Ngeri! Cara Sadis Taliban 'Merehab' Para Pecandu Narkoba, Digunduli hingga Dicambuki Secara Brutal

Selasa, 12 Oktober 2021 – 08:30 WIB

Cara sadis Taliban menangani para pecandu narkoba di Afghanistan. (Foto: Istimewa)

Cara sadis Taliban menangani para pecandu narkoba di Afghanistan. (Foto: Istimewa)

AFGHANISTAN, REQNews - Publik dunia dibuat terhenyak melihat beredarnya sejumlah potret yang memperlihatkan kondisi tragis para tahanan narkoba Afghanistan di bawah kepemimpinan Taliban.

Taliban melakukan sejumlah aksi sadis, mulai dari digunduli hingga dicambuki secara brutal, kepada mereka yang menjalani rehabilitasi narkoba.

Dalam foto yang beredar, tampak wajah-wajah suram para pecandu narkoba yang sedang menjalani rehab di Rumah Sakit Medis Avicenna, Kabul. Nasib mereka kini berubah usai Afghanistan dikuasai Taliban.

Menurut informasi, kini setiap malam para polisi menyisir ibukota untuk memburu ratusan tunawisma yang kecanduan heroin dan metamfetamin.

Mereka lantas ditangkap, dipukuli dan dibawa ke pusat-pusat rehabilitasi secara paksa. Barang-barang mereka dibakar.

Menjelang tengah malam, para pecandu itu diarak ke pusat perawatan kecanduan. Mereka ditelanjangi, dimandikan lalu digunduli.

"Di sini, program perawatan 45 hari dimulai," kata dr. Wahedullah Koshan, kepala psikiater, dikutip Selasa, 12 Oktober 2021.

Para pria akan dipaksa untuk menjalani pemulihan dengan perawatan medis yang sangat minim untuk membantu mereka mengurangi ketidaknyamanan atau rasa sakit.

Dokter di rumah sakit mengungkapkan bahwa pencandu narkoba menderita berbagai bentuk penyakit mental. Mereka duduk di dinding batu dengan tangan terikat dan disuruh mengendalikan diri atau menghadapi cambukan yang lebih brutal.

Metode pengobatan berat itu terpaksa disambut oleh beberapa petugas kesehatan karena mereka tidak punya pilihan selain beradaptasi dengan pemerintahan Taliban.

"Kami tidak berada dalam demokrasi lagi, ini adalah kediktatoran," terang dr. Fazalrabi Mayar yang bekerja di fasilitas perawatan.

"Dan penggunaan kekuatan adalah satu-satunya cara untuk memperlakukan orang-orang ini," lanjutnya.

Tragisnya, sebagian besar keluarga pria-pria yang mengalami kekerasan tersebut tidak tahu di mana mereka berada. Di ruang tunggu rumah sakit, orang tua dan kerabat bertanya-tanya apakah orang yang mereka cintai yang hilang diambil selama penggerebekan malam.

Seorang ibu bahkan menangis setelah dipertemukan kembali dengan anaknya yang berusia 21 tahun yang hilang selama 12 hari (dia telah dibawa ke pusat rehabilitasi beberapa minggu sebelumnya).

Sebagai informasi, segera setelah Taliban mengambil alih kekuasaan pada 15 Agustus 2021 lalu, Kementerian Kesehatan Taliban mengeluarkan perintah kepada pusat-pusat rehabilitasi untuk mengendalikan masalah kecanduan di negara itu.

Seperti diketahui, ladang opium Afganistan yang luas adalah sumber dari mayoritas heroin dunia dan negara itu telah muncul sebagai produsen sabu yang signifikan. Kedua faktor tersebut telah memicu kecanduan besar-besaran di seluruh negeri, sementara penggunaan narkoba bertentangan dengan doktrin yang selama ini digembar-gemborkan Taliban.