Selamat Menunaikan Ibadah Puasa
Selamat Menunaikan Ibadah Puasa

Kisah Pertobatan Sang Raja Preman, John Kei!

Senin, 06 Mei 2019 – 14:00 WIB

Foto-foto : Istimewa

Foto-foto : Istimewa

Kamar 2701 Swiss-Belhotel, Sawah Besar, Jakarta Pusat itu, menjadi saksi kebengisan John Kei dkk. Di situ mereka membunuh bos PT Sanex Steel, Tan Harry Tantono alias Ayung pada 26 Januari 2012. Ayung tewas dengan 23 luka tusuk, lehernya hampir putus.

Tak lama berselang, John Kei dicokok polisi. Ancola Kei, Tuce, Dani, Kupra, Chandra, Yoseph dan Mukhlis yang terlibat dalam pembunuhan ikut ditangkap. Di PN Jakarta Pusat, John divonis 12 tahun penjara namun hukuman diperberat di tingkat kasasi menjadi 16 tahun penjara.

John adalah seorang preman top pada masa itu. Sejak jaman orde baru, periode 1990-an hingga berujung pada kasus Ayung di tahun 2012. Sepanjang karirnya di dunia hitam, John mengaku telah membunuh lebih dari satu orang. Tak cuma membunuh, rupa-rupa kejahatan telah ia lakukan dan bolak-balik berurusan dengan aparat kepolisian dan bolak-balik masuk penjara.


Lantaran telah membunuh Ayung, John pun "dibuang" di Lapas Nusa Kambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Di sana ia bikin onar, bentrok hebat dengan sejumlah napi teroris.Beberapa kali pula ia ribut dengan para sipir.

Seterusnya John ditempatkan di lapas high risk.Ini super sel yang isinya hanya satu orang, yakni John, dengan pengawasan berlapis siang-malam, lengkap dengan CCTV.

John memberontak. Tak terima dengan perlakuan seperti itu.Ia beteriak, mengumpat, caci-maki, pukul-pukul tembok, meninju hingga menendang tembok dan berkali-kali mengetok pintu besi.

Ruang penjara itu benar-benar telah menghancurkan keperkasaannya. Merenggut kebebasan dalam arti positif sekaligus kebebasan dalam arti negatif. Ya, John tak dapat bebas lagi sesuka hatinya melakukan aksi premanisme.Harta, perempuan dan tahta (as a the king of premanism) telah dipisahkan dari raga dan jiwanya.

Satu ketika, seorang pegawai lapas bernama Pak Yohanes membawakan John kitab suci dan memintanya untuk membaca lalu berdoa. Akan tetapi John enggan membacanya. Pun tak mau berdoa. Suara iblis malah membisiknya. Begitu kuat suara bisikkannya, "sudahlah John Kei, ngapain kamu di sini? Bunuh diri saja!"


John membatin, "Wah kalau saya bunuh diri, saya pasti masuk neraka, saya punya banyak dosa. Saya tidak mau, saya mau masuk surga!"

Karena itulah John menyentuh kitab suci, membacanya lalu berdoa. Sebuah ayat dari kitab suci itu menyentuh hatinya dan ayat itulah yang mengubah kehidupannya. Ia menjadi tenang, damai, penuh iman, penuh harapan dan penuh kasih. Ia tidak lagi teriak, tak lagi marah, tak lagi berontak, tak lagi pukul dan tendang tembok.

Eksistensinya di super sel itu mengubah segalanya hingga 180 derajat. Sel itu menjadi titik balik kehidupannya. Di situ ia menemukan Tuhan dan sebaliknya ia mampu mengempaskan iblis yang telah sekian lama menjadi raja dalam setiap pikiran, perasaan, perkataan dan perbuatannya. Saban hari di dalam sel, ia hanya membaca kitab suci dan berdoa. Ia nyatakan pertobatan, tak akan berbuat jahat lagi. Ia nyatakan untuk memilih dan siap melayani Tuhan.

Setelah tiga bulan di situ, John dipindahkan ke lapas biasa. Di situ ia dapat berinteraksi dengan sesama penghuni lapas. Namun sebelum dipindahkan, John meyakinkan pada Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) bahwa dirinya telah berubah.

Untuk membutikan, John mengatakan kepada Kalapas siap menjadi petugas kebersihan lapas. Tantangan ini diterima Kalapas. Benar saja, John membuktikannya. Ia benar-benar bekerja keras membersihkan kompleks lapas. Tak hanya menyapu ia juga ngepel, membersihkan taman, mencabut rumput, membersihkan selokan dan seterusnya.


Sesama penghuni lapas terkejut terhadap perubahan John. Mereka terharu. Semakin hari, ia semakin rajin dan rutin membersihkan kompleks lapas. Ia akhirnya dipercaya menjadi koordinator kebersihan. Karena sudah punya tim atau anak buah, kompleks lapas makin bersih. Kalapas dan lain-lainnya memujinya.

"Saya harus berbuat baik dari lingkungan saya dulu, kalau saya tidak berbuat sesuatu, maka orang gak percaya (saya berubah). Saya juga membuktikan bahwa saya sudah berubah dan itu juga komitmen saya dengan Tuhan. Saya melakukannya dengan sepenuh hati. Ternyata saya mendapatkan hal yang positif dari teman-teman lapas dan kalapas, para sipir dan lainnya. Merekan juga senang karena lapas Nusa Kambangan sebelumnya kurang bersih, sekarang jadi bersih. Saya puas, saya merasa senang, saya merasa damai," demikian John sebagaimana dikutip dari video Kick Andy.

Tentu saja keluarga mendukung dan bersorak ketika tahu John berubah dan bertobat. Istri dan anak-anak di Jakarta adalah pihak pertama yang paling mendukung dan bersorak ria. Disinggung tentang istri dan anak-anak, John sangat bangga plus terharu.

"Mereka sangat bersukacita. Mereka juga kaget. Mereka bilang 'hah di rumah saja tidak pernah pegang sapu...'," ungkap John yang sedang mengikuti pelajaran membatik dan keterampilan lainnya di Lapas Nusa Kambangan.

Dengan bangga John juga menjelaskan walau dirinya seorang preman, pernah berbuat jahat, tetapi anak-anaknya semua sukses di bangku sekolah. Anak pertama, jurusan ekonomi di Universitas Trisakti dan lulus dengan predikat cum laude, anak laiannya sedang kuliah hukum, anak nomor tiga jurusan hubungan internasional, anak nomor empat jurusan hukum di Universitas Trisakti dan anak nomor lima masih SMP.

Kata John, "Saya bilang ke anak-anak, papa boleh putus sekolah, putus kuliah, tetap mereka harus sekolah tuntas. Papa cari duit, tugas kalian belajar. Jangan seperti papa. Orang-orang cerdas akan mengubah dunia. Orang bodoh seperti papa tidak bisa. Puji Tuhan anak-anak saya otaknya cerdas-cerdas."


John memang sangat sayang pada anak-anaknya. Walau ia keras, kasar, bengis, jahat pada orang lain, namun, ia selalu lembut pada anak-anaknya bahkan kepada istri. Tidak pernah John memarahi, membentak apalagi memukul anak-anaknya. Ia mengaku anak-anaknya mengetahui rekam jejak ayahnya yang seorang preman dan anak-anak termasuk istrilah yang selalu mendorong dirinya berubah. Tak hanya keluarga dekat, keluarga besar John juga turut mendukung dirinya bertobat.  Walaupun banyak yang mendukung ternyata ada pula sejumlah sahabat preman yang tidak menginginkan John bertobat. Mereka bahkan menunggu John bebas dari  penjara.

"Tidak apa-apa. Banyak yang sangat mendukung, tapi ada juga yang menentang. Biasa itu. Ya hidup ini pilihan, tetapi saya akan injili mereka untuk kembali ke jalan benar. Tuhan telah menjamah saya. Marilah kita berbuat yang baik kepada orang. Kalau mereka punya hati saya yakin mereka pasti berubah. Sekarang dengan penuh keyakinan, saya ingin mencari kerajaan surga, siapa pun gak bisa mempengaruhi saya lagi," beber John.

John juga meyakini bahwa Tuhan sungguh benci dengan perbuatan jahatnya.Namun di balik itu ia percaya, Tuhan juga mengashinya. Sudah berkali-kali tubuhnya terkena peluru, benda tajam hingga luka dan berdarah bahkan ancaman jiwa, namun John selalu selamat. Pada sisi ini John melihat, Tuhan masih sayang padanya dan karena itu John ingin menebus semua dosanya dengan melayani Tuhan. Ia pun berjanji, akan melayani Tuhan begitu keluar dari lapas.

"Saya punya satu keyakinan, manusia lahir dan mati dengan caranya sendiri-sendiri.Mungkin kakak saya mati dibunuh, adik saya juga. Memang mungkin takdirnya mati dibunuh. Kalau saya lahir mati ditembak, saya sekarang mungkin sudah mati, atau ketusuk. Jadi badan saya sudah kena pisau, peluru dan parang tapi kok gak mati. Rahasia Tuhan," bebernya.

Sepanjang hidup, sesungguhnya John memiliki sisi baik yang diketahui banyak orang. Ia dikenal sangat cinta, sayang, hormat pada kedua orang tuanya. Ia bahkan memanjakan kedua orang tuanya. Ayah dan ibunya tak menghendaki dia untuk jadi preman apalagi membunuh orang. Dengan penuh harap, ayah dan ibunya berkali-kali memintanya untuk berubah.


"Dulu orang tua kasi pesan. 'Yang penting kamu jangan rampok, curi, kalau berantem ya itulah laki-laki, biasa!' Waktu papa sama mama masih hidup ya, (berpesan) jangan berantem-berantem lagi. Karena waktu itu sudah menikah, jadi mama selalu menangis. Jadi ada perasaan bersalah juga sama orang tua tapi mau bagaimana. Saya pernah menjelaskan ke mama, saya melakukan ini semua untuk mengangkat harkat dan martabat keluarga. Mama lalu bilang, 'jadi orang miskin itu memang tidak enak, dihina-hina. Cukup saya yang miskin tapi jangan anak-anak saya," demikian John yang memiliki prinsip,  "Saya prinsipnya tidak pernah mau ganggu orang, tapi kalau saya sudah baik sama orang dan dia jahat sama saya, saya akan tunjukkan kalau saya lebih jahat dari dia!'

Bukan hanya pada keluarga ring satu John baik hati. Kepada keluarga ring dua, ring tiga, sahabat atau rekan-rekannya, di mana pun berada John berbaik hati, perhatian dan berani membela kalau mereka diperlakukan tidak adil. Tak terhitung anggota keluarga besar dan sahabat dibantunya. Gereja di Tual pun dibantunya dari memberikan derma hingga membangun gedung gereja dan rumah pastor. Sisi baik John ini diakui oleh keluarganya sendiri termasuk rekan-rekannya. Itulah John!

Hobi berantem

John datang dari keluarga petani miskin dengan enam anak. Lahir 10 September 1969 dengan nama asli John Refra. Belakangan ia lebih dikenal dengan nama "John Kei" diambil dari nama kampung halamannya "Kepulauan Kei."

Masa kecil dan remajanya penuh kenangan. Ada yang manis tetapi banyak yang pahit. Hari-hari ia sering dibuli dan karena sering dibuli, entah itu di sekolah atau di lingkungan rumah, John melawan dan akhirnya sering berantem. Hal sepele saja bisa berantem. "Hobi saya ya berkelahi!"

Walau tukang berkelahi, toh John pintar dan cerdas. Nilai-nilai pelajarannya selalu bagus. Ketika lulus SMP, John ingin masuk STM, tetapi orang tua malah mendaftarnya ke SMEA. John marah, tak betah di sekolah.Naik kelas 2 SMEA, ia putus sekolah. Orang tua marah.Ia masa bodoh.

Satu ketika ia terlibat perkelahian hebat dengan seseorang di Tual dan orang itu babak-belur. Ia lalu dilaporkan ke polisi.Setelah disidik lalu dibawa ke kejaksaan, John makin takut. Seharusnya ditahan namun jaksa yang mengurus perkaranya mengatakan, 'Dek..., kamu saya tidak tahan ya, tetapi perkaranya akan segera diproses biar cepat disidang.' John makin kekakutan.

Lalu datanglah sebuah kapal di Pelabuhan Tual. Kapal itu dari Surabaya dan besoknya kembali ke Surabaya. John nekat menyelinap ke dalam kapal dan ingin merantau ke Surabaya.

Kisah John, "Waktu itu saya sama adik sepupu saya langsung lompat naik ke kapal, tiketnya Rp 65.000, tetapi kami tidak punya uang seperser pun. Ya modal nekat saja. Sampai di kapal ditagih tiket, saya gak punya tiket. Terus ditanya, ‘kalau kamu gak punya tiket, sekarang tujuan kamu ke Surabaya untuk apa?’ Saya bilang ‘sodara saya di Surabaya!’ Dijawab, ‘Ya sudah sekarang kalau kamu tidak punya tiket kamu kerja di kapal ini.' Ya tentu saja kami senang."

Di dalam kapal, John merasa antara senang dan sedih. Ya, senang karena bebas dari kungkungan kemiskinan, keterbelakangan sekaligus bebas dari ancaman masuk penjara karena perkelahian. Di sisi lain, John sedih karena pergi diam-diam dan tak beritahu orang tua dan keluarga. Ia juga sedih meninggalkan keluarga, sahabat dan kampung halaman. Namun John membatin, 'saya telah tinggalkan kampung halaman dan saya harus sukses di tanah rantau dan satu ketika saya harus balik.'

Di Surabaya John bertemu saudaranya lalu tinggal di rumah saudaranya itu hanya dua bulan. Tak cocok. Ia kemudian nganggur, luntang-lantung dan tidur di emperan toko. Benar-benar sengsara. Tidak punya apa- apa.

Satu ketika ia bertemu dengan salah seorang perantau yang juga berasal dari Ambon bernama Bung Benny. Benny yang juga seorang aktivis gereja (hamba Tuhan) ini lalu mengajak ke rumahnya.Selanjutnya John tinggal di rumah adik Bung Benny.

"Di rumah adik Bung Benny ini saya tiga tahun (1986-1988). Tiap pagi saya bangun, kerja. Jam 5 ngepel lantai, setelahnya olahraga, sorenya pun begitu, akhirnya beliau anggap saya seperti anak kandung. Sampai saat ini pun kita masih tetap berhubungan, hubungannya seperti keluarga sendiri. Suatu ketika saya mabuk dan makan bakso, gak bayar. Tukang bakso nyerang rumah. Ribut. Sempat dibawa ke kantor Koramil. Bung Benny telepon Koramil untuk lepasin saya," kisah John dengan mata berkaca-kaca.

Gara-gara peristiwa itu John memutuskan untuk pergi dari Surabaya. Ia pergi ke Jakarta menumpang sebuah kereta lalu menuju Berlan, Matraman, Jakarta Timur. Di situ ia tinggal di rumah kerabatnya, seorang pramugari dan keluarga sang pramugari. Tempat tinggal pramugari ini ia tahu pada saat pramugari ini menyempatkan diri bertemu John di Surabaya beberapa waktu sebelumnya.

Tak lama berselang John bekerja sebagai sekuriti di sebuah hotel-cafe di Jalan Jaksa, Jakarta Pusat. Pada mulanya mulus namun pada satu malam terjadi perkelahian. Sebagai sekuriti John berusaha melerai. Sial! John malah dipukul dari belakang. Ia dendam. Emosinya meluap-luap. John segera ke rumah mengambil golok lalu mencari pelaku yang memukulnya. Ia menghunuskan golok pada pelaku. Lehernya hampir putus. Tewas seketika!

"Niat saya gak mau bunuh dia, cuma mau putusin tangannya, ternyata di luar dugaan, parang pas kena leher. Sekali langsung mati.Ada sekitar 5 orang, saya kejar yang lainnya, saya hantam kakinya.Setelahnya saya ajak anak buah saya bawa motor cabut. Eh besoknya saya baca Koran, ternyata tinggal sisa sedikit saja lehernya, itu tanggal 12 Mei 1992. Waktu itu saya umur 22 tahun, saya tidak merasa menyesal. Saya merasa telah jago bunuh orang waktu itu. Tanggal 24 Mei saya menyerahkan diri ke Polda Metro Jaya. Saya akhirnya masuk penjara (Rutan) Salemba. Di situ saya ribut dengan satu penjara, keroyok saya dan teman saya. Dari Salemba saya pindah ke Cipinang, ribut lagi karena lagi tidur dihajar, lagi jalan ditusuk dari belakang," ungkap John yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum Angkatan Muda Kei (AMKEI).

Setelah mendekam lama di penjara, John bebas. Diajak teman, ia masuk-keluar diskotik. Pada satu malam seorang teman memperkenalkan kepadanya pil ekstasi. Mulanya ia enggan memakai pil tersebut lalu mendiamkannya saja di rumah. Namun setiap kali ke diskotik, ia selalu ditawarkan pil itu hingga akhirnya ia tak kuat lalu jadi pemakai. Sejak itu narkoba akrab dengannya. John juga kemudian menjadi penagih utang (debt collector) yang sukses dan dipercaya.Ia lalu membentuk kelompok sendiri dan sebagian besar anak buahnya berasal dari Maluku Tenggara, persisnya dari Kepulauan Kei, kampung halaman John. Selanjutnya John dkk beranjak menjadi kelompok preman yang menguasai lahan, gedung, kawasan (termasuk perparkiran), menguasai diskotik-cafe dan lainnya.Ia dan kelompoknya disegani, ditakuti. Banyak pula yang menjulukinya sebagai "Godfather Jakarta!"


Cekcok, konflik, berkelahi, satu lawan satu dan antar-kelompok geng atau preman tak jarang terjadi hingga berdarah-darah. John selalu merasa itu sebagai hal yang biasa. Rutinitas. Sekali lagi, dia selalu merasa bangga dan puas jika telah melakukan aksinya apalagi berhasil menaklukkan lawan-lawanya.John telah berubah! Telah benar-benar-benar bertobat.

Tuhan telah mengubah hidupnya. Beberapa tahun lagi ia akan meninggalkan lapas Nusa Kambangan dan telah siap berkumpul kembali dengan keluarganya, telah siap melayani Tuhan dan telah berjanji untuk tidak kembali lagi ke dunia hitam.

"Mungkin setelah saya bebas, usaha kecil-kecil bisa untuk mencukupi kebutuhan hidup saya dan keluarga, mungkin buka restoran dan melayani Tuhan. Saya yakin dengan ayat itu saya melayani Tuhan dan dengan usaha kecil akan diberkati Tuhan. Kalau untuk kebutuhan hidup, uang secukupnya cukup, tapi untuk gaya hidup, uang segudang, se-LP ini juga gak akan cukup. Gaya hidup tiada terukur," tutup John dengan mata berkaca-kaca. Semoga! (*/Hans/Bos)