Tips Pemulihan Aset Kasus Jiwasraya Ala Chuck Suryosumpeno

Sabtu, 15 Februari 2020 – 07:18 WIB

Chuck Suryosumpeno

Chuck Suryosumpeno

JAKARTA, REQnews - Kejaksaan Agung menyita sejumlah aset entitas usaha terhadap operasional perusahaan Emiten pertambangan batu bara PT Trada Alam Minera Tbk. (TRAM). Penyitaan itu dilakukan terkait kasus dugaan korupsi PT Asuransi Jiwasraya.

Menanggapi hal tersebut, Chuck Suryosumpeno pun mengusulkan agar program pemulihan asetnya juga dilakukan seiring dengan proses hukum yang saat ini sedang berjalan. "Dengan dilakukannya program pemulihan aset yang akuntabel, maka hak tersangka atas aset tersebut juga tidak terlanggar," kata Chuck saat ditemui redaksi di Rutan Cipinang, Jumat 14 Februari 2020.

Bahkan mantan Kepala Pusat Pemulihan Aset Kejagung ini pun mengimbau kepada para penyidik untuk berhati-hati dalam melakukan program pemulihan aset, terutama saat penyitaan.

Ia beralasan, karena pemulihan aset pada intinya tidak merusak bisnis di atas aset tersebut. "Patut digarisbawahi, bahwa nalar hukum seringkali bertentangan dengan nalar ekonomi, benturan kedua nalar ini akan bermuara pada asas keadilan," ujarnya.

Mantan jaksa yang pernah berprestasi memulihkan aset negara Rp 3,5 triliun ini menambahkan bahwa masih banyak cara asset management system yang bisa dilakukan. Sehingga aset nya tidak berpindah tangan dan bisnisnya tidak rusak.

"Kegaduhan atas proses penegakan hukum dapat dihindari dan perekonomian negara tidak menjadi pertaruhannya," kata dia.

Sebelumnya, dlam keterbukaan informasi, Direktur Trada Alam Minera Ismail menyampaikan Kejaksaan telah melakukan melakukan penyitaan terhadap entitas perusahaan, yakni PT Gunung Bara Utama (GBU) di Kutai Barat, Kalimantan Timur.

Kejagung melakukan penyitaan aset terhadap GBU karena diduga Komisaris Utama TRAM Heru Hidayat, merupakan pemilik TRAM sekaligus GBU.

“Tersangka Heru Hidayat per 31 Januari 2020 hanya memiliki saham TRAM sebesar 14,21 persen melalui PT Graha Resources. Heru juga bukan pemegang saham GBU,” kata dia, Kamis 13 Februari 2020. 

Pihaknya perlu menegaskan bahwa GBU merupakan perusahaan yang terafiliasi dengan TRAM. Trada Alam Minera sendiri merupakan perusahaan publik yang bertanggung jawab terhadap stake holder dan masyarakat.

Adapun, sejumlah aset GBU yang disita Kejagung adalah kendaraan operasional berupa mobil dan truk, fotokopi dokumen perusahaan, 1 unit kantor, 1 unit conveyor, serta 1 unit genset. 

“Terhadap aset yang dilakukan penyitaan oleh Kejagung, kami masih belum menentukan berapa nilai aset tersebut,” ujarnya.

Terkait dampak penyitaan aset, operasional kegiatan penambangan GBU terganggu. Namun demikian, perusahaan berusaha menjalankan kegiatan seperti biasa dan berusaha meredam gejolak akibat penyitaan.

Berdasarkan catatan, per Juli 2018 tambang GBU memiliki cadangan batu bara sebesar 65 juta ton. Produk yang dihasilkan termasuk kalori tinggi, sehingga cocok untuk pasar ekspor.