Wajib Baca! Asal Mula Kemunculan Tes DNA di Dunia

Rabu, 16 Oktober 2019 – 21:00 WIB

Ilustrasi DNA (doc: newscientist.com)

Ilustrasi DNA (doc: newscientist.com)

JAKARTA, REQnews – Saat ini banyak orang memahami tes  deoxyribonucleic acid atau asam deoksiribonukleat alias DNA sebagai cara untuk untuk membuktikan asal usul keturunan. Tapi tahukah kamu ternyata sebelum ada metode ini, pembuktiannya dengan menggunakan cara yang tak terduga.

Penasaran, gimana proses perkembangannya? Nih ulasan lengkapnya:

Asal Mula

Nah, sebenarnya uji DNA ini berawal dari ilmuwan abad ke-19 dan ke-20 yang terobsesi dengan misteri pewarisan sifat melalui keturunan. Salah satunya adalah Albert Abrams, dokter dari San Fransisco.

Ia mengembangkan teori tentang sistem kelistrikan tubuh manusia yang disebut Reaksi Elektronik Abrams (ERA). Seperti banyak orang lain, Abrams meyakini kalau kunci untuk membuka misteri pewarisan sifat ada di dalam darah.

Abrams pun menemukan alat yang disebut osilofor. Alat ini mengukur getaran elektronik dalam darah manusia. Misalnya, darah orang Irlandia bergetar pada 15 ohm. Darah orang Yahudi di 7 ohm.

Bahkan metode ini kemudian dipakai oleh Hakim Thomas Graham dari Pengadilan Tinggi San Fransisco. Ia menggunakan alat Abrams untuk menentukan hasil dari gugatan paternitas yang melibatkan seorang pria bernama Paul Vittori. 

Waktu itu Vittori menolak membayar tunjangan anak bagi seorang bayi perempuan yang tak diakui olehnya. Namun, mesin ajaib milik Abrams menemukan sebaliknya. Vittori rupanya adalah ayah si bayi. Kasus ini langsung menjadikan nama Abrams terkenal. 

Penemuan Abrams ini pun berevolusi. Di 1930-an, para ilmuwan menemukan bahwa darah manusia benar-benar mengandung beberapa petunjuk tentang asal-usul seseorang. Ini bukan dari getaran elektronik, tetapi pengelompokan darah, atau yang dikenal sebagai golongan darah: A, B, AB, dan O.

Golongan darah ini lebih pasti karena misalnya, bayi yang memiliki golongan darah AB dan ibunya punya golongan darah A, pasti darah ayahnya bergolongan B atau AB. 

Tetapi sains pun ternyata memiliki keterbatasan. Kendati bisa menentukan seseorang bukanlah ayah seorang anak, tes ini tak bisa digunakan untuk mengonfirmasi apakah seorang pria memang ayah seorang anak. 

Seiring waktu, penggunaan antigen darah tambahan, seperti sistem MN dan Rh, mempertajam penggunaan golongan darah untuk masalah paternitas dan forensik. Namun, sistem ini pun hanya 40 persen efektif untuk membuang kemungkinan seseorang pria sebagai ayah seorang anak.

Pada 1970-an, munculah pengujian human leukocyte antigen (HLA). HLA adalah suatu protein yang ditemukan pada sebagian besar sel di tubuh manusia. HLA tidak sama dengan golongan darah meski sama-sama bersifat genetik. HLA mampu menyingkirkan kemungkinan laki-laki sebagai ayah dengan efektivitas 80 persen.

Namun, orang yang membuat terobosan soal tes DNA adalah Oswald Avery, seorang ahli imunokimia asal Kanada di Rumah Sakit Institut Rockefeller. Pada 1944, dia mengidentifikasi DNA sebagai prinsip transformasi atau sistem pewarisan sifat.

Ia pun menemukan bahwa jika pneumococcus yang hidup tapi tak berbahaya dikawinkan dengan bakteri yang lemah tetapi mematikan, bakteri yang tidak berbahaya akan segera menjadi mematikan.

Avery pun bertekad mencari tahu zat mana yang bertanggung jawab untuk transformasi. Untuk itu, ia berkerja sama dengan ilmuwan lainnya, Colin MacLeod dan Maclyn McCarty. Mereka mulai memurnikan dua puluh galon bakteri.

Avery lalu mencatat bahwa zat itu tampaknya bukan protein atau karbohidrat. Namun lebih merupakan asam nukleat, dan dengan analisis lebih lanjut, ia dinyatakan sebagai DNA.

Pada 1944, setelah banyak pertimbangan, Avery dan rekan-rekannya menerbitkan sebuah makalah di Journal of Experimental Medicine, di mana mereka menguraikan sifat DNA sebagai “prinsip transformasi”. 

Seiring berjalannya waktu, tes DNA telah berkembang pesat. Bahkan sejak tahun 1985, materi biologis seperti kulit, rambut, darah, dan cairan tubuh lainnya muncul sebagai bukti fisik yang paling dapat diandalkan. Tak hanya untuk menentukan asal usul keturunan, tapi juga soal kasus-kasus kejahatan. (Binsasi)