Siklus 100 Tahun Tsunami Menghantui Pesisir Jawa, BNPB Ingatkan soal Ini

Jumat, 15 Oktober 2021 – 01:01 WIB

Ilustrasi tsunami

Ilustrasi tsunami

JAKARTA, REQnews - Peringatan BMKG akan potensi gempa besar yang dapat memicu tsunami di pesisir selatan Pulau Jawa masih menjadi kekhawatiran masyarakat.

Apalagi, sebelumnya, potensi gempa yang diperkirakan berkekuatan Magnitudo 8,7 itu mengacu pada siklus 100 tahunan.

Menanggapi ancaman itu, Plt Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan, hingga kini belum ada kajian yang ilmiah terkait siklus 100 tahunan tersebut.

Ia menjelaskan, bahwa butuh 400 tahun untuk lempeng di selatan Jawa mengeluarkan energi dengan kekuatan lebih dari Magnitudo 8.

"Ini bisa terjadi kalau sih gerakan lempeng darat ini tetap bergerak sampai waktu tertentu karena dia kan harus ngumpulin energi. Nah ketika kita hitung yang 8,8 di selatan Jawa Barat dan 8,9 di selatan Jawa Timur itu bisa terkumpul dalam magnitudo segitu dalam rentang 400 tahun minimal," kata Muhari, seperti dikutip dari Liputan6, Kamis 14 Oktober 2021.

Lebih lanjut, Muhari membenarkan soal potensi gempa dalam periode 100 tahun. Hanya saja, bila mengacu pada riset, kekuatannya kemungkinan tidak akan sampai Magnituo 8.

"Jadi dalam segmen Jawa Barat bisa enggak lepas gempa dalam periode ulang 100 tahun, ada tapi kita enggak bicara 8,8, gitu," ujar dia.

Muhari menerangkan, riset yang dilakukan BNPB berdasarkan data dari perhitungan Sistem Pemosisi Global atau GPS dan data relokasi pusat gempa.

Kemudian, ia menggarisbawahi bahwa data gempa di Jawa masih sedikit, kalau tak mau dianggap kurang mumpuni untuk membaca pola keterulangan gempa di sana. Sehingga BNPB tak mengetahui kapan terakhir kali gempa basar di pesisir selatan Jawa itu terjadi.

Ada catatan dari peneliti luar yang bersifat dokumentasi cerita. Pada 1921 tercatat ada rekaman cerita air naik di Pangandaran dan Cilacap. Estimasi kekuatan gempa saat itu mencapai magnitudo 7,5.

"Di bawahnya lagi ada enggak, ada report Belanda waktu itu air naik di sekitar Kebumen, Kulonprogo di 1859 dan 1840. Ke bawahnya kita enggak punya nih," ujar pria yang akrab disapa Aam tersebut.