Skandal Esek-esek Kajari Tator, Kejagung Belum Beri Jawaban  

Selasa, 14 Januari 2020 – 12:00 WIB

Ilustrasi esek-esek di atas mobil (istimewa)

Ilustrasi esek-esek di atas mobil (istimewa)

 

JAKARTA, REQnews – Seorang oknum jaksa di Sulawesi Selatan diduga terlibat skandal esek-esek dengan seorang janda cantik bernama Romauli Sihombing. aksi bejat jaksa berinisial JPM yang kini menjabat sebagai Kajari Tana Toraja (Tator) ini terkuak dalam acara Hotman Paris Show.

Mengutip Herlad Makassar, wanita yang disapa Uli ini membongkar aib JPM yang pernah melakukan hunbungan layaknya suami istri di parkiran mobil Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar. Hal itu diungkapnya lantaran Uli merasa dikhianati cintanya oleh JPM.

Bahkan Uli pun mengaku sudah bertunangan dan hidup serumah dengan oknum jaksa itu selama sebulan di Makassar. Awalnya, JPM mengiming-imingi menikahi Uli, namun batal. JPM lebih memilih menikah dengan janda muda di Toraja, seorang Kadis Sosial di wilayah Toraja Utara.

Sebelumnya, pada tanggal 22 Juni 2018, JPM telah dilaporkan mantan tunangannya itu ke Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan terkait dugaan pelanggaran kode etik.

Namun, dalam prosesnya yang tengah berjalan, tiba-tiba laporan tersebut ditutup karena diduga ada oknum petinggi di institusi kejaksaan yang membekingi Kajari Tana Toraja.

Melansir pemberitaan pedomansulsel.com, Jan Samuel Maringka yang menjabat sebagai Jaksa Agung Muda Intelijen di Kejagung merupakan paman dari Kajari Tana Toraja. Jan Maringka sendiri pernah menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Sulawesi Selatan (Maret-November 2017).

Tak hanya itu, JPM juga diduga sering 'menutupi' sejumlah kasus korupsi di Tator dan dibiarkan mandek begitu saja.

Namun ketika hal ini dikonfirmasikan ke Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung (Kapuspenkum Kejagung) Hari Setiono, ia memilih tak banyak berkomentar.

“Saya check dulu berita ini,” ujarnya ketika dihubungi REQnews, Senin 13 Januari 2020.

Selanjutnya ketika ditanyakan untuk memastikan kebenaran soal hubungan kekerabatan JPM dan Jan Maringka, Hari memilih diam.

Sebelumnya mantan Ketua Komisi Kejaksaan, Halius Hosen mengatakan, untuk kasus demikian harus menjadi tugas dan tanggung jawab Jaksa Agung Muda Bidang Pengawasan (Jamwas) dan Komisi Kejaksaan (Komjak).

“Jamwas dan Komjak harus segera usut dengan tuntas dan segera,” katanya ketika dihubungi REQnews,.

Namun kata Halius, untuk membongkar skandal ini harus tetap mengedepankan azas praduga tidak bersalah.

“Oleh karena itu penalti untuk yang bersangkutan tergantung kepada hasil investigasi Lapdu Jamwas. Saran saya, Jamwas dan Komjak harus memprioritaskan untuk proses penegakan disiplinnya atas kasus ini,” ujarnya. (Binsasi)