IFBC Banner

Selain Sri Lanka, Ini Daftar 3 Negara di Dunia yang Bangkrut

Kamis, 23 Juni 2022 – 11:05 WIB

Foto: theweek.in

Foto: theweek.in

JAKARTA, REQnews - Dampak dari adanya Covid-19 mengakibatkan bukan hanya perusahaan yang dapat mengalami kebangkrutan. Ternyata, negara pun dapat mengalami hal serupa. Terbaru, negara Sri telah dinyatakan 'bangkrut' lantaran ketidakmampuan ekonominya membayar utang luar negeri.

Kebangkrutan Sri Lanka juga dipercepat krisis ekonomi akibat COVID-19 yang berlarut-larut.

Ditandai dengan gagalnya negara ini bayar utang luar negeri sebesar US$ 51 miliar atau setara dengan Rp 729 triliun (asumsi kurs Rp 14.300). Utang itu termasuk pinjaman dari pemerintah asing serta dana talangan IMF.

Negara Sri Lanka bukan negara pertama yang mengalami kebangkrutan. Sejumlah negara pernah lebih dulu dinyatakan bangkrut dengan kasus yang sama yakni kegagalan membayar utang.

Berikut daftar 3 negara yang bangkrut karena utang:

1 Venezuela

Sempat jadi negara kaya, Venezuela menjadi salah 1 negara yang pada akhirnya mengalami kebangkrutan. Pada tahun 2017 Venezuela masuk dalam krisis ekonomi. Venezuela yang dikenal sebagai negeri yang kaya akan minyak, justru kehilangan pemasukan saat harga minyak turun hingga tak mampu membayar utang.

Saat itu Pemerintah Venezuela berencana meminta penundaan pembayaran utang kepada krediturnya, lewat refinancing atau restrukturisasi utang-utangnya.

Jumlah utang yang begitu besar mencapai US$ 150 miliar atau sekitar Rp 2.025 triliun membuat kondisi Venezuela sulit untuk membayar utang.

 

2. Argentina

Pada 2001 dan 2014 Argentina sudah dua kali dinyatakan gagal bayar utang (default). Tahun 2001, Argentina gagal bayar utang sebesar US$ 100 miliar atau sekitar Rp 2.025 triliun.

Selanjutnya pada 2014 para kreditur menolak penawaran negosiasi pembayaran utang pemerintah Argentina. Pihak lembaga pemeringkat utang, Standard & Poor's (S&P) saat itu langsung memposisikan Argentina dalam status 'Selective default'.

Saat itu, jumlah utang yang masih harus dibayar Argentina kepada para kreditur sebesar lebih dari US$ 1,3 miliar.


3. Ekuador

Ekonomi Ekuador mulai terpuruk ketika harga minyak jatuh pada tahun 2014 silam. Dengan turunnya harga minyak, penerimaan negara menjadi berkurang dan menyebabkan defisit fiskal yang parah.

Guna menutupi defisit fiskal tersebut, pemerintah Ekuador mulai berutang hingga luar negeri dengan biaya yang sangat tinggi. Bahkan sejak 2014-2017 utang Ekuador naik signifikan hingga melebihi batas aman 40% dari total Produk Domestik Bruto (PDB).