Pakar: Pemerintah Jangan Pulangkan Anak-anak ISIS, Kalau Tak Penuhi 4 Kriteria ini  

Selasa, 11 Februari 2020 – 02:00 WIB

Ilustrasi ISIS (istimewa)

Ilustrasi ISIS (istimewa)

JAKARTA, REQnews – Mengenai pemulangan 600 ISIS eks WNI ke Indonesia, pakar hukum internasional Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana ikut berpendapat.

Ia mengatakan, bagi orang tua eks WNI yang tergabung ISIS, sudah jelas kewarganegaraan mereka gugur. Karenanya Pemerintah tidak mempunyai kewajiban untuk memberi perlindungan. Namun bagaimana dengan anak-anaknya?

Hikmahanto lalu menjelaskan, pertanyaan ini menyebul keluar lantaran mereka tidak bisa memilih, ketika orang tuanya memutuskan berbaiat kepada ISIS.

“(Tapi) kewarganegaraan Indonesianya akan hilang, bila mereka ikut dalam latihan militer ISIS di usia muda dan menjadi tentara. Atau mereka mengangkat sumpah untuk setia pada ISIS,” ujarnya dalam keterangan resminya, Senin 10 Februari 2020.

Ia pun berasumsi, selain tak ada pilihan lain, anak-anak tersebut bisa saja dipaksa, mengingat saat itu mereka berada ditempat-tempat yang dikuasai oleh ISIS.

“Bisa jadi atas alasan tersebut kewarganegaraan Indonesia mereka tidak hilang,” katanya.

Lalu apakah mereka berhak kembali ke Indomesia?

Kata Hikmahanto, untuk menjawab pertanyaan ini, pemerintah harus menseleksi secara ketat berdasarkan empat kriteria utama.

Pertama-tama, apakah mereka tidak terdoktrinasi dengan paham-paham ISIS? Mengingat mereka sejak usia belia telah terdoktrinasi, maka sangat besar kemungkinan akan membekas secara mendalam.

Kedua, harus dilakukan asesmen apakah anak tersebut bersedia dipisahkan dari orang tua dan memiliki keluarga di Indonesia.

Hikmahanto mengatakan, asesmen ini penting karena orang tua mereka jelas tidak mungkin kembali ke Indonesia. Sementara mereka perlu pendamping yang menggantikan orang tua.

“Dalam konteks ini penting bagi mereka untuk memahami mengapa mereka dipisahkan dari orang tua mereka,” ujarnya.

“Jangan sampai mereka menaruh dendam kepada pemerintah Indonesia yang seolah memisahkan dengan orang tua mereka. Bila ini terjadi bukannya tidak mungkin saat dewasa justru mereka akan memerangi pemerintah yang sah,” katanya lagi.

Ketiga, mereka harus dipastikan tidak dianggap oleh pemerintah Suriah atau Irak telah melakukan kejahatan, termasuk kejahatan terorisme berdasarkan hukum setempat.

“Terakhir, keinginan mereka kembali ke Indonesia adalah betul-betul ketulusan untuk hijrah dari ISIS. Oleh karenanya pemerintah tidak perlu menjemput mereka secara khusus untuk melakukan evakuasi,” ujarnya.

“Ini perlu dipastikan oleh pemerintah. Bila mereka hanya berpura-pura insyaf bukannya tidak mungkin justru mereka membangunkan sel-sel yang mungkin ada di Indonesia atau negara-negara sekitar,” katanya menambahkan.