15 Tahun Kepergian Munir, Sang Anak ‘Curhat’ Lewat Film Pendek

Minggu, 08 September 2019 – 11:00 WIB

Diva (tengah) dan Alif (Jaket hitam) berdiskusi soal pembuatan film pendeknya di Auditorium Visinema Kampus Jakarta Selatan, Jumat 6 September 2019 (doc: Binsasi REQnews)

Diva (tengah) dan Alif (Jaket hitam) berdiskusi soal pembuatan film pendeknya di Auditorium Visinema Kampus Jakarta Selatan, Jumat 6 September 2019 (doc: Binsasi REQnews)

JAKARTA, REQnews – Jumat 6 September 2019 lalu menjadi momen peringatan atas 15 tahun meninggalnya aktivis Munir Said Thalib. Hingga kini, masih menyisakan tanda tanya, siapa aktor utama pembunuh pejuang HAM tersebut.

Untuk mengenang kepergiannya, para kerabat pria asal Malang itu menggelar acara di Auditorium Visinema Kampus Jakarta Selatan, Jumat 6 September 2019.

Dalam acara tersebut, dua anak Munir yang mulai beranjak remaja turut menampilkan film pendek karya mereka masing-masing. Bisa dibilang dua film ini secara tak langsung adalah bentuk curhat dari mereka atas kehilangan sang Ayah.

Salah satunya Alif, yang menampilkan sebuah film pendek berjudul 'Payung Biru’. Menariknya untuk pembuatan film tersebut, ia belajar membuat film secara otodidak dan bermodalkan kamera pinjaman dari seorang teman.

Film tersebut mengisahkan tentang seorang anak laki-laki yang setiap hari ke sekolah mengenakan payung biru. Bahkan Alif memilih menyendiri dan menyembunyikan wajahnya di balik payung itu.

Ketika ditanya, mengapa ia memilih warna biru, bukan warna lain. Ia memberikan jawaban yang cukup mengejutkan. “Saya pilih warna biru karena warna itu mewakili beberapa perasaan seperti bahagia, sedih dan tenang,” kata dia.

Sementara sang ibu Suciwati mengatakan bahwa film tersebut, sebenarnya diambil dari pengalaman pribadi Alif atas kepergian Abahnya (Munir).

“Dia saat itu berjuang melawan rasa kehilangan atas sang ayah. Berusaha menutup diri dari dunia luar dan melihat dunianya cuma seluas payung biru. Dan itu tak mudah, butuh waktu yang lama,” ujarnya.

Sementara anak Munir lainnya, Diva, menampilkan sebuah cuplikan film animasi singkat atas pengalaman pribadinya, terutama atas pertanyaan banyak orang, “Apa yang kamu ketahui tentang ayahmu?”. Dan ia menjawab, “Saya tidak tahu”.

Diva mengisahkan bahwa saat ayahnya tiada, ia baru berusia 2,5 tahun. Otomatis tak banyak kenangan yang tersisa. Ia cuma bisa mendengar kisahnya lewat ibunya.

“Kata ibu, Abah itu sosok yang humoris dan berani. Saya marah sebenarnya mengapa momen bahagia dan indah seperti itu tak saya alami secara langsung,” kata Diva..

Meski demikian, ia bangga dengan ayahnya dan menganggapnya sebagai sosok hebat dan penuh inspirasi.

Acara itu juga diisi dengan pembacaan monolog “Aku Istri Munir” oleh Holifah Wira dan pembacaan karya Goenawan Mohammad “Sepucuk Surat Untuk Sultan Alief Allende dan Diva Suki Larasati, Yang Ditinggalkan Ayah Mereka”.

Kini Alif sudah kuliah di Universitas Brawijaya (UB), yang juga mantan kampus sang ayah. Ia mengambil jurusan Sastra Inggris dan kini sudah semester 7. Bahkan ia berencana setamat dari sana, ia ingin mengambil S2 Perfilman.

Sementara, Diva kini duduk di bangku kelas 3 SMA jurusan IPA. Ia berniat untuk melanjutkan studinya di UB, mengambil kuliah hukum dan menjadi pengacara. (Binsasi)