Alfin Sulaiman, Usia 25 Tahun Sudah Punya Lawfirm

Kamis, 21 Februari 2019 – 09:00 WIB

Alfin Sulaiman (Foto : REQnews)

Alfin Sulaiman (Foto : REQnews)


Menurut Anda, bagaimana manajemen advokat yang terbaik?

Sejak mula ia memang memiliki cita-cita menjadi advokat. Tak berselang lama, setelah terjun ke dunia nyata, ia memutuskan untuk mendirikan lawfirm atau kantor hukum di usia yang masih sangat belia, 25 tahun. Nama lawfirm-nya, “S & H Attorneys at Law!” Jatuh-bangun sudah pasti. Tetapi keputusannya sudah tepat. Ia melakoni profesi nan mulia ini dengan semangat, passion yang tinggi dan sudah pasti profesional. Hari demi hari, klien demi klien berdatangan kepada lawfirm-nya yang dikembangkan menjadi lawfirm gaya butik selain menerapkan gaya manajemen sebuah lawfirm yang sudah sukses di negeri ini. Dua tokoh advokat legendaris menjadi sumber inspirasinya. Ada petuah yang selalu diingat dari sang tokoh lalu diejawantahkan dalam menjalankan profesi advokat. Namun di balik kesuksesannya, ia juga prihatin dengan penegakkan hukum negeri ini sekaligus perkembangan dunia advokat yang bukannya maju tetapi malah mengalami kemunduran.Mengapa?
--------------------------------------------------

Nama lengkapnya Alfin Sulaiman! Cukup disapa “Alfin!” Syahdan, SMA berlalu, Alfin muda harus memilih tempat kuliah. Ada dua pilihan; Universitas Indonesia (negeri) dan Universitas Trisakti. Fakultas yang dituju pun jelas, Hukum! Itu memang cita-cita yang dipendam Alfin sejak lama. Ia ingin menjadi advokat atau menjadi penegak hukum lainnya. Beribu sayang, Alfin gagal lulus UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Namun tak lama memendam rasa kecewa, ia langsung memantapkan pilihan untuk kuliah di Fakultas Hukum Universitas Trisakti Jakarta. Pada tahun 2001, kampus Trisakti sangat populer sebagai kampus reformasi dan menjadi salah satu universitas swasta terbaik pada masa itu.

Alfin pun masuk kuliah di FH Universitas Trisakti. Pada waktu itulah dia baru memahami bahwa keadilan dalam hukum memiliki sifat yang relatif. Seperti kata Aristoteles kadang keadilan didasarkan pada asas kesamarataan. Setiap orang mendapatkan bagian yang sama. Namun adakalanya keadilan didasarkan pada kebutuhan. Alfin memandang bahwa keadilan hukum bukan keadilan yang dapat menyenangkan semua pihak. Oleh sebab itu keadilan hukum menuntut setiap persoalan ditimbang sendiri sesuai kadar atau porsinya, dan hakimlah yang memutuskan hal tersebut. Dalam negara hukum, siapa pun harus tunduk pada hukum yang berlaku, tunduk pada putusan hakim.

Alfin lulus pada waktunya, 4 tahun. Seterusnya Ia langsung magang di sebuah kantor hukum ternama di Jakarta dan kantor hukum inilah yang banyak mengajarkannya menangani banyak perkara litigasi. Walau belum resmi advokat, ia selalu turut serta menangani sejumlah perkara tindak pidana korupsi (Tipikor) dan mulai mengenal banyak penegak hukum seperti polisi, jaksa, pihak KPK dan rekan sejawat. Dari situ pulalah ia makin tertarik menangani hal-ihwal yang terkait dengan litigasi.

Tahun 2007, kala usianya genap 25 tahun dan telah disumpah sebagai advokat di Pengadilan Tinggi DKI Jakarta, ia langsung bertekad membuka kantor hukum sendiri. Tekad itu muncul karena keberanian dan karena memiliki jiwa dan semangat menjadi entrepreneur. Ia juga berpendapat, advokat tidak bisa dipisahkan dari entrepreneurship apalagi UU Advokat telah menegaskan bahwa profesi advokat adalah bebas dan mandiri.

Sembari menjalani lawfirm, Alfin kuliah S2 hukum di Universitas Indonesia. Impian untuk kuliah di kampus terbaik di negeri ini akhirnya tercapai. Ia bangga dan puas. Ini juga menjadi langkah strategis untuk menambah wawasan selain langkah strategis mendirikan kantor hukum atau lawfirm sendiri di saat usianya masih sangat muda. Pada waktu itu banyak yang mencibirkannya, namun Alfin tidak peduli dan tetap percaya diri.



“Ada beberapa alasan mengapa saya mau membuka lawfirm di usia muda. Jadi begini, ada satu kawan saya yang cukup lama berada di kantor hukum besar di Jakarta. Dia di sana hampir 20 tahun dengan posisi terakhir sebagai senior associate dan belum juga menjadi partner. Ia lalu mencoba membuka kantor advokat sendiri saat usianya 40 tahun, namun hanya bertahan 6 bulan. Kemudian dia memilih bekerja lagi di perusahaan dan sampai saat ini menjadi karyawan. Artinya saya cuman menyimpulkan bahwa tidak ada korelasi antara berlama-lama berada dalam kantor hukum besar dan akhirnya akan sukses membuka kantor sendiri. Sungguh dua hal yang berbeda. Kalau pada akhirnya kita membutuhkan pengalaman terlebih dahulu, itu benar, tapi kita juga harus berlatih meningkatkan skill entrepreneurship dan how to market yourself.

Alfin belajar dari pengalaman sang teman tersebut. Dalam perjalanannya, ia banyak mendapatkan kemudahan dari banyak kenalan, teman atau jaringan, termasuk sejumlah klien. Sebagai contoh ketika pertama kali membuka lawfirm, Alfin menumpang terlebih dahulu di kantor temannya yang sekaligus menjadi kliennya. Seorang teman yang memiliki perusahaan yang bergerak di bidang event memintanya menangani legal di perusahaan tersebut. Alfin langsung merespon dengan syarat dapat ruangan khusus sebagai kantor lawfirm-nya. Itu berarti, Alfin menyelesaikan berbagai hal yang terkait dengan urusan legal dari perusahaan sang teman tanpa menerima bayaran. Ya, setidaknya Alfin mendapatkan tumpangan gratis tanpa repot bayar listrik, bayar air PAM, sewa tempat dan lainnya.

Memiliki kantor hukum sendiri apalagi di usia muda tentu saja bergengsi dan membuat Alfin bangga. Klien Alfin juga berdatangan hingga akhirnya menjadi mandiri seperti menyewa kantor sendiri, memiliki karyawan dan lainnya. Ia makin PD (percaya diri) setelah tidak numpang lagi di kantor sang teman. Klien berdatangan, ada klien kecil tetapi ada juga klien besar yang dilayaninya. Seiring itu pula ia makin memiliki banyak sahabat atau jaringan.



Lima tahun terakhir, Alfin melihat pertumbuhan kantor hukum yang dinakodai para advokat muda seperti dirinya atau bahkan lebih muda dari dirinya. Pertumbuhan kian subur sekaligus makin kompetitif pada saat organisasi advokat ‘seolah-olah sudah menjadi multibar’ dan bukan singlebar dengan adanya Surat Keputusan Mahkamah Agung (SEMA) yang dapat mengangkat sumpah Advokat dari Organisasi Advokat (OA) mana pun. Kompetisi ini menurutnya bagus tetapi di sisi lain tidak bagus karena banyak advokat yang lahir secara instan. Toh meski demikian, Alfin meyakini, akan terjadi seleksi alam. Klien sudah banyak yang paham, yang berkualitas dan profesional-lah yang akan bertahan.

Fenomena persaingan juga bukan lagi antara para junior tetapi antara senior dan junior. Selama ini para senior lawyer di sebuah kantor hukum umumnya banyak menyerahkan penanganan klien kepada juniornya, peran senior/partner hanya sebatas “sosok!” Hal ini tentunya kesempatan baik bagi lawyer junior untuk meningkatkan kemampuan dan pengalamannya dan klien juga pada akhirnya akan aware bahwa yang mengerjakan pekerjaannya adalah junior di kantor hukum tersebut, sehingga ketika si junior keluar dan membuka kantor hukum sendiri maka klien tersebut akan ikut menjadi klien si junior. Dalam pandangan klien tersebut, lawyer muda umumnya lebih agresif dan dari sisi legal fee lebih reasonable.

Saya memahami advokat itu adalah pribadi yang sulit dikontrol. Masing-masing advokat memiliki karakter dan ego yang unik dan karena itu pada umumnya kantor-kantor advokat banyak yang pecah lalu berganti nama serta manajemen. Kuncinya adalah bagaimana mengelola hubungan dan konflik antara rekan internal. Sistem manajemen yang baik juga sangat penting. Lihat Lawfirm LGS (Lubis, Ganie, Surowidjojo), adalah lawfirm dalam konsep partnership yang cukup sukses bertahan dalam usia yang lama. Tentu mereka sudah memiliki sistem yang baik dalam pengelolaan hubungan antara partner di dalamnya.

Untuk lawfirm yang saya dirikan ini misalnya antarpartner kita mengedepankan keterbukaan dan kebebasan berpikir termasuk berpendapat. Kita tidak mau intervensi satu sama lain dan membagi spesialisasi partner agar tidak saling bersinggungan.

Jadi ketika ada hal-hal tertentu yang dikuasai salah satu partner, maka ia akan sharing strategi. Begitu juga soal pembagian keuntungan, ya kita harus kelola baik. Dalam kantor kami ada sistem manajemen yang mengatur pendapatan masing-masing partner dan yang diperoleh persekutuan.

Mengapa?

Alasannya adalah, terkadang ketika ada partner yang lebih banyak in charge, kami akan mengatur persentasenya, tentu advokat yang membawa pekerjaan akan memperoleh yang lebih besar, kemudian ditentukan bagian kantor secara fix untuk pembiayaan operasional kantor sehari-hari dan adanya diskresi ketika ada pekerjaan yang masuk ke kantor yang diperoleh si A, maka si A punya diskresi apakah mau dikerjakan sendiri atau membagi dengan partner lain.

Tentunya selama bagian kantor tidak diutak-atik, itu yang kami coba jalankan. Sampai saat ini berjalan lancar. Jadi kami mencoba mengelola lawfirm ini layaknya rumah sakit yang menjalankan praktik klinik bersama, di mana lawyer yang ada sesuai spesialisasi masing-masing. Karena kita tahu berada di tempat yang sama dan bendera yang sama, maka kita punya kewajiban untuk menjaga lawfirm ini.

Sudah berapa banyak klien yang dilayani?

Sampai saat ini klien retainer, tercatat sudah ada ratusan klien. Kebanyakan company (perusahaan) tetapi ada juga perorangan. Klien perusahaan yang umumnya bergerak dalam bidang usaha manufaktur, pertambangan, transportasi perkapalan, penerbangan dan ada juga perusahaan MICE (Meeting, Incentive, Convention and Exhibition). Kalau perorangan, umumnya perkara pidana, perceraian dan masalah keluarga tetapi sudah jarang kita tangani. Kecuali perkara keluarga yang bersinggungan dengan perusahaan antara pemegang saham dan sebagainya. Kami juga menerima perkara pidana dari daerah, dari pejabat-pejabat daerah yang tersangkut perkara korupsi dan boleh dibilang itu core kita.

Jadi spesialisasi kami yang paling utama adalah di bidang kepailitan dan PKPU (Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang). Ada juga HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual), perkara-perkara perdata komersial, ketenagakerjaan, pidana khusus seperti tipikor dan pidana umum.

Berapa orang jumlah partner, berapa pula jumlah karyawan?

Saat ini kita memiliki 4 partner dan 10 orang karyawan.

Siapa tokoh panutan Anda?

Saya sangat mengidolakan advokat (Alm) Adnan Buyung Nasution. Saya juga sangat respek pada Prof Indriyanto Seno Adji. Kebetulan yang bersangkutan (Prof Seno) pernah menjadi narasumber skripsi saya. Setidaknya saya banyak mengikuti pola pikirnya.

Apa yang spesifik dari Prof Seno Adji?

Prof Indriyanto pernah bilang “Kalau kamu memilih profesi advokat karena uangnya, kamu akan kecewa. Tapi kalau kamu memilih advokat karena menyukai pekerjaannya, nanti rejeki itu yang akan mengikuti kamu!” Perkataan ini selalu saya ingat namun baru bisa memahami setelah 12 tahun berkecimpung di dunia advokat.

Bagaimana maksud dari perkataan tersebut?

Tantangan kita sebagai lawyer adalah mendapatkan klien. Itu tidak mudah. Dalam perjalanan pendampingan banyak tantangannya. Kita harus kerja keras. Kadang ada perkara yang unik yang feenya tidak cukup atau bahkan mungkin tidak bayar. Kita kerjakan semua itu. Kalau kita bekerja dengan tulus dan iklas, tentu itu sangat baik. Tetapi kita juga kan dapat klien yang memberikan bayaran kita sesuai dengan jasa dan pekerjaan kita. Bagi saya menjalani pekerjaan sebagai lawyer ini karena berangkat dari rasa suka. Kalau kita sudah suka maka kita akan bisa menilai profesionalitas kita sebagai advokat. Itu bersifat otomatis dan datang dengan sendirinya.

Kita pasti mengharapkan uang…

Kalau kita mengharapkan uang, maka kita tidak bisa mendapatkan apa-apa. Makanya, jujur ya, saya sedikit prihatin dengan banyak rekan advokat yang menilai klien dan perkara yang mau ditangani dari uang. Mohon maaf juga, penegakkan hukum kita belum bisa dikatakan baik karena segala sesuatunya diukur dari uang. Kita lihat, masih banyak jual beli perkara, ada oknum (penegak hukum) yang masih bisa dibeli. Banyak yang mau tempuh jalan sesat, jalan instan, macam-macam.

Image organisasi advokat juga kurang baik…

Ya ada oknum rekan sejawat memperkaya diri sendiri kemudian memunculkan perpecahan. Ini saya sesalkan. Siapa pun pasti sesalkan. Sekarang ini misalnya ada tiga Peradi (Perhimpunan Advokat Indonesia). Masing-masing mengklaim diri yang sah dan sebaliknya yang lain tidak sah. Organisasi advokat di luar Peradi juga bermunculan. Dulu kita mengharapkan organisasi advokat yang ada bisa dijalankan tanpa ada intrik-intrik, dijalankan dengan profesional, tetapi nyatanya apa sekarang?


Anda sendiri anggota Peradi yang mana?

Saya saat ini masih tercatat sebagai anggota Peradi SOHO (Peradi yang diketuai oleh Fauzie Yusuf Hasibuan) dan pengurus di DPP AAI (Asosiasi Advokat Indonesia) dan AAI ini kan termasuk organisasi pendiri Peradi.

Menurut Anda, apa yang membuat kekisruhan organisasi advokat?

Surat Ketua Mahkamah Agung nomor 73/KMA/HK.01/IX/2015 tanggal 25 September 2015 perihal penyumpahan advokat yang ditujukan kepada seluruh Ketua Pengadilan Tinggi se-Indonesia. Kan lebih terbuka dan bebas. Organisasi advokat juga tidak lagi singlebar tetapi multibar dan saya saya melihat ini dapat menimbulkan kekacauan. Karena banyak organisasi bermunculan apalagi tidak punya standarisasi organisasi yang jelas, tidak punya kurikulum yang baik untuk misalnya PKPA (Pendidikan Khusus Profesi Advokat), untuk ujian, untuk magang, maka tentu saja memunculkan image yang buruk bagi dunia advokat itu sendiri. Kemudian lahirlah advokat-advokat instan. Ya mungkin kalau istilah becandaan, tukang sayur pun bisa menjadi advokat. Padahal advokat itu profesi yang mulia (officium nobile).

Apa harapan terhadap penegakan hukum di negeri ini?

Kita ingin penegakan hukum yang bersih, profesional dan ada keadilan. Mungkin pernyataan ini klise, tapi saya menganggap ini sudah menjadi rahasia umum. Sekali lagi saya katakan terkadang masih banyak perkara yang bisa diperjualbelikan dan advokat mengambil keuntungan dari hubungan khusus lobi-lobi yang dilakukan dengan meminta tambahan uang dari kliennya, karena dia juga tidak mengeluarkan sesuatu dari koceknya. Satu sisi buat klien menjadi berat dan tidak jelas karena tidak ada standar fee. Berapa sih klien harus membayar (lawyer fee)? Berapa sih operasional perkara. Nah itulah yang membuat hubungan advokat dengan klien tidak lancar. Kadang-kadang klien tidak percaya advokatnya.(*)

---------------------------------------------------------------

PENGGEMAR ACTION FIGURE


Saya suka sekali dengan action figure dan memiliki macam-macam koleksi tokoh action figure di rumah yang saya kumpulkan dari masa kecil. Saya selalu mengenang dan menghargai momen-momen masa kecil yang penuh kegembiraan lalu ingin mendapatkan suasana semacam itu kembali. Dengan menghadirkan action figure (superhero/superman) semacam itu maka saya bisa memiliki semangat yang sama.

Meskipun tokoh super (hero/man) adalah fiksi namun saya melihat bahwa si pembuat cerita ingin menciptakan sosok ideal untuk manusia pada umumnya. Jika kalah dia bisa bangkit lagi. Ini bagus sekali sebagai pelajaran sekaligus inspirasi positif bagi kita. Jadi kalau jatuh ya bisa bangkit lagi. Kita sebagai manusia tidak mungkin selalu ada di atas dan sebaliknya kita juga tidak selamanya ada di bawah. Kalau di bawah harus bangkit dan kalau di atas, harus selalu bertahan dan diantisipasi.(*)