Kisah Cucu Luhut yang Bantu Selamatkan Korban Perdagangan Anak

Senin, 02 September 2019 – 07:30 WIB

Faye saat dalam kegiatan sosialisasi kelas gambar di Kampung Melayu pada 31 Juli 2018 (doc: rumahfaye.or.id)

Faye saat dalam kegiatan sosialisasi kelas gambar di Kampung Melayu pada 31 Juli 2018 (doc: rumahfaye.or.id)

JAKARTA, REQnews – Namanya Faye Hasian Simanjuntak. Ia baru berusia 17 tahun. Tapi, usia muda ternyata bukan penghalang bagi dara cantik ini untuk berkarya bagi sesama.

Namun ia berhasil menginspirasi anak muda seumurannya dengan mendirikan organisasi sosial yang fokus pada anti prostitusi, pelecehan dan perdagangan anak pada tahun 2013 lalu. Organisasi sosial itu ia namakan dengan Rumah Faye.

Rumah Faye pun semakin berkembang dan dikenal serta sering muncul sebagai pembicara dalam berbagai acara terkait isu child trafficking.

Lalu, siapakah Faye dan bagaimana ia memulai kisahnya untuk membangun Rumah Faye? Berikut kisahnya.

 

Cucu Luhut Binsar Panjaitan

Dara cantik ini ternyata adalah cucu dari salah satu menteri Kabinet Kerja Jokowi yaitu Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan. Selain itu sang ayah adalah Kol. Inf Maruli Simanjuntak adalah Wakil Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres).

Nah, di balik berdirinya Rumah Faye ini, tak terlepas dari ajaran sang ayah tentang kepedulian dan jiwa sosial terhadap sesama dan lingkungan sekitar.

 

Ide Rumah Faye tercetus pertama kali karena tugas sekolah

Tak ada yang menduga, kalau ide awal tercetusnya 'Rumah Faye' ini, saat Faye masih duduk di bangku kelas 4 SD. Kala itu, ia mendapat tugas sekolah mengenai child trafficking atau perdagangan anak yang terjadi di Indonesia. Saat itu, Indonesia termasuk ke dalam negara sumber korban perdagangan dan eksploitasi anak. Dari hal tersebut, muncul pemikiran jauh dari gadis muda ini untuk menolong anak-anak korban perdagangan anak.

Namun, keinginan Faye saat itu urung terjadi lantaran orangtuanya menganggap ia masih terlalu muda untuk terjun dalam masalah yang cukup serius itu. Meskipun begitu, dara cantik ini masih tetap berkecimpung kegiatan sosialnya misal dengan melakukan kegiatan amal.

 

Akhirnya di 2013, Rumah Faye Menetas dan Dianungi Yayasan Milik Luhut

Akhirnya, keteguhan Faye membuahkan hasil. Bersama sang mama, Paulina Pandjaitan dan teman aktivis mamanya yang juga berkecimpung dalam isu human trafficking di Indonesia, 'Rumah Faye' akhirnya ‘menetas’ pada Oktober 2013. Dan menariknya, saat itu Faye baru berumur 11 tahun lho!

Sebenarnya Rumah Faye ini tak berdiri sendiri. adalah organisasi sosial di bawah payung dan arahan dari Yayasan DEL, organisasi bentukan sang kakek, Luhut Binsar Pandjaitan yang bergerak di bidang pendidikan dan menyalurkan bantuan kemanusiaan.

Dilansir dari websitenya, 'Rumah Faye' mengemban 3 misi sosial, yaitu sebagai berikut:

Pencegahan, yaitu dengan menggalang kepedulian dan kesadaran mengenai perdagangan anak-anak.

Pembebasan, yaitu berusaha untuk membebaskan anak-anak yang terjerat kasus eksploitasi. prostitusi dan perdagangan anak-anak.

Pemulihan, yaitu dengan melakukan pendampingan dan kesempatan bagi anak-anak yang terjerat kasus untuk melanjutkan pendidikan dan pembekalan keterampilan.

Bersama dengan Rumah Faye, Faye juga berhasil mendirikan shelter atau 'safe house' yang berlokasi di Batam. Batam dipilih karena merupakan lokasi eksploitasi perdagangan anak terbanyak dan juga jalur pintu masuk eksploitasi anak hingga ke negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia.

 

Faye dan sering menjadi pembicara dan Panen Penghargaan

Meskipun masih muda, Faye tetap aktif membangun 'Rumah Faye' meskipun harus membagi waktunya dengan pendidikan. Cerita inspirasi dari seorang Faye menghantarkannya untuk menjadi pembicara terkait isu eksploitasi dan perdagangan anak.

Pada usia 13 tahun ia sempat menjadi pembicara pada TED Talk dengan judul "Am I Too Young?". Faye juga sempat melakukan audiensi dengan Khofifah Indar Parawansa saat masih menjabat sebagai Menteri Sosial soal visi dan misi 'Rumah Faye'.

Bahkan berkat kegigihannya dalam memerangi kasus kekerasan dan eksploitasi anak, Faye termasuk dalam jajaran finalis dalam Penghargaan Perdamaian Anak Internasional pada 15 November 2017. Ia mewakili Indonesia bersama dengan 2 anak muda lainnya yaitu, Mohamad (16) dari Syria, and Tymon (16) dari Polandia.

Gadis yang gemar menyelam ini juga pernah masuk dalam daftar sebagai satu dari 50 warga Asia yang melejit oleh koran "Strait Times" di Singapura.

 

Cerita Faye tentu menginspirasi tak hanya untuk anak-anak seusianya, tapi bagi orang dewasa juga. Semoga kita terus peduli dan sadar mengenai eksploitasi, prostitusi, dan perdagangan yang dialami oleh anak-anak.

Salam keadilan dan kebebasan!

(Binsasi)