Biarkan Orangutan Tapanuli Hidup di Alam, Mari Selamatkan Habitatnya!
Biarkan Orangutan Tapanuli Hidup di Alam, Mari Selamatkan Habitatnya!

Menolak Lupa! Ini 2 Tokoh Komunis yang Jadi Pahlawan Kemerdekaan Indonesia

Kamis, 15 Agustus 2019 – 17:30 WIB

Alimin dan Tan Malaka (doc: istimewa)

Alimin dan Tan Malaka (doc: istimewa)

JAKARTA, REQnews – Selama masa kemerdekaan Indonesia, banyak pemuda ikut andil baik lewat pikiran maupun dengan cara angkat senjata. Mereka datang dari bermacam latar belakang ideologis yang berbeda-beda, tak terkecuali komunis.

Atas perjuangannya tersebut, mereka diangkat menjadi pahlawan. Lalu, siapa saja para pemuda yang berpaham komunisme tersebut? Nih ulasannya:

Tan Malaka

Tan MalakaMemiliki nama asli Ibrahim dengan Gelar Datuk Sutan Malaka. Tan Malaka menjadi salah satu sosok paling penting dalam Sarekat Islam (SI) karena cerdas, dan berpikiran luas. Ia juga seorang penulis buku bahkan tulisan-tulisannya banyak berisi kritik atas penjajahan Belanda di masa itu hingga dianggap sosok yang beraliran ‘kiri’, komunis.

Tak heran hidupnya banyak dihabiskan dalam bui bahkan hingga merenggang nyawa lewat peluru bundar pada 21 Februari 1949.

Penulis buku Madilog ini juga adalah sosok yang sederhana dan memiliki pendirian yang teguh. Ia bahkan tidak mau bernegosiasi dengan penjajah dalam urusan kemerdekaan. Konon, ia pernah ditawarkan jabatan presiden oleh Soekarno, sebagai antisipasi Soekarno tertangkap oleh Sekutu.

Namun ia menolaknya.Tan Malaka lebih memilih menjadi orang biasa, menjadi penulis dan pemikir.  Atas jasa-jasanya, tepat 23 Maret 1963, Soekarno menetapkan Tan Malaka sebagai pahlawan nasional berdasarkan Keputusan Presiden No. 53 Tahun 1963.

Alimin bin Prawirodirdjo

Alimin bin Prawirodirdjo

Mungkin namanya tak semasyur Tan Malaka, namun ia termasuk salah soosok yang gigih memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sejak remaja Alimin memang telah aktif dalam pergerakan nasional.

Mulai dari wartawan koran dan bergabung dengan Budi Utomo hingga Sarekat Islam, jadi bagian dari perjalanan karir politiknya dalam melawan politik pemerintahan kolonial.

Bahkan Ia juga aktif mengorganisir para buruh pelabuhan dan pelaut, dan turut mendirikan Sarekat Buruh Pelabuhan hingga menjadi pimpinan partai PKI sejak 1918.

Ia sempat dijebloskan dalam penjara karena dituduh mempersiapkan pemberontakan. Setelah ia keluar dari penjara, Alimin pergi ke Moskow, Vietnam hingga China.

Alimin pun pulang ke Indonesia pada tahun 1946 dan kembali bergabung dengan PKI. Namun lambat laun ia mulai kehilangan pengaruhnya.

Setelah tidak lagi aktif di PKI, Alimin menikah dengan Hajjah Mariah dan dikaruniai dua orang putra, yaitu Tjipto dan Lilo, dan ia tinggal di Jakarta hingga wafatnya pada tahun 1964.

Oleh Soekarno, ia dianugerahi gelar pahlawan nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden Nomor 163 tanggal 26 Juni 1964.

Di masa Orde baru, sempat muncul protes untuk mencabut status kepahlawanan Tan Malaka dan Alimin. Namun, ditolak Soeharto.

Memang, gelar pahlawan nasional itu tidak pernah dicabut, tetapi nama keduanya dihapuskan dalam pelajaran sejarah yang diajarkan di sekolah. Dalam buku teks sejarah pun demikian. Baru setelah era reformasi, nama mereka dan karya Tan Malaka kembali bermunculan. (Binsasi)