Desak Jokowi Beri Amnesti, Istri Dosen Saiful Mahdi: Hanya karena WhatsApp, Suami Saya Dipenjara

Rabu, 15 September 2021 – 15:31 WIB

Petisi #AmnestiUntukSaifulMahdi menggema di jagat maya. (Foto: Istimewa)

Petisi #AmnestiUntukSaifulMahdi menggema di jagat maya. (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Petisi #AmnestiUntukSaifulMahdi menggema di jagat maya. Tak main-main, petisi tersebut sudah ditandatangani 82.636 orang dari 150.000 yang ditargetkan.

Lewat petisi di laman Change.org tersebut, puluhan ribu orang mendesak Presiden Jokowi untuk turun tangan memberikan amnesti bagi Dosen Universitas Syiah Kuala, Saiful Mahdi yang kini dipenjara di lapas Banda Aceh.

Dalam laman petisi tersebut, istri Dosen Saiful Mahdi, Dian Rubianty menceritakan kronologi kejadin hingga sang suami dijebloskan ke penjara.

"Sekitar 3 tahun lalu, suami saya kritik kejanggalan dalam seleksi CPNS Universitas Syiah Kuala, tempatnya mengajar sebagai dosen. Ia sudah sampaikan kritik dengan cara yang baik dan bukan ke publik, tapi ke grup WhatsApp terbatas yang isinya akademisi kampus," demikian tertulis dalam petisi, dikutip Rabu, 15 September 2021.

"Karena kritik itu, seorang Dekan melaporkan suami saya dengan pasal UU ITE. Padahal suami saya tidak sebut nama orang, jadi tidak mencemarkan nama baik. Itu juga dilakukan karena tak dapat penjelasan setelah melapor ke pimpinan kampus," lanjut Dian.

Berbagai upaya pun sudah ia lakukan. Mulai dari mengumpulkan dukungan, audiensi, sidang banding, bahkan sampai kasasi ke Mahkamah Agung. Tapi, semuanya belum berhasil. Saiful Mahdi tetap dianggap bersalah dan dipenjara di lapas di Banda Aceh.

"Jujur saya kecewa. Bagaimana bisa seorang dosen yang ingin jaga integritas kampusnya malah dianggap mencemarkan nama baik?," kata istri Saiful Mahdi itu.

"Sampai sekarang, kejanggalan yang dikritik suami saya pun belum pernah dibahas dan diproses. Penegak hukum hanya fokus pada kriminalisasi suami saya yang berani suarakan kebenaran," tambahnya.

Dasar pemidanaannya pun, kata dia, pasal karet UU ITE yang diakui bermasalah bahkan oleh Presiden Jokowi sendiri.

"Tapi, kami tidak putus asa. Tepat dengan hari eksekusi suami saya pada 2 September, kami ajukan permohonan amnesti kepada Presiden Jokowi untuk membebaskan suami saya," ujarnya lagi.

"Ini adalah satu-satunya dan cara terakhir untuk membebaskan dan memulihkan nama baik suami saya. Saya ingin sekali negara betul-betul hadir," kata Dian.

Ia lantas membandingkan dengan kasus Baiq Nuril yang akhirnya menerima amnesti presiden usai menjadi korban UU ITE.

"Saya harap suami saya juga bisa mendapatkan pembebasan itu," ujarnya.

Karena itu, dia meminta dukungan dari publik untuk ikut menandatangani petisi #AmnestiUntukSaifulMahdi agar viral dan didengar Presiden Jokowi.

"Ini bukan hanya untuk Dosen Saiful Mahdi. Tapi untuk masa depan kebebasan akademik dan kebebasan berpendapat. Jangan lagi ada korban kriminalisasi UU ITE," tandasnya.