Sah! Bos Bloomberg Nyalon Jadi Presiden AS, Trump Dapat Lawan Sepadan?

Sabtu, 09 November 2019 – 16:00 WIB

Konglomerat asal AS Michael Bloomberg (doc: independent.co.uk)

Konglomerat asal AS Michael Bloomberg (doc: independent.co.uk)

NEW YORK, REQnews – Kabar mengejutkan datang dari bos Bloomberg, Michael Bloomberg. Milyuner asal Amerika Serikat (AS) ini mantap untuk maju dalam pemilihan presiden pada tahun 2020 mendatang. Ia mendaftarkan diri sebagai kandidat dari Partai Demokrat di Alabama.

Taipan asal New York yang kini berusia 77 tahun ini resmi menyerahkan persyaratannya pada Jumat 8 November 2019 malam atau mendekati tenggat waktu penutupan pendaftaran.

Keputusan ini cukup mengejutkan lantaran Bloomberg belum pernah menyatakan diri akan mendaftar. Namun, selama satu pekan terakhir namanya mendadak digadang-gadang akan bertarung di Pilpres AS melawan sesama penduduk New York, Donald Trump.

Asal tahu saja, Bloomberg merupakan konglomerat media dan filantropis yang pernah menjabat wali kota New York selama tiga periode. Kekayaannya diperkirakan mencapai 57,1 miliar dolar AS atau setara Rp 800,46 triliun.

Para pengamat mengatakan kehadiran Bloomberg akan merusak peluang Joe Biden, yang sebelumnya disebut-sebut sebagai calon terkuat dari Partai Demokrat. Namun, Biden sendiri pada Jumat mengatakan bahwa ia tidak khawatir Bloomberg akan mengambil suara dari kelompok masyarakat yang ia bidik.

Di situs Partai Demokrat Alabama, nama Bloomberg tercantum beserta 17 kandidat lainnya, hanya beberapa jam sebelum pendaftaran ditutup. Albama sendiri merupakan negara bagian yang memiliki tenggat pendaftaran paling cepat di antara yang lainnya.

Biden yang pada 20 November ini akan genap berusia 77, membidik para pemilih kelompok tengah, sementara Senator Vermont Bernie Sanders dan Senator Massachusetts Elizabeth Warren unggul di kelompok kiri.

"Michael adalah pria yang baik," kata Biden pada wartawan di New Hampshire. "Saya sama sekali tidak bermasalah jika ia ikut dalam kontestasi. Jika saya tidak salah, saya saat ini masih unggul di jajak suara, baik terhadap Trump atau kandidat-kandidat lainnya."

Sementara itu, Jason Mollica dari Universitas Amerika mengatakan masuknya nama Bloomberg dalam pertarungan internal Partai Demokrat adalah indikasi Partai Demokrat tidak memiliki kandidat untuk mengalahkan Presiden Trump.

"Sejak awal, pencalonan Biden sendiri bukan perlawanan kuat, dan jika Bloomberg mendapatkan dukungan kelompok tengah Partai Demokrat, ini merupakan tanda bahwa partai tersebut tidak merasa Biden adalah orang yang tepat juga," kata Mollica. (Binsasi).