggu berjam jam untuk mendapat giliran mengisi galon-galon mereka. Pedagang air selalu menjadi pihak yang minta diistimewakan. Akibatnya, sering terjadi perkelahian antara para pelaut dari berbagai negara dan para pedagang air yang biasanya warga lokal dari berbagai etnis, termasuk orang Tionghoa.

Pedagang mancanegara tak jarang menggunakan kesempatan mengambil air di waterplaats atau pancuran untuk menyeludupkan barang dagangan mereka ke pasar di Batavia. Biasanya, barang selundupan berupa rempah-rempah. Kegiatan ilegal di kawasan pancuran, kini Jl Pancoran, membuat lingkungan itu punya reputasi buruk.

Kata glodok diperkirakan telah ada sebelum Pembantaian Cina 1741, karena pemukim Tionghoa juga terlibat dalam penjualan air ke kapal-kapal yang berlabuh atau ke masyarakat pemukim di dalam kota Batavia. Semua itu berlangsung puluhan tahun, setidaknya sampai dua generasi – waktu yang cukup untuk memapankan kata glojok menjadi glodok.

Sekitar November 1741, atau sebulan setelah Pembantaian Cina yang menewaskan 5.000 sampai 10 ribu etnis Tionghoa – VOC mendorong pemukim Tionghoa yang tersisa ke pinggir barat daya Sirih atau Lijnkwatiersgracht, kini Jl Petak Baru, yang hanya 15 menit dari luar tembok kota. Empat tahun kemudian, rumah-rumah terbakar di kawasan Glodok dihancurkan, menciptakan tanah kosong cukup luas yang disebut Glodokplein.

Penamaan Glodokplein sekaligus pengakuan VOC terhadap nama permukiman baru etnis Tionghoa di luar tembok kota. Glodokplein berfungsi strategis, yaitu untuk memantau aktivitas apa pun yang dilakukan pemukim Tionghoa. Lebih dari itu, Glodokplein berada dalam jarak tembak meriam-meriam VOC yang diletakan di dekat waterplaats.

Sebelum tahun 1810, VOC dan pemerintah Hindia Belanda tidak menggunakan nama Kampung Cina untuk kawasan Glodok. Pada peta 1810 muncul nama Chineesche Kamp di dalam peta. Kamp kemungkinan berasal dari campo, kata dalam Bahasa Portugis.

Glodok berkembang sedemikian rupa dan menuliskan sejarahnya sendiri, sebagai kawasan bisnis paling ramai di Batavia. Perkembangan yang membuat terjadinya berbagai perubahan di lingkungan sekitar. Kanal-kanal yang pada era VOC masih berisi air tiba-tiba kehilangan fungsinya.

Areeksgracht berubah menjadi Kongsi Besar, kini Perniagaan Timur. Sirihgracht menjadi Jl Tongkangan, dengan sisi selatannya bernama Petak Baroe. Penduduk Tionghoa rupanya punya cara mengenang Pembantaian 1741, yaitu dengan memberi nama jalan – kini bernama Pantjoran – dengan Gang Kalimati, atau jalan kali kematian. Lingkungan Blandongan, sepanjang Krukut, juga berkembang. Blandongan berasal dari landung, kata dalam Bahasa Hokkien yang berarti jalan menikung.