Ternyata Ini Alasan Gelar Pahlawan Nasional Tak Diberikan untuk Tokoh yang Masih Hidup

Rabu, 10 November 2021 – 13:15 WIB

Ir. Soekarno (Foto: Istimewa)

Ir. Soekarno (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945 situasi Indonesia belum stabil dan masih bergejolak, terutama antara rakyat dan tentara asing. Salah satunya terjadi di Surabaya, Jawa Timur terjadi pertempuran dengan tentara Inggris yang menewaskan ribuan orang pada 10 November 1945.

Tokoh perjuangan yang menggerakkan rakyat Surabaya antara lain Sutomo, K.H. Hasyim Asyari, dan Wahab Hasbullah. Korban dari Indonesia diperkirakan 16.000 dan pihak Inggris sekitar 2.000 orang.

Karena itulah, setiap 10 November bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan. Namun, hingga kini masih banyak para tokoh nasional yang belum memiliki gelar pahlawan, karena terdapat aturan terkait pemberian gelar pahlawan, hanya bagi mereka yang sudah meninggal.

Tetapi apakah mereka tokoh-tokoh yang masih hidup bisa menyandang gelar pahlawan?

Sejarawan JJ Rizal pada 2018 pernah mengatakan bahwa gelar pahlawan merupakan warisan dan di Indonesia tidak ada pahlawan yang masih hidup. Menurutnya, gelar pahlawan hanya diperuntukan bagi mereka yang sudah meninggal.

“Tidak (ada), itu aturan dalam dewan gelar dan sepanjang pengetahuan saya memang tidak pernah ada (gelar pahlawan diberikan kepada mereka yang masih hidup),” kata JJ Rizal kepada Rakyat Merdeka, dikutip pada Rabu 10 November 2021.

Karena keputusan pemberian gelar, juga diambil berpedoman pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan. 

Pada Pasal 1 angka 1 yang dimaksud dengan gelar adalah penghargaan negara yang diberikan Presiden kepada seseorang yang telah gugur atau meninggal dunia atas perjuangan, pengabdian, darma bakti dan karya luar biasa kepada bangsa dan negara.

Sementara Peneliti Utama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Ahli Sejarah Indonesia, Asvi Warman Adam pada 2018 juga pernah mengatakan alasan mengapa gelar pahlawan tidak diberikan kepada orang yang masih hidup.

Menurutnya gelar tersebut tidak bisa dicabut, untuk itu perlu ada pertimbangan dalam memberikan gelar kepada seseorang. “Gelar pahlawan nasional itu tidak bisa dicabut. Kalau diberikan kepada orang yang masih hidup, setelah dia dapat gelar dia terlibat narkoba, bagaimana?” kata Asvi.

Bahkan sebelumnya pada tahun 2013 Asvi pernah berpendapat sebaiknya pemerintah memberikan gelar pahlawan nasional kepada tokoh-tokoh bangsa setelah wafat dalam rentang waktu 10 hingga 15 tahun.