Wajib Disimak! Ini Etika Menggunakan Klakson di Jalanan

Senin, 17 Februari 2020 – 16:00 WIB

Ilustrasi membunyikan klakson (istimewa)

Ilustrasi membunyikan klakson (istimewa)

JAKARTA, REQnews – Bagaimana perasaan anda, saat sedang bermacet ria di jalanan, tetiba diklakson bertubi-tubi dari pengemudi lain yang ada di belakang? Pasti emosi kan?

Nah, supaya kejadian seperti itu gak terjadi di jalan, sebaiknya masing-masing pengguna kendaraan memperhatikan etika berikut ini.

Menurut Training Director Safety Defensive Consultant Sony Susmana, klakson sebaiknya hanya digunakan di tempat-tempat tertentu. Misalnya di rumah atau di area parkir sehingga tidak mengganggu orang lain.

Contoh lain, seperti yang sudah diterapkan Kesehatan Keselamatan Kerja (K3) Migas.

“Klakson satu kali ketika mau menghidupkan mesin. Klaskon dua kali pertanda mobil mau maju, klakson tiga kali pertanda mobil ingin mundur, hal tersebut dilakukan untuk tanda buat keadaan sekitar,” katanya melansir kompas.com, Senin 17 Desember 2020.

Selain itu, kata Sony, klakson juga harusnya bersifat friendly atau bersahabat.

“Friendly itu artinya hanya membunyikan sekali dan hanya di tekan menggunakan jempol, bukan dipukul,” ujar Sony.

Kemudian, aturan membunyikan klakson juga sebaiknya tidak dibunyikan di tempat-tempat tertentu, seperti rumah ibadah, lingkungan sekolah atau melewati sebuah lingkuangan yang sedang berduka cita.

Sony menjelaskan budaya klakson yang terjadi di Indonesia saat ini dibuat oleh masyarakat itu sendiri, karena menurutnya setiap aturan harus memiliki dasar.

“Memang salah satu fungsi klakson betujuan untuk komunikasi dengan pengguna lain, tetapi sebaiknya itu hanya dilakukan untuk memperingatkan pengendara lain jika ada hal yang mendesak atau berbahaya,” kata Sony.

Ia juga membandingkan penggunaan klakson di beberapa negara dengan sistem lalu-lintas yang jauh lebih teratur.

“Contohnya di Jepang, hampir tidak ada yang membunyikan klakson kecuali ketika mereka ingin menunjukan sikap ketidaksukaan terhadap cara berkendara pengemudi lain,” ujarnya.

Namun, yang terjadi dengan masyarakat Indonesia justru sebaliknya. Kebanyakan justru gemar membunyikan klakson secara berlebihan. Kondisi inilah yang bisa memancing emosi dan menimbulkan konflik di jalan yang bisa berujung tindak kriminal. (Binsasi)