Biarkan Orangutan Tapanuli Hidup di Alam, Mari Selamatkan Habitatnya!
Biarkan Orangutan Tapanuli Hidup di Alam, Mari Selamatkan Habitatnya!

Stefanus Gunawan: Tidak Ada Perkara yang Tidak Bisa Diselesaikan

Minggu, 30 Juni 2019 – 12:30 WIB

Pengacara Stefanus Gunawan (Foto: Istimewa)

Pengacara Stefanus Gunawan (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Saat duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, Stefanus Gunawan mematri cita-citanya untuk menjadi seorang advokat. Impiannya itu sempat dipertanyakan oleh sang ayah, "Apakah tidak ada profesi lain yang kamu pilih selain advokat," tiru Stefanus. Ketika itu, pada tahun 1989 menjadi mahasiswa adalah tempat pelarian para anak muda yang memilih untuk tidak menjadi pengangguran.

Stefanus beralasan, profesi advokat itu keren karena merupakan figur yang taat pada hukum, bisa membantu orang yang kesusahan dalam memperoleh keadilan. Belum lagi tontonan tiap harinya adalah film seputar dunia hukum. "Ada suatu kebanggaan tersendiri bisa membantu orang yang terkena masalah hukum. Saya tidak ada pilihan lain selain kuliah di jurusan Ilmu Hukum," kenang pengacara PT Pos Indonesia ini.

Dirinya pun makin memantapkan diri memilih karir sebagai penegak hukum setelah mendapat dukungan dari Ibunya, yang juga berpesan bahwa apa yang sudah menjadi pilihannya harus dituntaskan.

Akhirnya ia mengambil jurusan Ilmu Hukum di Univesitas Katolik Atma Jaya. Para senior pun bertanya kepada dirinya alasan memilih jurusan ini. Kata Stefanus, "Saya ingin menjadi lawyer." Kalimat itulah yang saya teriakan di tengah hutan saat menjalani ospek sebagai mahasiswa baru.

Semasa kuliah, insting sebagai penegak hukum pun diasahnya. Salah satunya dengan mengikuti organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa bidang advokasi. Bangga, karena saat itu ia sudah membela mahasiswa-mahasiswa yang terkena drop out dari kampus.

Setelah lulus pada 15 Oktober 1994, perjalanan karirnya sebagai advokat pun dimulai. Dengan gagahnya, Stefanus bergabung dengan Pos Bantuan Hukum (Posbakum) di Jakarta Barat. Namun ketika itu dirinya langsung tercengan dengan kondisi penegakan hukum di Indonesia yang sebenarnya. Kegelisahan dan rasa frustasi pun dialami Stefanus.

Ternyata dunia hukum di Indonesia tidak seperti yang ia bayangkan. "Dunia hukum Indonesia tidak seperti yang saya bayangkan. Penegakan hukum belum bisa tegak sebagaimana yang diharapkan masyarakat."

Bahkan saat pertama kali masuk di Posbakum, dirinya melihat bahwa masih banyak penegakan hukum yang tebang pilih dan bisa dipelintir. "Saya seperti masuk hutan belantara dan mengerikan. Saya frustasi ketika itu," kata dia.

Di tengah kegalauannya tersebut, pengurus Peradi (Perhimpunan Advokat Indonesia) DPC Jakarta Barat ini kembali teringat akan pesan Ibundanya. Berbicara dengan kata hati, saya harus menuntaskan semua ini. "Hati saya berkata, Stefanus apa yang sudah kamu pilih, baik itu buruk atau tidak, harus kamu selesaikan dan tuntaskan. Perbaiki jika hal itu buruk."

Sejak saat itulah, dirinya berkomitmen bahwa mati dan hidup saya di dunia advokat. Meski berat di tahun pertama karirnya, ia memutuskan untuk tidak mundur dan ingin berkontribusi bagi negara Indonesia, khususnya dalam penegakan hukum yang berkeadilan. "Jika saya mundur maka saya pecundang dan bagaimana nasib penegakan hukum ke depannya. Untuk itu saya memutuskan harus berkontribusi untuk memperbaiki dunia peradilan di Indonesia," ujarnya.

Setahun berlalu, Stefanus kemudian bergabung di kantor hukum Yan Apul selama dua tahun. Hingga pada tahun 1997, dirinya lantas mendirikan bendera law firm sendiri. Berbekal kertas 1 rim dan ruangan 3x4 meter yang dipinjamkan dari seorang PPAT, Stefanus memantapkan diri untuk berkontribusi lebih di dunia hukum Indonesia.

Kasus demi kasus ia tangani, baik itu kasus kecil maupun besar. Dari ribuan kasus yang ia tanganinya, terselip banyak kisah yang mungkin tidak akan terlupakan dalam perjalanan karirnya sebagai advokat. Ia bercerita pernah menerima bayaran berupa buah mangga dan singkong rebus. Hal itu didapatnya saat membela seorang ibu yang tertipu rentenir.

"Saya pernah menangani sebuah kasus, ada seorang ibu yang memiliki cita-cita menyekolahkan anak-anaknya, lalu ia meminjam uang ke rentenir dan dibuatlah akta jual beli sebagai formalitas dengan sertifikat tanah sebagai jaminan. Ibu tersebut meminjam uang Rp 15 juta, tapi harga rumah di kisaran Rp 200 juta, jadi tidak sebanding. Selama masa pinjam, ibu ini sudah melakukan pencicilan hutang. Ternyata oleh rentenir tersebut, sertifikat dibalik nama dan dijaminkan ke bank. Saya bela ibu itu dan akhirnya akta jual beli itu dibatalkan, dan si rentenir diminta untuk mengembalikan sertifikat itu."

Buah mangga yang ditanam di rumah tersebut pun diterimanya sebagai bayaran atas jasa pembelaan yang diberikan Stefanus. Sama juga ketika dirinya membela seorang bapak yang ditipu oleh orang yang diberinya tempat tinggal. Saat itu Stefanus berhasil membela kliennya tersebut dan menerima bayaran berupa singkong rebus. "Saya terima itu dan makan itu singkong bersama-sama. Bagi saya itu tidak ternilai. Dan sampai saat ini saya bersyukur kepada Tuhan, bahwa bayaran yang saya terima saat ini sudah dalam bentuk mata uang apa saja," kata dia.

Apalagi kasus yang ditangani Stefanus kini pelbagai macam, mulai dari kasus prodeo, korupsi hingga perdata. Bahkan ada 18 kasus korupsi yang berhasil dia bela. Hal itu karena Stefanus memegang prinsip bahwa tidak ada perkara yang tidak bisa diselesaikan. "Kuncinya tekad, semangat dan ketekunan pasti beres. Dan saya sangat menikmati profesi ini sampai hari ini," ujar jebolan magister hukum bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta ini.

Lalu bagaimana tanggapan Stefanus soal penegakan hukum di Indonesia saat ini? Ia menjawab, "Penegakan hukum saat ini cenderung sudah lebih baik ketimbang jaman orde baru. Waktu itu hukum hanya sebatas slogan dan seremonial belaka."

Meski masih jauh dari harapan masyarakat, namun Stefanus mengakui sudah ada perubahan ke arah itu. "Kita lihat polisi, jaksa, pengadilan sudah berbenah, demikian juga profesi advokat. Yang perlu dilakukan saat ini adalah membentuk layanan sistem satu atap, agar semua harus tersistem dengan baik sehingga ada pembenahan-pembenahan. sehingga ada jaminan keadilan di tengah masyarakat," jelasnya.

Ketika ditanya sosok atau figur advokat seperti apa yang memotivasi dirinya hingga di puncak kesuksesan, Stefanus mengaku tidak ada figur khusus. Dirinya hanya melihat figur advokat itu dari sisi ketika bisa membantu seseorang dalam kesusahan saat menghadapi persoalan hukum. "Maka itu saya selalu menjunjungi tinggi kode etik ketika sudah memilih klien, jangan menambah beban klien. Kita justru harus berterima kasih atas kepercayaan mereka mau dibela sama kita, maka kita harus membelanya dengan rasa keadilan jangan sampai mengecewakan. Intinya orang dalam kesusahan jangan ditambah bebannya," tegasnya.

Di tengah kesibukannya sebagai advokat, Stefanus tak lupa menjaga kondisi tubuhnya agar tetap fit. Salah satunya dengan jogging dan dog sport di waktu luangnya. Penasehat hukum Persatuan Kinelogi Jaya ini mengaku juga punya hobi lain seperti bercocok tanam, memelihara ikan dan burung.

Menariknya, Stefanus ternyata satu-satunya lawyer di Indonesia yang bisa meluluskan anjing memperoleh sertifikasi IPO 2, sebuah gelar kehormatan anjing dari Jerman. "Sertifikasi IPO 2 itu kalau manusia setara S2. Dan saya bisa meluluskan anjing saya yang bernama Kuba untuk mendapatkan sertifikasi tersebut," kata dia.