Ingat Kampung Miliarder Dadakan yang Viral? Duh! Kini Warganya Susah, Nyesal Jual Lahan ke Pertamina

Rabu, 26 Januari 2022 – 15:01 WIB

Kampung 'miliarder dadakan' di Tuban yang sempat viral.

Kampung 'miliarder dadakan' di Tuban yang sempat viral.

JAKARTA, REQnews - Ingat cerita "Kampung Miliarder Dadakan" di Kecamatan Jenu, Tuban yang viral beberapa waktu silam? Kala itu ramai diberitakan soal euforia warga desa tersebut usai menjadi miliarder dadakan.

Mereka berbondong-bondong membeli motor hingga mobil mewah usai mendapat ganti rugi hasil penjualan lahan untuk proyek kilang minyak Pertamina Grass Root Refinery (GRR).

Hampir satu tahun berlalu, kini yang terdengar dari warga kampung tersebut justru kabar miris. Warga Kecamatan Jenu, Tuban tak lagi sejaya dulu nasibnya.

Jangankan bermewah-mewah, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja mereka kini kesulitan. Bahkan ada sejumlah warga yang mengaku menyesal telah menjual tanahnya ke Pertamina.

Seperti pengakuan Kakek Musanam, seorang warga Desa Wadung, Kecamatan Jenu. Musanam mengaku menyesal telah menjual tanah dan rumahnya ke PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia (PT PRPP), setahun lalu.

Kini kakek yang berusia 60 tahun ini sudah tidak lagi memiliki penghasilan tetap, sebagaimana dahulu setiap masa panen. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, ia pun terpaksa harus menjual sapi ternaknya.

"Sudah tak jual tiga ekor untuk makan dan kini tersisa tiga," ujar Musanam, dikutip Rabu, 26 Januari 2022.

Cerita serupa juga disampaikan Mugi (60 tahun), warga kampung miliarder lainnya. Kini ia kesulitan mendapatkan penghasilan setiap panen setelah menjual tanahnya seluas 2,4 hektare ke Pertamina.

Sekarang ia sudah tak lagi mendapat hasil melimpah saat panen. Padahal dulu biasanya ia bisa mendapat Rp 40 juta saat panen.

"Dulu lahan saya tanami jagung dan cabai, setiap kali panen bisa menghasilkan Rp 40 juta."

"Kini tak lagi memiliki penghasilan setelah menjual lahan," ujar Mugi.

Ia juga bercerita dulu lahan miliknya dijual sekitar Rp 2,5 miliar. Kemudian uangnya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, sisanya ia tabung.

Mugi juga mengungkit, dulu dirinya sering didatangi pihak Pertamina saat berada di sawah agar mau menjual lahan. Segala bujuk rayu pun ditawarkan, termasuk tawaran pekerjaan untuk anaknya.

Namun hingga kini, tawaran dari pihak Pertamina tersebut tak pernah terealisasi.

"Dulu saya didatangi pihak Pertamina agar mau jual lahan."

"Janji diberi pekerjaan anak-anak saya tapi tidak ada sampai sekarang," tandasnya.