Kasihan! Banyak Wanita ‘Tersandera’ Larangan Berkacamata Saat Kerja

Sabtu, 09 November 2019 – 18:00 WIB

ilustrasi wanita Jepang yang berkacamata (doc: spiceee.net)

ilustrasi wanita Jepang yang berkacamata (doc: spiceee.net)

TOKYO, REQnews – Kebijakan beberapa perusahaan Jepang yang melarang para perempuan berkacamata di tempat kerja mendapat protes. Kritik tersebut datang dari para kaum hawa di negeri matahari terbit tersebut. Keberatan mereka disampaikan lewat sosial media.

Melansir pemberitaan Business Insider Jepang, sejak Rabu 6 November lalu, keywords tentang “kacamata dilarang" menjadi trending topic di Jepang. Para perempuan Jepang juga mengunggah foto kacamata mereka sebagai bentuk pemberontakan.

Keresahan ini dipantik oleh tayangan sebuah acara televisi yang melaporkan bahwa beberapa perusahaan melarang perempuan mengenakan kacamata saat bekerja.

Misalnya saja perusahaan ritel pakaian yang melarang pramuniaga berkacamata karena akan membuat perempuan terlihat tidak ramah. Sementara itu, maskapai penerbangan menyebutkan alasan keamanan untuk kebijakan tersebut. Oh, come on, yang benar saja?

Dikutip dari Washington Post, larangan serupa juga ditemukan di industri kecantikan atas alasan make-up tidak jelas terlihat pada perempuan berkacamata. Di klinik-klinik kecantikan, perempuan terpaksa mengenakan lensa kontak dalam jangka waktu lama sehingga rentan terkena penyakit mata kering. Mereka juga memiliki kebijakan lain yaitu wajib mengenakan make-up dan berat badan tidak boleh bertambah banyak.

Restoran tradisional juga melarang kacamata karena dianggap tidak sesuai jika dikenakan dengan pakaian tradisional Jepang. Ini bukan kali pertama perempuan di Jepang memprotes kebijakan di tempat kerja.

Beberapa bulan lalu muncul gerakan #KuToo untuk memprotes kewajiban mengenakan sepatu hak tinggi di tempat kerja. Sepatu hak tinggi juga menjadi norma bagi para perempuan yang akan mencari kerja. Tagar ini mengikuti gerakan #MeToo yang merupakan perlawanan global oleh perempuan terhadap pelecehan seksual. (Binsasi)