Boleh Gak Sih, Suami Istri Dilarang Bekerja Satu Kantor? Ini Jawabannya

Senin, 19 Agustus 2019 – 09:00 WIB

ilustrasi suami istri bekerja di perusahaan yang sama (doc: istimewa)

ilustrasi suami istri bekerja di perusahaan yang sama (doc: istimewa)

JAKARTA, REQnews – Terjebak cinta lokasi di tempat kerja kemudian memutuskan untuk menikah, apakah salah satunya harus disuruh resign? Atau dua-duanya malah bakal diPHK dan dipecat? Dari kacamata hukum, adakah peraturan yang mengeluarkan larangan demikian? Mari kita kupas satu per satu.

Tak ada aturan eskplisit, kecuali…

Jika kita membolak-balik isi Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan alias UU Ketenagakerjaan, tak tertulis larangan bagi pasangan suami istri bekerja di satu tempat kerja.

Sebagaimana diatur dalam Pasal 153 ayat (1) huruf f UU Ketenagakerjaan yang menyebutkan:

Pengusaha dilarang melakukan pemutusan hubungan kerja dengan alasan pekerja/buruh mempunyai pertalian darah dan/atau ikatan perkawinan dengan pekerja/buruh lainnya di dalam satu perusahaan, kecuali telah diatur dalam perjanjian kerja (PK), peraturan perusahaan (PP) atau perjanjian kerja Bersama (PKB).

Putusan MK beri angin segar bagi pasutri yang bekerja seatap

Kemudian Mahkamah Konstitusi melalui Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 13/PUU-XV/2017 menyatakan bahwa frasa “kecuali telah diatur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama”, pada Pasal 153 ayat (1) huruf f dalam UU Ketenagakerjaan, dianggap bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.

Itu artinya, pengusaha tidak boleh melakukan pemutusan hubungan kerja dengan alasan ikatan perkawinan. Atau dengan kata lain, pengusaha dilarang memberlakukan larangan pernikahan antar sesama pekerja dalam suatu perusahaan. Apabila tertuang dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama, maka hal tersebut bertentangan dengan peraturan perundang-undangan dan tidak berlaku.

Tapi kalau bertengkar, tentu akan pengaruhi kinerja, atau gimana?

Logika sederhananya, jika ada pasangan suami istri bekerja dalam perusahaan sama dan mereka bertengkar atau berselisih, kondisi tersebut akan berdampak pada suasana kerja, dan mempengaruhi karyawan lain. Lalu apa yang perlu dilakukan?

Juanda Pangaribuan, Mantan Hakim ad hoc PHI Jakarta (2006-2016) mengulas secara jelas dalam artikel “Buruh Boleh Menikah dengan Rekan Sekantor, Poin-Poin Ini yang Perlu Diperhatikan.”

Pemilik perusahaan perlu mengatur agar pasangan pekerja yang menikah itu tidak dalam satu divisi yang sama. Pemindahan pekerja ke divisi lain itu dilakukan dengan memperhatikan keterampilan, kemampuan, dan latar belakang pendidikan pekerja.

“Tetapi jangan pula dipindahkan pada jabatan yang tingkatnya lebih rendah, misalnya dari akuntan menjadi office boy,” tulis dia.

Itulah kira-kira penjelasannya. Silahkan jatuh cinta dan menikahlah dengan rekan kerja anda atau siapa saja, Why not? Itu kebebasanmu. Yang penting kinerja dan prestasi di dunia kerja tetap jalan lancar, okay? (Binsasi)