Nama Adnan Buyung Tercantum di Dokumen Pembubaran PKI Milik CIA

Minggu, 14 Juli 2019 – 18:30 WIB

Almarhum Adnan Buyung Nasution (Foto: Istimewa)

Almarhum Adnan Buyung Nasution (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Sebuah dokumen rahasia CIA tentang Gerakan 30 September 29165 atau dikenal sebagai tragedi G30S PKI, menyebut nama Adnan Buyung Nasution. Dokumen yang telah dideklasifikasi oleh Pusat Deklasifikasi National (NDC) Amerika Serikat itu dibuka untuk publik pada 17 Oktober 2017.

Setidaknya dokumen itu berisi enam halaman itu merangkum situasi Indonesia pasca G30S PKI dan dukungan kalangan moderat membantu Angkatan Darat menghancurkan PKI. Dalam dokumen tersebut, AS menuding Buyung sebagai perwakilan kaum moderat yang berguna menyediakan informasi penting bagi Kedubes AS.

Seperti dikutip dari Historia.com, Minggu 14 Juli 2019, dokumen itu ditulis berdasarkan rekaman pembicaraan Buyung dengan Jaksa Agung AS saat itu, Robert Rich. Yakni menyebut Buyung mengusulkan untuk terus mengejar komunis untuk melemahkan kekuatan PKI. Ketika itu Buyung merupakan asisten Jaksa Agung.

“Ini adalah momen kritis bagi orang-orang moderat Indonesia, seperti anggota PNI dan Masyumi, untuk membubarkan komunis dan menghilangkan kekuatan PKI,” kata Buyung kepada Rich saat itu.

Tak cuma itu, Buyung disebut dua kali mendatangi Kedubes AS pada 15 dan 19 Oktober 1965, dan menyampaikan bahwa Angkatan Darat telah mengeksekusi ribuan orang komunis. Pun berpesan agar sebisa mungkin fakta ini dipegang erat-erat dan disembunyikan dari Presiden Sukarno.

Buyung yang pernah bertugas di intelijen Kejaksaan Agung ini memberikan informasi lain. Salah satunya terkait rencana Angkatan Darat untuk membebaskan pimpinan Masyumi dan PSI yang dipenjara sejak pemberontakan PRRI.

Dia juga menjadi asisten yang diperbantukan (liaison officer) Kejaksaan Agung untuk mendampingi tamu kehormatan Jaksa Agung AS Robert F. Kennedy yang berkunjung ke Indonesia pada 1962.

Ya, Buyung dikenal anti-PKI sejak masih duduk di bangku SMA. Ayahnya, Rahmad Nasution menanamkan pelajaran tentang demokrasi, dan setelah agak besar, dia membaca buku-buku ayahnya mengenai bahaya komunisme, otoriterisme, totaliterisme, bahkan militerisme dan fasisme.

“Sehingga saya sudah terbentuk menjadi sangat alert terhadap paham komunis. Waktu di IPPI (Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia) saya sudah sadar betul bersikap anti-PKI. Saya menentang IPPI Edi Abdurachman yang cenderung mau mengkomuniskan IPPI,” kata Buyung dalam otobiografinya, Pergulatan Tanpa Henti: Dirumahkan Soekarno, Dipecat Soeharto.

Sikap itu konsisten terus hingga pada Juli 1964, Buyung bersama rekan-rekannya mendirikan Gerakan Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat). Dalam organisasi ini bergabung aktivis pemuda, cendekiawan, hingga tentara yang berpaham sama: anti-PKI.

Mereka antara lain para jaksa seperti Adi Muwardi yang menjadi ketua Gerakan Ampera, beberapa tokoh HMI, dan beberapa tentara pelajar maupun kelompok intelijen Angkatan Darat. Gerakan Ampera juga menggandeng tokoh-tokoh militer dari Divisi Siliwangi.

Sebagai wakil ketua Gerakan Ampera, Buyung membangun sel-sel Pemuda Ampera di berbagai wilayah: Menteng, Senen, hingga Bogor. Mereka menggalang berbagai elemen masyarakat, mulai dari tukang becak, pedagang asongan, hingga gelandangan dalam program-program kerakyatan yang disebut Program Karya.

“Salah satu cara melawan PKI adalah dengan merebut hati rakyat, yaitu melakukan kerja nyata, membangun irigasi, penggilingan padi, membuat jembatan, dan sebagainya, di kampung-kampung. Proyek Karya itu sudah sempat kami kerjakan di berbagai tempat di Jawa Barat dan Solo, Jawa Tengah,” kata Buyung.

Setelah G30S dan PKI dimusnahkan habis, Gerakan Ampera menyatu dalam KASI (Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia). Buyung menjadi ketua KASI Jakarta. Dalam rapat-rapat KASI, Buyung mendukung Soeharto sebagai presiden.

“Saya adalah orang yang paling gencar mencalonkan Soeharto menjadi presiden daripada Nasution yang saya anggap orang Orde Lama dan terkontaminasi Peristiwa 17 Oktober 1952,” kata Buyung.

Buyung pun meninggal dunia di Jakarta di usia 81 tahun pada 23 September 2015. (RYN)