Ditagih Galakan Dia? Nih 3 Tips Aman agar Tenang Utang Piutang

Minggu, 27 Januari 2019 – 13:00 WIB

Ilustrasi Membuat Perjanjian

Ilustrasi Membuat Perjanjian

JAKARTA, REQnews- Utang dan piutang adalah dua hal yang berbeda. Utang adalah kewajiban yang harus dibayar dari debitur kepada kreditur. Sedangkan piutang adalah memberikan pinjaman dengan jumlah nominal tertentu kepada perorangan ataupun perusahaan. Utang dan piutang berkaitan erat dengan dunia usaha. Perorangan ataupun perusahaan bisa menjadi pihak kreditur dan debitur.

Utang dan piutang tidak selalu bersifat negatif seperti yang selama ini dipikirkan orang-orang yang memulai sebuah usaha. Utang dan piutang bisa menjadi salah satu sumber keuangan dan modal yang bisa dijadikan sebagai alternatif keuangan. Masalah yang timbul dari utang adalah apabila tidak bisa mengembalikannya. Sedangkan dalam piutang masalah yang paling banyak adalah kesulitan menagih seseorang atau badan usaha yang memiliki utang. 

Lantas, bagaimana cara membuat perjanjian hutang piutang degan kerabat atau keluarga agar jauh lebih aman? Yuk simak tips berikut ini: 

1. Surat Perjanjian 

Jangan pernah ragu untuk buat perjanjian tertulis dengan kerabat atau keluargamu. Tidak perlu berbentk akta notaril, dengan perjanjian bawah tangan saja asal ada saksi. 

Bukan berarti kamu tidak percaya dengan kerabat atau keluargamu ya gaes, tapi ini adalah untuk memberikan buktu yang sangat kuat jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Jangan ragu, hal ini ada dasar hukum nya lho, Berdasarkan Pasal 1867 KUHPer dan Pasal 165 HIR, bukti tertulis dibagi menjadi 2 (dua), yaitu: 

1. Bukti tulisan-tulisan otentik (akta otentik) 

Yaitu suatu akta yang dibuat dalam bentuk yang ditentukan undang-undang oleh atau dihadapan pejabat umum yang berwenang untuk itu di tempat akta itu dibuat (Pasal 1868 KUHPer dan Pasal 165 HIR). 

2. Bukti tulisan-tulisan di bawah tangan 

Suatu akte yang ditandatangani di bawah tangan dan dibuat tidak dengan perantaraan pejabat umum, seperti misalnya akte jual beli, sewa-menyewa, utang-piutang dan lain sebagainya yang dibuat tanpa perantaraan pejabat umum (Penjelasan Pasal 165 HIR). 

2. Perjanjian Cicilan 

Kamu bisa membuat perjanjian utang piutangmu dalam bentuk cicilan. Dengan pembayaran bertahap kita dapat mengantisipasi gagal bayar lebih dini. REQnews kasih tahu ya gays, dalam Pasal 1764 KUH Perdata menentukan bahwa bila pihak peminjam tidak mungkin lagi untuk mengembalikan barag dari macam dan keadaan yang sama dengan barang yang dipinjam semula maka ia diperbolehkan untuk membayar harga nilai barang tersebut dengan uang. Dalam perjanjian ini juga harus diperhatikan atau diambil harga barang pada waktu dan tempat di mana diterima pinjaman telah terjadi. 

Berdasarkan Pasal 1764 KUH Perdata tadi, keharusan untuk mengembalikan barang yang macam dan keberadaannya sama seperti barang yang dipinjam semula tidaklah bersifat mutlak.  

Keuntungan membuat perjanjian utang piutang dalam bentuk cicilan, peminjam bisa jauh lebih bertanggung jawab dalam melunasi hutangnya. Jadi tidak ada lagi tuh alasan “ah gue lupa tuh punya utang sama lu.” 

3. Memakai Barang Agunan 

Kamu juga bisa meminta agunan atau jaminan kepada kerabat atau keluargamu. Tidak perlu barang barang mahal, cukup dengan adanya barang jaminan posisi kita kita akan menjadi lebih aman. 

Hal ini juga ada dasar hukumnya gays yaitu Pasal 1132 KUHPer yang berbunyi barang-barang itu menjadi jaminan bersama bagi semua kreditur terhadapnya hasil penjualan barang-barang itu dibagi menurut perbandingan piutang masing-masing kecuali bila di antara para kreditur itu ada alasam-aladan sah untuk didahulukan. 

Atau kamu cukup memberinya kepercayaan jika tidak bisa melunasi hutang tersebut, maka kamu berhak atas barang tersebut.

Nah Sobat REQnews, sudah tahukan cara membuat perjanjian hutang piutang dan dasar hukumnya. Semoga bermanfaat ya. (Ran)