Kilas Balik Gas Air Mata, 'Si Monster Penghalau Demonstran'

Sabtu, 28 September 2019 – 18:30 WIB

Ilustrasi gas air mata (doc: istimewa)

Ilustrasi gas air mata (doc: istimewa)

JAKARTA, REQnews - Biasanya saat terjadi kericuhan dalam sebuah demonstrasi, aparat keamanan biasanya menyemprotkan gas air mata ke arah pendemo yang provokatif. Tapi tahukah anda kapan dan di mana gas air mata dipakai untuk pertama kalinya? Yuk simak ulasan berikut.

 

Muncul Perdana saat Perang Dunia I

Tepatnya saat perang dunia pertama pecah dan melibatkan Jerman dan Prancis di Agustus 1914. Perang yang disebut sebagai “Battle of the Frontiers” itu menjadi momen di mana gas air mata digunakan di berbagai belahan dunia. Para tentara Perancis kala itu menembakkan granat berisi gas kepada prajurit Jerman di kawasan perbatasan.

Sejak ditemukan, keberadaan gas air mata menjadi momok menakutkan bagi para tentara. Hampir bisa dipastikan para tentara akan meninggalkan pimpinan dan jenderalnya saat ditembakkan gas air mata.

 

Mengapa disebut Gas Air Mata?

Mulanya tujuan dibuatnya granat tersebut adalah untuk mengendalikan huru-hara, dan itu tidak berubah sampai saat ini. Gas tersebut menimbulkan beragam reaksi seperti sakit mata, masalah pernafasan, iritasi kulit, pendarahan, bahkan kebutaan. Granat berisi gas tersebut kemudian dikenal sebagai tear gas (gas air mata), atau lachrymator.

 

Ditemukan di Prancis lalu dikembangkan di AS

Granat berisi gas tersebut merupakan karya seorang ahli kimia Perancis.

Lalu pada pertengahan tahun 1920-an, pertama kali gas air mata dibuat dengan memakai komponen utama gas air mata dibuat dari Chloroacetophenone (CN).

Karena CN dianggap kurang ‘mujarab’, maka pada tahun 1928 ditemukan formula lain yang dianggap jauh lebih dahsyat. Ortho-Chlorobenzylidene Malononitrile (CS). Kebetulan inisial CS sama dengan penemunya, Corson dan Stoughton.

 

Laku Keras saat Perang Dunia II

Salah satu produsen gas air mata terbesar dan tertua adalah Lake Erie Chemical Company, yang didirikan oleh veteran Perang Dunia I bernama Kolonel Byron “Biff” Goss. Sejak pertama kali dibuka pada 1930-an, Lake Erie Chemical Company menjual gas air mata pada pada beberapa negara seperti Argentina, Bolivia, dan Kuba.

Pada Perang Dunia II, penggunaan gas air mata berlanjut. Gas tersebut juga digunakan oleh Italia saat melawan Ethiophia. Tentara Spanyol menggunakannya di Maroko, sementara Jepang menggunakan gas tersebut untuk melawan China. Di Vietnam, tentara AS menembakkan gas air mata pada terowongan-terowongan Viet Cong. Sebaliknya, di AS, para demonstran Vietnam juga menghadapi bertubi-tubi gas air mata.

Hingga tahun 1993, Direktur kebijakan nonproliferasi di Arms Control Association di Washington, Kelsey Davenport menyatakan, penggunaan senjata kimia seperti gas CS itu tidak pandang bulu dan merugikan kedua belah pihak. Maka pada tahun tersebut, gas ini dilarang dalam digunakan dalam pertempuran.

 

Dipakai secara Komersial

Adalah Amos Fries, pemimpin dari Chemical Welfare Service US Army mengembangkan teknologi agar gas air mata bisa digunakan tak hanya di medan perang. Dia pula yang membayar pengacara dan pebisnis untuk membuat pasar komersial gas air mata dan mempublikasikannya lewat media massa.

Selama dua dekade belakangan, penjualan gas air mata bertambah pesat. Gas ini digunakan dalam demonstrasi di banyak negara, termasuk Indonesia.

Kini, gas air mata hampir selalu digunakan oleh pihak berwenang untuk meredakan demonstrasi. Semua itu dimulai usai Perang Dunia I berakhir.

Selama lebih dari 100 tahun ditemukan, belum ada pengganti yang dinilai efektif untuk menghalau massa selain gas air mata. Padahal, Amnesty International memasukkan gas air mata sebagai bagian dari barang perdagangan internasional yang membahayakan. (Binsasi)