Geger Puluhan TKW di Irak Curhat Minta Pulang! Dikubur hingga Digunduli Majikan, KBRI Tak Merespons

Rabu, 15 September 2021 – 12:31 WIB

Puluhan TKW di Irak memohon bantuan untuk kembali ke Indonesia. (Foto: Istimewa)

Puluhan TKW di Irak memohon bantuan untuk kembali ke Indonesia. (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Puluhan tenaga kerja wanita atau TKW di Irak asal Cirebon meminta bantuan pemerintah agar secepatnya dipulangkan ke Indonesia.

Ini terjadi lantaran mereka ketakutan dengan kondisi Irak saat ini yang kerap dilanda serangan bom dan peperangan.

Tak hanya itu, para TKW ini sudah jengah lantaran kerap mendapat perlakuan tak manusiawi dari para majikannya selama bekerja.

Seperti yang dialami Yumi Asih binti Suryadi, salah satu TKW yang mengaku diberangkatkan ke Erbil, Irak dengan sponsor bernama Nurbaeti.

"Pak (Jokowi, red), saya minta pulang. Saya nggak sanggup di sini, pak," ujar Yumi dalam video yang beredar di jagat maya, dikutip Rabu, 15 September 2021.

Yumi mengaku kerap mendapat tindakan kekerasan dan dituduh telah mengambil sesuatu oleh majikannya. Ia mendapat perlakuan tak manusiawi seperti dikubur, digunduli hingga tangannya ditusuk pakai garpu.

"Walaupun (majikan, red) sudah tidak seperti itu, masih suka marah-marah," katanya.

"Saya minta tolong, saya pengen pulang. Saya pengen pulang, pak. Saya minta tolong bantuan Bapak (Jokowi, red)," lanjutnya.

Hal serupa juga dialami Anggi, PMI (Pekerja Migran Indonesia) lainnya asal Cirebon yang mengaku sudah setahun bekerja di Zahro, Irak.

"Saya mau meminta tolong kepada Bapak Presiden Jokowi, gubernur, bupati agar bisa memulangkan aku dari negara Irak ini," ungkap Anggi.

Menurutnya, negara Irak sedang tidak aman, penuh konflik, dan penuh dengan suara bom beserta tembakan. Anggi pun mengatakan, sudah pernah mengadu ke pihak KBRI namun tak kunjung direspons.

"Kami pernah mengeluh, para PMI di sini pernah mengeluh pada KBRI, tapi pihak KBRI tidak pernah merespon kami," ujarnya.

"Bahkan teman-teman para PMI yang sudah berusaha untuk mendapatkan perlindungan dari mereka, dari pihak KBRI, mereka harus kabur," jelasnya.

Bukannya memberikan solusi, kata Anggi, pihak KBRI justru mengembalikan urusan ini kepada pihak agensi.

"(Padahal) di sini mereka disiksa oleh para agensi," kata Anggi.

Para PMI akhirnya meminta bantuan kepada lembaga-lembaga di Indonesia, tapi hasilnya tetap nihil.

"Mereka pun tak tahu harus bagaimana," katanya.

"Kekerasan orang-orang agensi pun merajalela. Jadi saya pribadi dan para PMI memohon bantuan kepada Pak Jokowi, gubernur hingga bupati agar bisa memulangkan kami, sekian," tandasnya.