Wajib Tahu! Begini Cara Pulih Dari Trauma Akibat Pelecehan dan Pemerkosaan

Minggu, 05 Desember 2021 – 19:04 WIB

Ilustasi Dukungan Korban Pelecehan (Foto: Istimewa)

Ilustasi Dukungan Korban Pelecehan (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews- Trauma adalah kondisi yang terjadi sebagai akibat dari peristiwa buruk yang menimpa diri seseorang. Dibutuhkan tindakan yang tepat dan bijak dalam mengatasi trauma tersebut.

Kejadian yang membuat trauma bisa sangat menyedihkan, menakutkan atau bahkan mengancam keamanan. Salah satunya yaitu trauma yang dialami korban pelecehan seksual atau pemerkosaan.

Seperti yang dilansir dari laman Mental Health America, pelecehan dan kekerasan seksual akan memiliki efek, baik dalam jangka pendek maupun panjang terhadap kesehatan korban. Proses untuk bangkit dan pulih dari pengalaman pelecehan atau pemerkosaan tesebut sangatlah sulit. Oleh karena itu para korban membutuhkan penanganan yang serius terhadap kasus yang dialami. Agar tidak berlanjut dan mengarah kepada potensi yang lebih parah.

Dibutuhkan beberapa metode untuk bangkit dari trauma tersebut diantaranya konseling dan psikoterapi.

Salah satu cara untuk mengatasi trauma akibat pelecehan seksual dan pemerkosaan adalah berhenti menyangkal dan menerima kenyataan. Meski tidak mudah, hal ini penting untuk dilakukan. Melampiaskan emosi ini bisa dengan meditasi, yoga atau melakukan Trauma-Focused Cognitive Behavior Therapy (TFCBT)

TFCBT adalah model psikoterapi berbasis bukti untuk seseorang yang mengalami masalah emosional dan perilaku klinis yang signifikan terkait peristiwa traumatis yang pernah mereka alami.

Selain membutuhkan konseling dari professional, dukungan psikologis dari keluarga juga sangat dibutuhkan.

Keluarga korban memberikan dukungan secara psikologis dengan cara mau menerima korban dan peristiwa yang menimpanya, tidak menyalahkan korban atas peristiwa yang terjadi padanya, menghibur korban, memberdayakan korban kembali agar mau meneruskan sekolahnya, menumbuhkan kepercayaan korban bahwa korban masih dapat meneruskan hidupnya seperti semula. Keluarga korban juga menyediakan waktu bagi korban serta mau membantu kesulitan apapun yang dialami oleh korban.

Mengerti keadaan korban pada masa “kritisnya” serta memberikan rasa aman bagi korban. Secara fisik kehadiran anggota keluarga membuat korban tidak merasa sendiri dalam menghadapi masalahnya.

Lantas dukungan apa yang bisa kita terhadap korban kekerasan seksual atau korban pemerkosaan?

Yang bisa dilakukan adalah dukungan sosial. Dukungan sosial menurut Gottlieb (1983) adalah informasi atau nasehat verbal, bantuan nyata, atau tindakan yang diberikan oleh keakraban sosial yang bermanfaat secara emosional dan memiliki efek perilaku tertentu bagi penerima. Dukungan sosial tersebut dapat berbentuk materi, informasi, pendapat, bimbingan, maupun dukungan emosional.