Dukung Edo Kondologit, Pigai: Kami Ini Gorila, Tak Pernah Kalah Lindungi Bangsanya

Minggu, 30 Agustus 2020 – 22:00 WIB

Dukung Edo Kondologit, Pigai: Kami Ini Gorila, Tak Pernah Kalah Lindungi Bangsanya

Dukung Edo Kondologit, Pigai: Kami Ini Gorila, Tak Pernah Kalah Lindungi Bangsanya

JAKARTA, REQnews - Tokoh HAM Papua Natalius Pigai angkat bicara soal tewasnya ipar penyanyi Edo Kondologit, Riko. Ia pun mengutuk keras peristiwa yang terjadi di tahanan Polsek Sorong pada 30 Agustus 2020.

"Saya mengutuk keras tindakan biadab anggota Polisi yang membunuh adik Edo Kondolongit," kata mantan Komisioner Komnas HAM tersebut pada REQnews, Minggu 30 Agustus 2020.

Diketahui, Riko diduga tewas dianiaya sesama tahanan di Polsek Sorong. Menanggapi hal tersebut, Pigai pun menanyakan apa salah orang Papua kepada Presiden Joko Widodo.

"Saudara Jokowi apa salah kami orang Papua sehingga sejak anda jadi Presiden Kami selalu dibantai. Ini rasis dan terorisme negara di Papua," ujarnya.

Atas kejadian ini, Natalius Pigai mendukung Edo Kondologit untuk melawan ketidakadilan yang menimpa keluarganya. "Saudara Edo Kondolongit lawan saja ketidakadilan. Kami ini Gorila, hewan yang tidak akan pernah kalah melindungi bangsanya," kata dia.

Sebelumnya, kemarahan Edo Kondologit yang terekam video dan diposting akun Twitter Veronica Koman, @VeronicaKoman pada Minggu 30 Agustus 2020 menarik perhatian masyarakat. Edo murka disebabkan sang ipar tewas di tahanan Polres Sorong.

Polda Papua Barat pun dikabarkan langsung menerjunkan Propam untuk mengecek aduan itu. "Saya sudah turunkan tim dari Propam dan Dirkrimun untuk memeriksa secara komprehensif kasus itu. Kalau pun nanti kita temukan pelanggaran, karena ada versi berbeda yang saya dengar, kalau nanti ada pelanggaran maka kami akan tindak tegas petugas yang alpa dan lalai," kata Kapolda Papua Barat, Irjen Tornagogo Sihombing.

Pihaknya berjanji bakal menindak bila anak buahnya melakukan pelanggaran terkait SOP. "Intinya kami akan lakukan tindakan tegas kalau ada melakukan pelanggaran dan tidak sesuai SOP, ada jalurnya di Propam, bisa sanksi kode etik maupun disiplin," kata dia.

Terkait adanya beda versi cerita soal meninggalnya adik ipar Edo Kondologit, ia menegaskan tidak akan menutupi kasus ini. "Kalau benar mereka melakukan pelanggaran, marah juga saya. Intinya kalau proses hukumnya tidak sesuai aturan, kami akan tindak anggota tersebut," kata Tornagogo.

Mengutip video yang diposting akun Twitter Veronica Koman, @VeronicaKoman, tampak Edo Kondologit marah-marah. "Cukup sudah sandiwara di negeri ini, saya sudah sakit hati sekali ini, kita akan menuntut keadilan. Kita akan menuntut ke propam, polda, polsek semua," teriak Edo.

"Riko ini adalah korban dari sistem ya ambrol," kata Edo lagi.

Menanggpi video tersebut, Kapolres Sorong Kota AKBP Ary Nyoto Setiawan menjelaskan peristiwa itu bermula ketika polisi menerima laporan adanya seorang wanita paruh baya berinisial A (60) yang tewas di Pulau Doom, Papua Barat. A diperkosa, dibunuh, lalu ponselnya dicuri.

Setelah diselidiki, tersangka mengarah ke Riko. "Barang buktinya juga ada tuh TV, terus handphone (korban) lalu juga ada minuman keras yang didapatkan (di bawah kasur Riko)," ujar Ary kepada wartawan, Minggu 30 Agustus 2020

Usai diinterogasi, Riko mengakui perbuatannya. Pihak keluarga pun, kata Ary, menyetujui pemeriksaan terhadap Riko. Riko pun dibawa ke Polres Sorong.

Namun, saat diperiksa di Polres Sorong, Riko kabur. Dengan tangan terborgol, Riko menerjang kaca jendela kantor polisi untuk kabur. "Yang bersangkutan (Riko) lari dari ruang pemeriksaan keluar nabrak kaca di kantor kita sampai kantor kita pecah kacanya. Kemudian kita tangkap lah (Riko)," kata Ary.

Lalu, Riko dibawa ke mobil polisi. Namun, Riko kembali melakukan perlawanan hingga kakinya ditembak.

Ia kemudian dibawa ke rumah sakit untuk dirawat sementara. Setelahnya, Riko dijebloskan ke dalam sel Polres Sorong.

Di dalam sel itu lah, kata Ary, Riko mendapatkan penganiayaan. "Di dalam tahanan ini dia dianiaya oleh tahanan lain. Kenapa dianiaya? karena memang (tersangka) kasusnya pemerkosaan, dia bunuh mama-mama, itu pasti dianiaya sama teman-temannya," kata Ary.

Saat dicek, Riko sudah terkapar tak berdaya. Polisi langsung membawa Riko ke rumah sakit untuk yang kedua kalinya. "Begitu di rumah sakit, meninggal, dilakukan visum. Memang yang menyebabkan meninggalnya itu luka-luka di kepala, di benturan kepala. Karena kita lihat rekaman CCTV nya dia dianiaya, dipukulin sama tahanan yang lain," kata Ary.