Beredar Video Hukuman Ferdian Paleka Cs, Pakar : Itu Abuse of Power

Sabtu, 09 Mei 2020 – 17:03 WIB

Polisi Publikasikan Video Hukuman Ferdian Paleka, Pakar : Itu Abuse of Power

Polisi Publikasikan Video Hukuman Ferdian Paleka, Pakar : Itu Abuse of Power

JAKARTA, REQnews - Mendadak viral potongan video soal hukuman YouTuber Ferdian Paleka bersama Tubagus Fahddinar dan Aidil. Ketiga anak muda ini bikin heboh gegara video prank 'makanan' sampah kepada waria beberapa waktu lalu.

Video ini ikut diposting pada akun instagram christian joshuapale. Dalam cuplikan video tersebut, kondisi Ferdian da dua temannya cukup menyedihkan. Rambut mereka sudah dicukur botak. Mereka terlihat menjalani serangkaian penyiksaan dari para tahanan. Mulai dari push up hingga sit up, cuma mengenakan celana dalam.

Namun belakangan postingan tersebut telah dihapus oleh sang pemilik akun.

Meski sudah dipindahkan sementara, namun tetap saja pihak kepolisian Satreskrim Polrestabes Bandung seolah-olah mengacuhkan dan lambat mengantisipasi tindakan perundungan ini. 

Pakar Hukum Pidana Universitas Trisakti Abdul Fickar Hadjar pun menanggapi kejadian ini. Ia mengatakan, seharusnya pihak kepolisian dalam konteks penegakan hukum pidana harus tetap berpijak pada UU KUHAP. Di mana sebagai penyelidik dan penyidik yang setelah mendapat Berita acara pemeriksaan (BAP) harus diserahkan kepada penuntut umum sebagai bentuk penerapan asas dominus litis.

Fickar pun mengatakan, polisi sebagai penyidik tidak punya kewenangan mengeksekusi hukuman, baik penyiksaan atau kekerasan terhadap fisik maupun psikis. Jika ini dilakukan maka telah terjadi abuse of power atau penyalahgunaan wewenang baik yang berakibat pelanggaran administratif maupun pidana. 

"Jadi jika belum ada putusan pengadilan, kekerasan apapun yang dilakukan polisi (atau di dalam tahanan) adalah pelanggaran hukum. Demikianlah juga jika benar terjadi kekerasan terhadap tersangka Ferdian Paleka, maka itu sudah jelas merupakan pelanggaran dengan perlakuan kekerasan main hakim sendiri," ujarnya kepada REQnews, Sabtu 9 Mei 2020.

Fickar pun menyarankan agar persoalan ini harus ada tindakan dari kepolisian sebagai lembaga maupun penegak hukum. Sebab tindakan melakukan kekerasan terhadap tersangka sudah melanggar asas praduga tak bersalah.

"Secara kelembagaan kepolisian (harus) bertanggung jawab. Dan secara pribadi polisinya harus diproses baik melalui Propam maupun secara pidana," katanya. (Binsasi)