Ada Teori Baru, Omicron Berevolusi pada Hewan Pengerat, Bukan Manusia

Minggu, 05 Desember 2021 – 23:47 WIB

Foto: rentokil.co.id/

Foto: rentokil.co.id/

London, REQNews.com -- Omicron, super-mutan Covid-19 yang menyebabkan kepanikan global, mungkin berevolusi pada hewan pengerat.

Teori ini dikemukan Prof Kristian Andersen, ahli imunologi di Scripps Research Institut di California, AS. Menurutnya, menusia menularkan virus SARS-CoV-2 ke tikus. Di tubuh tikus, virus bermutasi menjadi Omicron dan menularkannya kembali ke manusia.

Sebelumnya, tikus diketahui menularkan virus korona kepada manusia. Teori ini akan menjelaskan mengapa virus yang memisahkan diri dari cabang evolusi, dan menghilang di beberapa tempat pada tahun 2020, memasuki kembali populasi dengan begitu banyak mutasi yang sangat tidak biasa dan belum terlihat sebelumnya.

Nenek moyang Omicron, menurut Prof Andersen seperti dikutip Daily Mail, kemudian beradaptasi untuk menginfeksi hewan inang, menghasilkan sifat yang sangat bermutasi sebelum berpindah ke manusia dan menyebar sedemikian cepat dalam proses yang disebut zoonosis terbalik.

Prof Andersen mendasarkan teori pada fakta bahwa sementara Omicron menyimpang dari varian Covid-19 lainnya pada pertengahan tahun lalu, pengambilan sampel genom menunjukan Omicron baru mulai beredar pada orang sekitar Oktober tahun ini.

Apa yang terjadi di antara dua periode ini adalah misteri di balik apa yang membuat Omicron begitu berbeda.

Sejauh ini yang diketahui publik adalah Omicron ditemukan di Afrika Selatan. Namun, asal-usul virus masih tidak diketahui.

Omicron memiliki 32 mutasi pada protein lonjakannya saja, hampir lima kali lebih banyak dari varian Delta. Ada kekhawatiran, karena sifatnya sangat berbeda, dapat membuat lebih mudah menular dan vaksin menjadi kurang efektif mencegah infeksi.

Dalam beberapa hari terakhir Omicron berevolusi secara efektif dalam kegelapan, atau tidak teramati oleh ilmuwan, setelah berpisah secara evolusioner dari varian lain seperti Alpha dan Delta.

Teori yang berlaku adalah Omicron muncul pada infeksi yang menetap pada pasien dengan gangguan kekebalan, mungkin AIDS yang tidak terdiagnosis. Ini akan memberi virus waktu untuk beradaptsi dengan sistem kekebalan paeisn yang menghasilkan banyak mutasi.


Terlalu Dini

Prof Andersen mengatakan ini hanya teori. Dalam posing Twitter dia mengatakan lebih menyukai gagasan hewan pengerat; tikus dan hamster, sebagai asal Omicron.

Alasannya, garis keturunan hewan itu sangat tua dan sirkulasi yang tidak terdeteksi pada pasien dengan gangguan kekebalan selama ini tidak mungkin. Alasan lain, terbukti bahwa Covid-19 melompat antarspesies.

Kedua, beberapa mutasi Omicron terjadi tikus dan hamster. Terlebih, salah satu teori asal-usul Covid-19 awalnya melompat dari kelelawar ke manusia. Namun, virus itu juga ditemukan pada bulu cerpelai di peternakan di Denmark. Laporan lain dari Kanada menyebutkan virus corona juga ditemukan pda rusa.

Prof Andersen mengatakan masih terlalu dini membuat kesimpulan akhir bawa Omicron berasal dari orang dengan sistem kekebalan lemah, seperti pasien HIV.

"Meski itu pasti mungkin, kami tidak memiliki data yang menunjukan masalah itu," kata Prof Andersen. "Mari kita bukan semua hipotesis."