Bill Gates dan Melinda Sepakat Cerai, Begini Perhitungan Harta Gono Gini dan Harta Bawaan Mereka

Kamis, 06 Mei 2021 – 13:31 WIB

Bill Gates dan Melinda Gates (Foto: Istimewa)

Bill Gates dan Melinda Gates (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Perceraian antara Bill Gates dan Melinda Gates sempat membuat gempar dunia. Salah satu hal yang menyita perhatian publik adalah pembagian harta kekayaan diantara keduanya. Pasalnya Bill Gates tercatat sebagai orang terkaya ke-4 dunia versi Forbes.

Tahun 2021 kekayaan yang dimiliki Bill tercatat sebesar US$ 124 miliar (Rp 1.791 triliun). Sedangkan jika digabung, harta kekayaan keduanya sebesar US$ 146 miliar atau setara Rp 2.117 triliun (kurs Rp 14.500). 

Setelah mengarungi bahtera rumah tangga selama 27 tahun, mereka sepakat mengumumkan perceraian pada hari Senin 3 mei 2021. Perceraian mereka akan memengaruhi portofolio bisnis dan real estat yang luas juga termasuk bidang kesehatan global, industri teknologi, masalah sosial dan kesetaraan bagi wanita, serta kebijakan perubahan iklim. 

Pembagian Harta Kekayaan

Bill dan Melinda Gates sepakat untuk membagi properti dan aset mereka dan meminta pengadilan tinggi King County di Seattle, Washington, untuk membagi aset sebagaimana dilansir media AS. Forbes menulis karena perceraian, bisa saja harta keduanya akan dibagi. Jika pembagiannya adil dan merata, kekayaan Melinda akan bernilai US $ 65,25 miliar (Rp 939 triliun).

Sebagaimana diketahui, mereka tidak menandatangani perjanjian pranikah sebelum perkawinan atau perjanjian perkawinan mereka pada tahun 1994.

Mereka telah berjanji untuk terus bekerja bersama di yayasan setelah proses perceraian mereka rampung.

Dokumen itu mengatakan properti, kepentingan bisnis, dan aset pasangan itu harus dibagi "sebagaimana ditetapkan dalam kontrak perpisahan kami". 

Dikabarkan keduanya telah menyusun separation agreement. Di Amerika Serikat separation agreement merupakan kontrak tertulis antara pasangan suami istri yang berisikan pengaturan perpisahan mereka. Isinya berkisar tentang hal-hal yang berkaitan dengan perceraian yang akan dilakukan. Berbeda dengan perjanjian pra nikah atau prenuptial agreement, separation agreement alias perpanjian perpisahan diteken ketika sudah menikah atau menjelang perceraian.

 

Lalu pertanyaan yang muncul adalah, bagaimana jika keduanya tidak membuat perjanjian perkawinan? Nasib harta gono-gini (harta bersama) mereka bagaimana? Apakah harta yang diperoleh sebelum perkawinan juga menjadi harta bersama?


Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, perlu diketahui terlebih dahulu apa itu harta bersama.

Sebab sebelum adanya UU Perkawinan, berlaku ketentuan Pasal 119 Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHPer) yang menyebutkan:


"Sejak saat dilangsungkannya perkawinan, maka menurut hukum terjadi harta bersama menyeluruh antara suami isteri, sejauh tentang hal itu tidak diadakan ketentuan-ketentuan lain dalam perjanjian perkawinan".

Jadi, menurut KUHPerdata, semua harta suami dan istri menjadi harta bersama baik yang diperoleh sebelum perkawinan atau setelah perkawinan.

Namun, setelah adanya UU Perkawinan harta bersama hanya harta benda yang diperoleh selama perkawinan.

Bagaimana dengan harta benda yang diperoleh sebelum perkawinan? Harta yang diperoleh sebelum perkawinan menjadi harta bawaan dari masing-masing suami dan istri. 

Ketentuan mengenai harta bersama dapat kita temukan dalam Pasal 35 UU Perkawinan yang menyebutkan:

1. Harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama

2. Harta bawaan dari masing-masing suami dan isteri dan harta benda yang diperoleh masing-masing sebagai hadiah atau warisan, adalah di bawah penguasaan masing-masing sepanjang para pihak tidak menentukan lain”

Selain itu diatur pula dalam Pasal 85 – Pasal 97 Kompilasi Hukum Islam (KHI),bahwa harta perkawinan dapat dibagi atas:
1. Harta bawaan suami, yaitu harta yang dibawa suami sejak sebelum perkawinan;
2. Harta bawaan istri, yaitu harta yang dibawanya sejak sebelum perkawinan;
3. Harta bersama suami istri, yaitu harta benda yang diperoleh selama perkawinan yang menjadi harta bersama suami istri;
4. Harta hasil dari hadiah, hibah, waris, dan shadaqah suami, yaitu harta yang diperolehnya sebagai hadiah atau warisan;
5. Harta hasil hadiah, hibah, waris, dan shadaqah istri, yaitu harta yang diperolehnya sebagai hadiah atau warisan.

Namun, perlu diketahui ketentuan tersebut tidak berlaku jika sebelum perkawinan masing-masing bersepakat membuat perjanjian kawin.

Apa itu perjanjian kawin?

Definisi perjanjian kawin diatur dalam Pasal 139 jo pasal 147 Kitab Undang-undang Hukum Perdata. Adapun perjanjian kawin atau perjanjian pra nikah adalah suatu Perjanjian yang dibuat oleh calon suami atau isteri secara otentik di hadapan Notaris, yang menyatakan bahwa mereka telah saling setuju dan mufakat untuk membuat pemisahan atas harta mereka masing-masing dalam perkawinan mereka kelak.

Contoh sederhana seperti ini: 

Bunga dan Putra sebelum melangsungkan perkawinan bersepakat membuat perjanjian kawin. Adapun harta benda bawaan Bunga berupa sebuah mobil dan motor, uang tabungan Rp 100 juta serta emas 20 gram. Sedangkan Putra mempunyai sebuah ramah, mobil, tanah seluas 3 hektar , serta uang tabungan Rp 300 juta. Selama perkawinan berlangsung, Putra investasi saham di sebuah perusahaan sekuritas senilai Rp 200 juta. Sedangkan Bunga membangun sebuah bisnis kuliner. Setelah menjalani rumah tangga selama 15 tahun, Bunga dan Putra memutuskan untuk bercerai.

Dikarenakan Putra dan Bunga bersepakat membuat perjanjian kawin, maka tidak dikenal harta bersama atau harta gono gini. Maka, baik Bunga maupun Putra hanya memperoleh harta yang terdaftar atas nama mereka. Bunga tidak mendapat deviden dari investasi Putra, begitupun Putra tidak mendapat keuntungan dari bisnis kuliner Bunga.  

Mengapa demikian? perjanjian kawin memisahkan seluruh harta bawaan dan harta yang diperoleh selama perkawinan antara suami dan istri.

Namun, berbeda cerita jika Bunga dan Putra seandainya tidak membuat perjanjian kawin.

Sesuai dengan ketentuan yang sudah dijelaskan diatas, maka harta yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama, sedangkan harta yang diperoleh sebelum perkawinan menjadi harta bawaan masing-masing. 

Dengan demikian, karena investasi saham oleh Putra dan bisnis kuliner Bunga dilakukan saat perkawinan berlangsung, artinya masih dalam ikatan perkawinan maka menjadi harta bersama yang harus dibagi antara Bunga dan Putra. Proses pembagian harta bersama serta perhitungan seluruh aset dalam perkawinan dapat dilakukan dihadapan notaris.

Bagaimana, sudah paham bukan mengenai pembagian harta bersama atau harta gono gini?