Kala Pekerja Moker Freeport Rekreasi di CFD dan Dapat Duit

Senin, 31 Desember 2018 – 11:46 WIB

Sejumlah pengunjung CFD Jakarta berfoto bersama dengan  dua pekerja mogok kerja PT Freeport Indonesia, Agus Yamco dan Moses di CFD Jakarta, Minggu (30/12/18) (Foto REQnews: Bosko)

Sejumlah pengunjung CFD Jakarta berfoto bersama dengan dua pekerja mogok kerja PT Freeport Indonesia, Agus Yamco dan Moses di CFD Jakarta, Minggu (30/12/18) (Foto REQnews: Bosko)

Gadis-gadis muda berebutan foto dengan Agus Yamco, Moses dan Echy, tiga pria paruh baya asal Papua yang mengenakan busana adat Papua di Car Free Day (CFD), Bunderan HI, Jakarta Pusat, Minggu (30/12) pagi.

“Yang itu lucu, wajahnya lebih unik dan mudaan dikit. Nanti aku mau foto samping dia ah!” pinta seorang gadis berhijab bernama Desi pada tiga temannya. Yang dimaksud Desi, lucu, lebih unik dan lebih mudaan adalah Echy.

Setelah menunggu sekira lima menit, empat gadis itu langsung mendekat dan asa si gadis yang ingin foto dekat Echy pun tercapai. Dibantu pekerja moker bernama Labai, gadis-gadis itu pun mengenakan hiasan rumbai di kepala. Senyuman Desi dan tiga temannya itu terus mengembang padahal terik dan keringat menyergap. Agus, Moses dan Echy juga ikut bahagia dan semangat.


“Terima kasih Om…!” Sepotong kata itu keluar dari mulut Desi dan dijawab Moses, “Ya, sama-sama!” Setelah itu Desi memasukkan selembar duit ke dalam kotak kardus yang dipegang seorang pekerja moker bernama Korwa, lalu tertawa cekikikan dan buru-buru memeriksa foto-foto di ponselnya.

Kenapa mau foto sama orang Papua? “Karena orangnya unik-unik, warna kulitnya unik, wajah dan rambutnya unik, terus pakaian adatnya juga unik. Foto bareng orang Papua dengan pakaian adat kan jarang banget dan lumayanlah buat mejeng di IG (instagram) dan FB (facebook),” beber Desi memberikan alasan.

Paparan kisah di atas merupakan secuplik dari rutinitas para pekerja mogok kerja (moker) PT Freeport Indonesia (PTFI) yang lazim rekreasi di CFD sejak Agustus 2018 lalu. Koordinator pekerja moker PTFI di Jakarta, Tri Puspital, menjelaskan, rekreasi di CFD merupakan rekreasi favorit para pekerja moker PTFI. Saban hari Minggu para pekerja selalu menunggu-nunggu untuk ada di CFD.

Ke Jakarta, 75 pekerja moker yang secara khusus datang dari Timika dan kota sekitar Papua bahkan dari daerah lainnya di Indonesia, mencari keadilan. Dari Timika atau dari lokasi pertambangan PTFI, mereka naik kapal laut, lalu tiba di Surabaya untuk seterusnya ke Jakarta menumpang kereta api kelas ekonomi hingga memakan waktu perjalanan seminggu lebih. Biaya ditanggung sendiri! Di Jakarta mereka sempat tidur di gedung PP Muhammadiyah lalu mendapatkan belaskasihan dari PGI untuk menginap di Wisma Yakoma, di LBH Jakarta selain di kantor Lokataru lama dan kantor Lokataru yang baru di Rawamangun.

“Kami ke Jakarta dengan biaya sendiri, urunan ribuan pekerja moker yang jumlahnya mencapai 8300 orang. Kami ngumpul iuran Rp 1000 per hari, dibayar per hari atau per minggu atau per bulan. Kalau per bulan ya sekitar Rp 30 ribu hingga Rp 31 ribu,” sebut Tri Puspital.

Mau tidak mau, lanjut Tri Puspital, dirinya dkk datang ke Jakarta sebab niatnya ingin berjumpa langsung dengan pihak-pihak berpengaruh. Dengan perjumpaan secara langsung, mereka berharap dapat menyampaikan keluh kesah dan permintaan khusus.

Agus Yamco

Kata Tri, “Dengan begitu, para petinggi negara terkait langsung tau masalahnya, kami mendapat respon dan berharap langsung melakukan aksi cepat, sebab terhitung April 2017 hingga sekarang mau masuk 2019, nasib kami tidak menentu, keluarga kami terbengkelai, anak-anak sulit sekolah dan kuliah, bahkan ada yang berhenti sekolah dan kuliah. Sudah begitu, lebih dari 30 pekerja moker yang meninggal, belum termasuk istri dan anak-anaknya karena kartu BPJS kami sudah tidak aktif, diblokir sama Freeport dan BPJS.”

Sejak Agustus 2018 perjuangan Tri Puspital dkk di Jakarta dibantu tim kuasa hukum dari Lokataru pimpinan Haris Azhar. Mereka antara lain, telah mendatangi Kantor Kementerian Tenaga Kerja, DPR RI, Istana Presiden, Komnas HAM, Ombudsman, KPK, Mabes Polri, Komisi Yudisial, kantor BPJS Pusat, menghadiri sidang di pengadilan dan lainnya bahkan datang langsung ke kantor pusat PTFI di Kuningan, mendatangi lembaga agama seperti NU, Muhammadiyah, KWI dan PGI.

Tak sekedar unjuk-rasa, para pekerja moker juga menyampaikan sejumlah tuntutan dan beraudiensi dengan pihak terkait. Para pihak yang dijumpai umumnya menerima dan mendengarkan masukkan atau tuntutan, lalu memberi janji untuk ditindaklanjuti.

Hingga kini atau sudah lima bulan, sejak 75 pekerja moker PTFI berada di Jakarta, belum ada hasil berarti. Jerry Jarangga, salah seorang pengurus pekerja moker menjelaskan hanya Komnas HAM yang tampak merespon dengan telah mengirimkan surat kepada Presiden Joko Widodo.

Ombudsmaan RI juga sudah turun langsung ke Jayapura dan Timika namun belum melakukan rapat pleno pimpinan untuk memutuskan hasilnya. Memang, Disnaker Provinsi Papua telah mengeluarkan surat penting, namun Kementerian Tenaga Kerja belum respon sama sekali.

Moses

Dari 75 pekerja moker PTFI yang datang ke Jakarta pada Agustus 2018 lalu, sebagiannya telah kembali ke Timika dan kota lainnya pada November. Mereka kembali untuk merayakan Natal bersama keluarganya dan karena alasan lain. Untuk kembali ke Timika dan kota lainnya terpaksa mereka juga harus menumpang kapal laut dengan biaya sendiri.

Adapun sejumlah 30-an pekerja moker lainnya, masih bertahan di Jakarta. Setelah liburan tahun baru 2019, Tri, Jarangga dkk akan kembali mendatangi para pihak terkait yang telah memberi janji-janji untuk menindaklanjuti tuntutan pekerja moker.

Rp 2,8 Juta

Rekreasi di CFD tidak sekedar rekreasi, tidak sekedar melepas kepenantan atau kejenuhan. Pun tidak sekedar menjauhkan dari rasa rindu kampung halaman, rasa rindu pada istri dan anak-anak tetapi rekreasi yang menghasilkan duit.

Di CFD para pekerja moker bisa melakukan aksi simpatik dengan membentangkan spanduk yang memamerkan foto rekan-rekan-rekan pekerja moker yang telah wafat karena telah menjadi korban blokiran kartu BPJS.

Echy

Di CFD mereka ngamen, menyanyikan lagu-lagu pop asli Papua. Kadang-kadang mereka mengajak pengunjung untuk menari Yospan hingga menari Tobelo. Walau panas, para pengunjung tak ragu bergoyang. Pengunjung yang menonton juga ikutan senang hingga foto-foto dan video.

“Yang paling menarik perhatian pengunjung itu ya, mau foto-foto bareng rekan-rekan yang pake busana Papua dan jumlahnya banyak sekali dan setiap CFD mencapai ratusan orang. Bagi pengunjung, itu unik. Setelah foto, mereka juga mau memberikan sumbangan sukarela, dari Rp 2000 hingga Rp 100 ribu. Pendapatannya lumayan. Kami pernah dapat sampai Rp 2,8 juta, kadang Rp 2,5 juta dan minimal Rp 1,8 juta. Hasilnya kami bisa beli beras dan lauk untuk seminggu,” ungkap Tri Puspital dengan penuh haru.(Bos)