5 Fakta Menarik R Soeprapto, Jaksa Berwibawa yang Berani Tolak Perintah Bung Karno

Kamis, 02 Desember 2021 – 14:10 WIB

Bapak Kejaksaan RI, R Soeprapto (Foto: Istimewa)

Bapak Kejaksaan RI, R Soeprapto (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Pada hari ini 2 Desember 2021, tepat 57 tahun meninggalnya R Soeprapto. Ia merupakan satu-satunya Jaksa Agung yang menjabat selama sembilan tahun, yaitu pada periode 2 Desember 1950 hingga 4 Juli 1959.

Pria kelahiran 17 Maret 1896 itu, menamatkan pendidikannya di ELS (Europesche Lagere School) pada tahun 1914 dan melanjutkan studi ke Sekolah Hakim di Batavia.

Setelah lulus, ia pun langsung ditempatkan di Landraaad (Pengadilan untuk kaum Bumi Putera) di Tulungagung dan Trenggalek, sejak saat itulah karirnya mulai berkembang.

Kali ini, REQnews.com telah merangkum 5 fakta menarik dari R Soeprapto. Simak yaa!

1. Sosok Jaksa Berwibawa

Soeprapto dikenal sebagai sosok yang memiliki kewibawaan besar dan gigih dalam mempertahankan hukum dan setiap undang-undang yang berlaku. Ia tak segan mempertaruhkan nyawanya demi mempertahankan keyakinannya.

Seperti kesaksian Prof Seno Adjie, mantan Menteri Kehakiman era Soeharto yang pernah mendampingi Soeprapto pernah mengatakan, suatu ketika seorang jaksa menindak teman seorang Panglima yang dituduh melakukan penyelundupan.

Karena tak suka temannya ditindak, si Panglima tersebut mengeluarkan surat perintah untuk menahan jaksa tersebut. Mengetahui hal itu, Soeprapto menyambut Mayor yang ditugaskan melaksakan perintah tersebut dengan pistol di atas meja. 

Soeprapto mempersilakan sang Mayor untuk melaksakan tugasnya dengan syarat harus melangkahi mayatnya terlebih dahulu. Mayor itu pun merasa bingung dengan kenekatan Soeprapto dan terpaksa mundur teratur untuk kembali pulang.

Seno Adjie mengatakan bahwa kejadian sering terjadi, bahkan Soeprapto kerap kali bersitegang dengan pemerintah akibat kegigihannya dalam menentang dan memberantas semua penghambat terlaksananya ketertiban hukum dan undang-undang.

2. Ayah yang Tegas

Dikutip dari artikel yang berjudul 'Mengenang Keberanian Jaksa Agung Soeprapto' dari laman resmi LIPI, sejarawan Asvi Warman Adam mengatakan bahwa Soeprapto pernah marah kepada putrinya Sylvia karena menerima dua gelang emas besar dari orang Pakistan. Dengan nada marah, Soeprapto menyuruh putrinya untuk mengembalikan gelang emas itu.

Selain itu, dirinya juga sempat memarahi putranya yaitu Susanto karena menerima cincin bermata giok dari seorang pedagang Tionghoa. Kemudian, ketika Susanto bermain bola di halaman rumah, tendangannya meleset dan mengenai tukang becak yang tengah mengangkut tiga orang.

Becak itu pun terguling dan semua penumpangnya terluka. Soeprapto yang mengetahui kejadian tersebut menyuruh anaknya untuk meminta maaf kepada tukang becak tersebut. Ia juga membayar ganti rugi kepada si tukang becak serta memberi biaya pengobatan untuk tiga penumpangnya.

3. Pernah Tolak Perintah Bung Karno

Ia juga pernah menolak melaksanakan perintah Bung Karno karena bertentangan dengan hukum yang berlaku. Saat itu, ketika masyarakat dan media ramai membicarakan pernikahan Bung Karno dengan Hartini, Soeprapto diperintahkan Bung Karno untuk menindak Mochtar Lubis selaku penanggung jawab Harian Indonesia Raya.

Karena, surat kabar tersebut dituduh telah memuat berita-berita yang mencemarkan nama baik Soekarno. Tetapi, Soeprapto tak melaksanakan perintah tersebut, karena menurutnya penuntutan itu tak perlu dilakukan.

Namun justru sebaliknya, ketika Ketua PKI Aidit mengeluarkan brosur yang menghina Bung Hatta, Soeprapto menindaknya secara hukum dan mengadili Aidit. Meski Soeprapto sudah mendapat surat perintah dari atasan agar tidak melanjutkannya. Baginya, prinsip yang selalu dipegang adalah keadilan, keyakinan, dan kejujuran, sehingga tak terpengaruh oleh apa pun.

4. Diberhentikan Gegara Kasus Jungschlager dan Schmidt

Jaksa Agung R. Soeprapto diberhentikan dengan hormat oleh Presiden Soekarno, pada tanggal 1 April 1959. Dalam buku Lima Windu Sejarah Kejaksaan (1945-1985), pemberhentian ini merupakan ekor yang tidak sedap dari kasus peradilan Jungschläger dan Schmidt yang ditangkap pada tahun 1954.

Setelah tuduhan terhadap Leon Nicolaas Hubert Jungschlager gugur demi hukum, karena yang bersangkutan meninggal dunia, maka tinggalah Schmidt yang diadili. Oleh Pengadailan Negeri Jakarta, Schmidt dijatuhi hukuman seumur hidup, pada tahun 1958.

Terpidana mengajukan banding, dan Pengadilan Tinggi Jakarta memutus lebih ringan yaitu 5 tahun penjara dan dipotong masa tahanan. Schmidt yang sudah menjalani hukuman 5 tahun, Pengadilan tinggi membebasakannya. Karena Kejaksaan Agung tidak mengajukan permohonan kasasi, maka Jaksa Agung memerintahkan eksekusi.

Dendam rakyat yang tidak suka pada orang Belanda pemberontak ini, menurut Jaksa Agung Soeprapto menjadi pertimbangan untuk memulangkan Schmidt ke negerinya. Menurut buku Sejarah Kejaksaan Agung, kesalahan R. Soeprapto sebagai jaksa agung tidak berkonsultasi terlebih dahulu dengan Menteri Kehakiman, G.A. Maengkom.

Ini dikecam keras oleh partai-partai politik dan tidak dapat diterima oleh Pemerintah. Kejadian di awal 1959 ini, agaknya merepotkan Jaksa Agung R. Soeprapto. Tapi, menurut (Alm) Ny. Soeprapto kepada Forum Keadilan, sebenarnya perintah eksekusi Schmidt itu telah disetujui oleh Maengkom.

Sekembalinya ke Jakarta, Jaksa Agung yang tegar ini menolak hadir di Istana dalam acara serah terima jabatan. Ia tidak mau minta maaf dan menolak menarik kembali tindakan yang menurutnya benar, baik secara hukum maupun hierarki. Apalagi untuk bergabung dengan politisi, hanya sekadar untuk mempertahankan jabatannya.

Sebagai pegawai yang pejuang dengan dedikasi tinggi, cerdas, tekun, dan ulet, tidak ada dalam kamus Soeprapto untuk mempolitikkan jabatannya, demi ideologi atau kepentingan apapun selain Pancasila dan UUD yang berlaku (UUD-S 1950). 

5. Bapak Kejaksaan Republik Indonesia

Pada 22 Juli 1967, Soeprapto ditetapkan sebagai Bapak Korps Kejaksaan (Bapak Kejaksaan RI) berdasarkan Surat keputusan Jaksa Agung Maijen Sugih Arti No. Kep. 061/DA/7/1967.

Keputusan tersebut didasari atas jasa Soeprapto di bidang penegakan hukum dan undang-undang. Ia dianggap gigih dalam memberantas semua hambatan dalam penegakan hukum.

Karena yang terpenting adalah semasa menjabat sebagai Jaksa Agung, sifat kebapakannya sangat dirasakan oleh hampir setiap orang yang berada di bawah pimpinannya.

Patungnya kini tegak berdiri di halaman depan Gedung Kejaksaan Agung, di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Soeprapto pun kini diusulkan untuk mendapatkan gelar pahlawan nasional.