Biarkan Orangutan Tapanuli Hidup di Alam, Mari Selamatkan Habitatnya!
Biarkan Orangutan Tapanuli Hidup di Alam, Mari Selamatkan Habitatnya!

Insipirasi Tarung Derajat, Perpaduan Sifat Keras dan Lembut

Senin, 17 Desember 2018 – 11:34 WIB

T Djohansyah

T Djohansyah

T Djohansyah, SH

Dalam pergaulan sehari-hari kita kerap mendengar ungkapan “pendekar hukum”. Ungkapan tersebut secara tidak langsung menggambarkan betapa eratnya tempaan sebagai pendekar dengan empati terhadap seseorang yang menderita akibat ketidakadilan. Jiwa seperti itulah yang dimiliki pengacara muda T. Djohansyah.

Kesadaran penuh pria bertubuh atletis ini untuk menjadi pengacara tumbuh ketika dia menggeluti tarung derajat. Tempaan keras bela diri asli Indonesia ini mengajarkan tentang bersikap fair. Praktisi tarung derajat yang disebut petarung memiliki jiwa dan perilaku yang tidak menyombongkan diri. Petarung terkesan seperti orang yang penurut dengan sikapnya yang tunduk demi menghindari keangkuhan. Hal ini tergambar dalam semboyan tarung derajat “Aku ramah bukan berarti takut. Aku tunduk bukan berarti takluk.”

Namun, mendapatkan keadilan itu tidak mudah. Banyak orang yang seharusnya mendapatkan keadilan tapi justru malah menjadi korban ketidakadilan. Keadilan harus diperjuangkan. Agar berhasil perjuangan itu membutuhkan strategi sehingga tidak berakhir konyol. Semua filosofi tarung derajat tersebut diaplikasikan dalam kehidupan dan pekerjaan.

Pengalamannya bertarung membuat pria berdarah Aceh ini sangat sensitif dalam pekerjaan. Itulah yang kelak menjadi bekal untuk memperbaiki kondisi hukum di Indonesia.

Kompetisi dan Kejantanan.

Seorang petarung sejatinya menyukai sesuatu yang penuh kompetisi dan kejantanan. Dalam darahnya mengalir sifat keras, namun terkadang tersembunyi kelembutan di dalamnya. Deskripsi itu cocok menggambarkan kepribadian seorang Djohansyah.

Secara nyata semua itu terlihat dari hobi dan aktivitas yang digelutinya. Selain mencintai beladiri tarung derajat, ia juga berburu dan memasak, meskipun sulit mengatur jadwal latihan rutin akibat kesibukan.

“Termakan oleh waktu dan keadaan, tentunya tidak bisa latihan seperti dulu. Hanya sesekali saja latihan. Tapi saya sangat mencintai olahraga ini karena asli beladiri Indonesia,” katanya.

Tarung derajat adalah seni beladiri yang diciptakan Achmad Drajat yang biasa di panggil Aa Boxer. Teknik beladiri ini dikembangkan melalui pengalamannya bertarung di jalanan Bandung pada 1960-an. Tarung derajat yang berdiri pada 18 Juli 1972 ini secara resmi sudah diakui sebagai olahraga nasional dan digunakan sebagai pelatihan dasar oleh TNI Angkatan Darat.

Saking cintanya pada beladiri ini, Djohansyah kemudian menularkannya pada keluarganya, terutama anak dan keponakan. Bahkan, keponakannya yang menekuni beladiri tarung derajat sekarang sudah ada yang mengikuti jejaknya sebagai pengacara.

“Dulu saya sampai ribut sama ibunya karena dia tidak mengizinkan anaknya ikut beladiri ini. Saya ngotot dia ikut dan dia belajar beladiri dari SMP. Saya melihat dia lebih matang, lebih tajam dibanding teman-teman seusianya,” tuturnya dengan bangga.

Pergaulannya yang luas dengan komunitas beladiri ternyata membuka peluang usaha. Djohansyah kemudian mendirikan Private Guard, perusahaan jasa keamanan (security service) dan pengamanan pribadi (bodyguard). Perusahaan tersebut didirikan bersama dua orang rekannya dan Djohansyah didaulat menjadi komisaris.

Ini berawal dari banyaknya orang-orang yang dia kenal, mereka memiliki kemampuan secara fisik tapi tidak tahu bagaimana harus mencari uang. Akhirnya Djohansyah membuat wadah perusahaan ini.

“Kita memiliki visi yang sama. Perusahaan ini murni sebagai wujud semangat untuk memberikan wadah bagi orang lain untuk mencari nafkah. “,” tuturnya.

Anggota perusahaan tersebut sekarang sudah mencapai ribuan orang. Mereka ada yang datang sendiri atau melamar menjadi karyawan. Bayangkan, kalau saja ada dua ribu anggota, lalu mereka memiliki istri dan satu anak, udah enam ribu jiwa yang kelangsungan hidupnya menjadi tanggung jawab Djohansyah. Beban tersebut justru makin menguatkan tekadnya untuk berbuat sesuatu bagi orang lain. “Tantangan itu yang membuat saya kuat,” tegasnya.

Djohansyah juga tidak melupakan soal kesejahteraan karyawan. Dia membuat koperasi di perusahaan itu, terutama untuk simpan pinjam. Koperasi tersebut ‘dibangun dengan hati’ meskipun tetap harus mencetak laba.

“Dengan jumlah tenaga kerja begitu bayaknya wajar apabila dalam satu bulan ada 100 orang yang kasbon. Nah, bagaimana mnyelesaikan persoalan ini karena mau tidak mau mengganggu akan mengganggu neraca pembukuan perusahaan. Makanya kita buat koperasi. Mereka boleh pinjam dan harus setia dengan perusahaan,” ungkapnya.

Berburu

Hobi lain yang menggambarkan kejantanan Djohansyah adalah berburu. Namun, dia mengaku tidak all out menekuni hobi ini dengan masuk organisasi menembak. Kesenangan ini dilakukan bersama teman-teman yang sebagian besar tidak berprofesi sebagai pengacara. “Tapi banyak teman-teman di Perbakin,” katanya.

Dia menyukai aktivitas luar ruangan ini karena filosofi berburu sama dengan pengacara: untuk membantu orang lain yang kesulitan. Misalnya, ada ladang pertanian milik petani yang diserbu hama babi hutan. Ancaman ini masih terjadi di beberapa wilayah seperti Bengkulu, Garut, atau Cililin. “Mereka meminta bantuan. Kita bersama teman-teman berkumpul untuk mengejar babi hutan ini. Kita tidur di bedeng-bedeng, di mobil, di mana saja,” katanya.

Memasak

Adapun sisi kelembutan pria kelahiran Papua tersebut terlihat dari hobi memasak. Rasanya agak sulit membayangkan seorang pengacara yang hobi beladiri, berburu dan pemilik perusahaan jasa keamanan menyukai pula aktivitas dapur yang identik dengan sifat feminin. “Saya hobi memasak. Enak banget kalau berhubungan antar manusia itu berintraksi di dapur,” tuturnya.

Dia mengakui sering kali dapur itu dianggap tabu bagi seorang laki-laki. Padahal, Djohansyah merasakan hubungan akan terasa lebih dekat dengan berintraksi di dapur. Untuk menghasilkan masakan yang enak dibutuhkan ketekunan, inovasi, dan proses belajar yang terus menerus. Memasak membangun keakraban dan keharmonisan kerja. Setelah bahan-bahan selesai dimasak, kemudian masakan itu disajikan dengan seni tersendiri dan dihias dengan apik seperti gaya penyajian di restoran mahal.

“Saya sering mengajak para staf di rumah masak. Saya menganggap mereka yang bekerja dengan saya di rumah juga staf. Wah, itu makan jadi lahap semua,” katanya sambil tersenyum.

Dalam keseharian Djohansyah memilih memasak masakan yang simple seperti spaghetti, nasi goreng atau pasta. Menu-menu masakan Eropa kerap menjadi pilihan karena bahannya lebih mudah diolah.

“Masakan Eropa lebih mudah apalagi buat laki-laki. Mencari bahan tidak perlu ke pasar. Semuanya serba kalengan tinggal campur-sampur aja. Kalau masak rendang kan susah,” kilahnya.

Dia melihat seorang lelaki yang hebat adalah yang bersosok gagah dan hobi memasak. “Bahkan, memasak kini sudah menjadi daya tarik sendiri bagi seorang pria. Lawan jenis melihat laki-laki yang bisa memasak itu lebih seksi,” ujarnya penuh tawa. (nls)