Duh! Air Bengawan Solo Riwayatmu Kini Rasa 'Ciu'

Sabtu, 09 November 2019 – 19:00 WIB

Daerah aliran sungai Bengawan Solo yang tercemar ciu (kompas.com)

Daerah aliran sungai Bengawan Solo yang tercemar ciu (kompas.com)

SOLO, REQnews - Mungkin ada betulnya kata mendiang Gesang dalam lagunya soal sungai Bengawan Solo. Sungai terpanjang di Pulau Jawa itu kini sudah tak seberapa airnya, tapi lebih banyak 'ciu'.

Yap, pencemaran ciu alias limbah alkohol terjadi di daerah aliran sungai (DAS) Bengawan Solo. Hal tersebut menyebabkan tiga Instalasi Pengolahan Air (IPA) milik Perumda Air Minum Toya Wening Solo sempat tidak beroperasi.

Tak hanya itu, pencemaran sungai tersebut juga berdampak pada layanan terhadap sekitar 16.000 pelanggan perusahaan air minum daerah itu. Air sungai itu berubah warna menjadi hitam pekat serta mengeluarkan bau ciu sehingga banyak ikan ikut mati lemas.

Hal tersebut dibenarkan oleh Sukir, seorang warga yang tinggal tak jauh dari pertemuan antara aliran Sungai Bengawan Solo dengan Sungai Samin.

Kata dia, menurut cerita orang-orang yang belakangan ini berendam di kedua sungai itu mengaku merasa gatal.

"Kalau buat berendam, gatal. Banyak yang sudah merasakan gatal-gatal, seperti orang yang mancing dan menjaring ikan merasa gatal kalau terkena air tercemar itu," katanya kepada BBC News Indonesia.

Kepala Instalasi Produksi Wilayah Selatan Perumda Air Minum Toya Wening Solo Nuryanto, juga mengatakan, pencemaran yang terjadi menyebabkan produksi di IPA Semanggi terhenti sejak Jumat lalu.

Alasannya, kata Nuryanto, IPA Semanggi tidak mampu mengolah bahan baku air yang tercemar tersebut. Ia berkata, warna bahan baku air itu sangat pekat dan sangat berbau alkohol.

"Kami berhenti mengolah air karena limbah seperti itu bukan kapasitas alat kami. Terlalu berlebihan, baik warna maupun bahan kimia yang mencemari sehingga kami tidak bisa mengendapkannya. Kemampuan instalasi ini memang tidak untuk mengolah bahan baku air seperti itu," ujarnya.

Juru Bicara Perumda Air Minum Toya Wening Solo, Bayu Tunggul juga menyebut kondisi air di aliran Sungai Bengawan Solo masih hitam hingga 8 November kemarin. Meski demikian, ia mengklaim perusahaannya sudah mengoperasikan lagi tiga IPA, yaitu Semanggi, Jebres dan Jurug.

"Laporan dari staf IPA Semanggi mengatakan bahwa air baku masih hitam. Tetapi mau tidak mau kalau IPA ini mati nanti yang terdampak kurang lebih 16.000 pelanggan PDAM Solo," katanya.

Para pelanggan yang terdampak penghentian aliran air bersih diklaim bakal mendapat jatah air bersih yang diangkut enam mobil tangki air milik PDAM Solo.

"Kalau yang dilayani IPA Semanggi itu sekitar 6.400 pelanggan, sementara itu IPA Jebres dan IPA Jurug itu melayani 10.000 pelanggan. Gara-gara IPA berhenti, gantinya kita pakai mobil tangki untuk mengantar air bersih," ujarnya.

Meski kondisi air baku masih berwarna hitam, Bayu memastikan bahwa tiga IPA yang dimiliki Perumda Air Minum Toya Wening Solo itu sudah mulai beroperasi. Hasil pengolahan tersebut memang belum maksimal. Namun Bayu menyebut, hasilnya sudah sesuai paramater Peraturan Menteri Kesehatan 492/2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum.

"Jadi hasilnya tidak bisa seperti musim penghujan dan estetikanya masih kurang karena masih ada semburat warna sedikit. Tapi sudah tidak berbau," ujarnya.

Menurut Bayu, penghentian operasional pengolahan air awalnya terjadi 31 Oktober lalu. Saat itu operator IPA Semanggi melaporkan bahwa kondisi air baku Sungai Bengawan Solo sangat buruk.

Setelah diolah, kata Bayu, air yang dihasilkan berbau tidak enak dan berwarna kuning. "Ternyata kita lihat pada waktu itu kalau orang Solo bilang terjadi 'beladu'. Beladu itu ikan-ikan mabuk semua dan mati. Bahkan ikan sapu-sapu yang tergolong paling kuat menahan limbah juga ikut mati," jelasnya.

Bayu berkata, penyebabnya karena di sepanjang aliran Kali Samin terdapat kawasan industri kecil alkohol skala rumah tangga. Jumlah rumah produksi ciu di lokasi itu diklaim sekitar 200 unit.

Industri minuman keras itu disebut Bayu mencakup dua kecamatan di Kabupaten Sukoharjo. Salah satu kecamatan di antaranya, tuding Bayu, tidak memiliki instalasi pengolahan air limbah.

Sebelumnya, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Jawa Tengah mengatakan telah melakukan pendekatan dan pembinaan terhadap usaha kecil dan mikro agar tidak menggelontorkan limbah secara sembarangan.

Semoga ke depan masyarakat dan pemerintah sekitar kembali bahu membahu membersihkan Bengawan Solo. Biar airnya kembali mengalir sampai jauh dan tak tercemar ciu lagi. (Binsasi)