IFBC Banner

Hasil Riset Terbaru: Angka Kasus Penipuan Kencan Online Melejit, Asia Tenggara Paling Meresahkan

Kamis, 10 Februari 2022 – 03:10 WIB

Ilustrasi penipuan kencan online

Ilustrasi penipuan kencan online

JAKARTA, REQnews - Beberapa waktu belakangan, jagat maya dihebohkan dengan munculnya film dokumenter berjudul "Tinder Swindler" yang mengisahkan aksi penipuan pria bernama Simon Leviev terhadap banyak wanita di aplikasi kencan online, Tinder.

Bicara soal penipuan di aplikasi kencan online, baru-baru ini perusahaan keamanan siber Kaspersky melakukan sebuah riset lewat survei bertajuk "Mapping a secure path for the future of digital payments in APAC".

Hasil survei yang diadakan pada 2021 itu mendapati fakta bahwa hampir 1 dari 2 orang (45 persen) orang di Asia Tenggara pernah menjadi korban penipuan uang dari kencan online.

Berdasarkan siaran pers Kaspersky yang dilansir dari Antara, Kamis, 10 Februari 2022, jumlah kerugian yang diderita para korban rata-rata kurang dari 100 dolar Amerika Serikat (sekitar Rp 1,4 juta). Namun meski kecil-kecilan, penipuan ini dialami oleh berbagai kelompok usia.

Hasil survei tersebut juga menunjukkan bahwa generasi baby boomer (kelahiran 1946-1964) dan di atasnya (1918-1945) paling sering menjadi korban penipuan kecil-kecilan ini, yakni mencapai 33 persen. Adapun rata-rata penduduk Asia Tenggara yang pernah menjadi korban penipuan kurang dari 100 dolar AS berjumlah 22 persen.

Sementara itu, hampir 2 dari 5 orang di kelompok usia paling senior juga pernah kehilangan antara 5.000 sampai 10.000 dolar AS karena ditipu teman kencan online. Sementara sebagian kecil generasi Z (8 persen) pernah tertipu lebih dari 10.000 dolar AS karena kencan online.

Tak hanya itu, hasil pengamatan Kaspersky juga menunjukkan bahwa penipuan kencan online meningkat sejak 2020, ketika pandemi "memaksa" masyarakat melakukan hampir semua kegiatan menggunakan internet termasuk untuk bersosialisasi.

Riset juga memperlihatkan bahwa para penipu kencan online sering membagikan cerita yang tidak konsisten dan seringkali tidak memiliki jejak digital sehingga sulit dilacak.