Viral Sosok Jusuf Hamka, Anak Angkat Buya Hamka yang Ngaku Diperas Bank Syariah

Jumat, 23 Juli 2021 – 12:50 WIB

Direktur Utama PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP), Jusuf Hamka (Foto: Istimewa)

Direktur Utama PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP), Jusuf Hamka (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Sosok Jusuf Hamka memang sudah tak asing lagi. Pengusaha yang memutuskan menjadi seorang muallaf pada tahun 1981 silam itu, merupakan Direktur Utama PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP) yaitu perusahaan pengelola jalan tol.

Jusuf yang juga seorang pembina Yayasan Krematorium Dr Aggi Tjetje di Cilincing, Jakarta Utara itu mengaku pernah diperas oleh manajemen Bank Syariah. Pemerasan bermula ketika dia berniat melunasi utang-utang sejumlah perusahaannya, dan menyetorkan dana Rp 800 miliar.

"Saya minta keringanan bunga ditolak, waktu mau lunasi utang juga ditolak. Eh, pas saya minta balikin tuh duit ditahan Rp 120 miliar dengan alasan ini-itu. Intinya saya mau diperas oleh mereka dan saya sudah laporkan ke polisi. Saya tak akan mundur," kata Jusuf Hamka kepada wartawan, Kamis 22 Juli 2021.

Dari pengalaman itu, Jusuf dengan tegas menyebut bahwa Bank Syariah pada praktiknya ternyata lebih kejam dari bank konvensional. "Kalau pengusaha sekelas saya aja dikerjain, bagaimana saudara kita yang di bawah. Saya akan buktikan bahwa ini zalim," katanya. 

Mulanya, pria yang terlahir dengan nama Alun Joseph membahas terkait dengan tindakan sejumlah krematorium yang mematok tarif di luar kewajaran. Sebagai pengelola krematorium terbesar, terlama, dan berizin di Jakarta, ia pun turun gunung.

Ia pun mematok biaya kremasi untuk jenazah Covid-19 cuma sebesar Rp 7 juta. Padahal di tempat lain ada yang memasang tarif antara Rp 20-80 juta. "Biaya Rp 7 juta itu masih dapat untung kok, kenapa harus sampai puluhan juta. Keterlaluan sekali mengambil keuntungan di tengah duka keluarga. Padahal saya tahu izin mereka itu sebetulnya cuma sementara," katanya.

Jusuf mengungkap sebenarnya tarif kremasi jenazah biasa sebetulnya cuma Rp 4-5 juta. Namun, khusus untuk jenazah mantan pasien Covid menjadi lebih mahal dua juta karena ada biaya tambahan seperti untuk disinfektan, APD, dan honor tambahan petugas karena harus bekerja di malam hari. "Tapi kalau keluarga tidak mampu tinggal bawa surat keterangan akan saya gratiskan," kata dia.

Anak angkat Buya Hamka itu juga sempat mengancam akan menggratiskan semua jenazah Covid di krematorium Cilincing bila kartel kremasi masih mematok harga selangit. Karena, Jusuf mengaku mendapatkan jaminan dari manajemen CMNP, Artha Graha Peduli, Salim Grup, dan Yayasan Petak Sembilan untuk menanggung biaya kremasi.

Setelah adanya ancaman tersebut, Jusuf mengatakan pada Kamis pagi kemarin dia mendapat kabar tarif kremasi sudah normal. Namun, ia menyebut polisi tetap akan menindak mereka yang nakal.

Sekadar diketahui, sejak menjadi anak angkat Buya Hamka namanya berubah menjadi Jusuf Hamka. Karena, ketertarikannya terhadap agama Islam, ia pun akhirnya memutuskan untuk pindah agama.

Dalam kanal YouTube Trans TV Official, Jusuf menceritakan bahwa saat usianya 17 tahun, ia pergi ke kampun orang tuanya di Samarinda. Di kota ini, Jusuf bertemu dengan teman-temannya. Keputusan pindah agama, bermula dari rasa penasarannya terhadap sejumlah temannya yang selalu diminta untuk salat saat sedang bermain.

Rasa ketertarikan Jusuf terhadap Islam yang sudah memuncak menuntun langkahnya untuk pergi ke Al-Azharr dan bertemu dengan Buya Hamka. Saat bertemu dengan Buya Hamka, Jusuf mengungkapkan bahwa ia ingin mempelajari Islam terlebih dahulu baru memutuskan untuk muallaf.

Mendengar jawaban Jusuf, Buya Hamka langsung memarahinya dan mengatakan bahwa proses muallaf itu harus dilakukan di hari itu juga. Jusuf yang sempat terkejut kemudian mempertanyakan apa alasannnya.

"Saya bukan maksa. Kalau kamu mau masuk Islam, lakukan hari ini. Karena saya harus membimbing kamu, kalau nanti kamu pulang, kamu kena musibah, kamu kecelakaan meninggal, dosanya di saya," cerita Jusuf saat bertemu dengan Buya Hamka.

Saat itu juga, Buya Hamka menuliskan dua kalimat syahadat agar bisa dibaca oleh Jusuf. Sejak saat itu, Jusuf semakin memperdalam ilmu agamanya.

Namun, keputusan Jusuf untuk memeluk agama Islam sempat mendapat tentangan dari keluarganya. Keluarganya bahkan mengungkapkan pada Jusuf bahwa agama Islam adalah agama orang miskin.

Pada bulan Mei 2018 lalu, ia meresmikan Masjid Babah Alun, di kolong Tol Ir. Wiyoto Wiyono yang menghubungkan Cawang dan Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Masjid yang dibangun dengan anggaran Rp 5,5 miliar itu berlokasi di kolong tol, bergaya arsitektur China, dan berhias aksara Mandarin di atas pintu masuknya. Tak heran, sebab sang pemilik yaitu Jusuf Hamka, ialah seorang Tionghoa yang berpindah memeluk Islam di usia muda.