Dear Hakim Indonesia, Belajarlah dari Frank Caprio! Ikon Keadilan Warga AS

Selasa, 13 Agustus 2019 – 12:00 WIB

Frank Caprio, Hakim Pengadilan Kota Providence, Rhode Island, AS (doc: istimewa)

Frank Caprio, Hakim Pengadilan Kota Providence, Rhode Island, AS (doc: istimewa)

JAKARTA,REQnews – Profesi sebagai Hakim bukan perkara mudah lho. Karena selain harus paham dan mengambil pendidikan khusus tentang hukum, seorang hakim dituntut jujur dan bijaksana. Nah, ini yang menjadi salah satu pekerja rumah bagi kinerja para penegak hukum di Indonesia.

Lantaran banyak hakim di Indonesia masih doyan terima suap untuk ringankan bahkan bebaskan kasus hukum tertentu. Bahkan ada yang membuat putusan yang tak masuk akal dan berat sebelah.

Kasus Akil Moechtar hingga  penangkapan sejumlah Aspidum Kajati DKI oleh KPK menjadi potret nyata. Atau soal kejanggalan kasus BLBI-nya Syafrudin Tumenggung yang mulanya dijerat KPK, tapi malah dilepas MA.  Atau soal vonis Baiq Nuril hingga akhirnya diberi amnesti oleh Jokowi.

Nah, sepertinya hakim-hakim di Indonesia perlu banyak belajar dari sosok Frank Caprio.

 

Siapakah dia?

Frank Caprio, menjadi buah bibir di Amerika Serikat (AS) dalam beberapa tahun belakangan ini. Hakim Pengadilan Kota Providence, Rhode Island, AS. Ia kini berusia 83 tahun. Kinerja Caprio ini berhasil merebut hati rakyat Amerika karena caranya menangani kasus dengan menggunakan hati.

Dirinya selalu melihat masalah bukan dari kesalahan seseorang, akan tetapi dalam pengadilan, ia coba menggali apa akar permasalahan hingga terjadi pelanggaran. Apakah memang sengaja parkir seenaknya, apakah memang seseorang itu memiliki tabiat buruk, ataukah seseorang dengan permasalahan keluarga pelik lalu berbuat salah hingga berurusan dengan polisi.

Coba seandainya metode yang sama diterapkan oleh hakim-hakim di Indonesia, maka sejumlah kasus suap atau kesalahan pengambilan putusan pasti gak bakal terjadi, ya kan?

 

Berpegang teguh pada bukti dan fakta

Motto Caprio dalam setiap videonya, dan selalu diucapkan di muka pengadilan adalah, 'balance the equity' yang artinya; 'menyeimbangkan hak (setiap pihak) atas sesuatu'. Ada kalanya Caprio harus menggunakan beberapa skill investigasi untuk menguji terdakwa yang ada di hadapannya apakah sebenarnya orang baik-baik or just a jerk.

Dalam hukum, kalimat yang diucapkan Caprio bisa diinterpretasikan bahwa seseorang bisa dianggap bersalah di depan pengadilan, harus dengan bukti yang sah dan berdasarkan banyak pertimbangan lainnya. Jadi untuk menghukum seseorang, bukan dengan serta merta tanpa perhitungan matang sesuai perbuatannya. 

Mungkin ini bisa dikatakan sebagai ‘kepingan yang hilang’ dalam kinerja sebagian besar hakim di tanah air, lantaran banyak yang masih mondar-mandir berurusan dengan KPK soal kasus suap dan gratifikasi.

Semoga ini bisa jadi inspirasi bagi para penegak hukum tanah air, biar dalam menangangi kasus-kasus hukum jangan hanya mau tertarik denga isi amplop saja, tapi perlu pertimbangan dari isi kepala dan bekerja dengan hati, tentu saja. (Binsasi)