Welcome to Indonesia, Negara dengan Warga yang Ogah Vaksin karena Alasan Rumit

Rabu, 15 September 2021 – 23:00 WIB

Vaksin Covid-19 (ilustrasi)

Vaksin Covid-19 (ilustrasi)

JAKARTA, REQnews - Orang-orang Indonesia benar-benar aneh. Saat banyak warga dari berbagai negara menolak vaksinasi karena alasan yang lebih keren, seperti khawatir akan haram-halal, takut dengan zat-zat berbahaya dengan efek samping ganas, di negeri +62 ini, vaksin ditolak karena alasan rumit. Lho kok bisa?

Menurut survei dari KawalCovid19 dan Katadata Insight Center di laman Change.org, 34,3 persen masyarakat mengaku belum menerima vaksin karena merasa proses untuk mendapatkannya terlalu rumit.

Parahnya, meski pemerintah sudah berulang kali melakukan sosialisasi, ada 17,9 persen masyarakat tak tahu harus ke mana untuk mendapatkan vaksin.

"Sebanyak 16,5 persen masih menunggu vaksin yang lebih ampuh, dan 15,9 persen tak dapat antrean vaksin ketika sudah datang," ujar Manajer Riset Katadata Insight Center Vivi Zabkie dalam diskusi daring, Rabu 15 September 2021.

Survei ini melibatkan 8.299 responden yang tersebar di seluruh Indonesia, mulai 6 Agustus hingga 22 Agustus 2021 lalu melalui metode daring.

Dari hasil survei tersebut, 77,9 persen masyarakat menyatakan telah divaksin. Sementara 22,1 persen belum.

Sebanyak 69,8 persen dari masyarakat yang sudah mendapatkan vaksin mengaku divaksin karena merasa bertanggung jawab sebagai warga negara untuk bersama melawan Covid-19. Kemudian, 51,4 persen mengaku mau divaksin untuk melindungi keluarga dan 38 persen menyatakan agar dapat beraktivitas lagi.

"Namun, 5,9 persen memutuskan untuk vaksin karena merasa dipaksa atau diwajibkan," ujar Vivi.

Kemudian, dalam survei tersebut, sebanyak 38,3 persen mengaku tidak bersedia divaksin. Alasan utama atau mendapat suara 70,2 persen adalah karena merasa imun kuat sehingga tidak perlu divaksinasi.

Sebanyak 53,7 persen responden merasa tidak percaya dengan kinerja dan efektivitas vaksin dan 12,4 persen karena memiliki penyakit bawaan. Bahkan, adapula yang masyatakat yang mengaku tidak percaya vaksin.

"Sebanyak 48,4 persen responden menjawab setelah divaksin pun masih bisa terkena Covid-19. Kemudian 41 persen beranggapan bahwa kekebalan dapat dibentuk secara alami melalui herd immunity," ucap Vivi.